Kemarin baru saja saya mendapatkan pinjaman buku “Menuju Manusia Merdeka”. Buku yang berisi tulisan Ki Hajar Dewantara tentang konsep pendidikan.

Hal ini mengingatkan lagi tentang video dari Bapak Tendy Naim di atas. Video yang berisi cerita beliau tentang pendidikan Indonesia di acara TEDx Bandung.

Yang paling menarik perhatian saya dari video tersebut adalah ketika Bapak Tendy Naim bertanya kepada salah satu penonton “waktu (kuliah) tingkat 1 dulu kalau ditanya ‘mau kerja dimana?’ udah tau belum mau kerja dimana?”

Mungkin memang ada beberapa teman yang ketika ditanya seperti itu sudah memiliki jawaban yang mantap. Tapi saya yakin akan jauh lebih banyak yang menjawab masih belum tahu. Pendidikan formal ya hanya sebatas formalitas aja beneran. Asal masuk aja dah, nanti kerja dimana ya urusan entar aja kalau udah lulus. Jadi pendidikan bukan menunjang apa yang kita inginkan, tapi memaksakan apa yang HARUS kita lakukan.

Bapak Tendy Naim juga menggarisbawahi bagaimana pendidikan Indonesia itu sudah lupa dengan dirinya sendiri. Kalau ditanya “Siapa Bapak Pendidikan Indonesia?” Pastiii semuanya hafal kalau jawabannya adalah Ki Hajar Dewantara. Tapi apakah kita tahu sebenarnya konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara itu apa sih? Ga pada tahu kan ya? Itulah yang membuat saya sangat ingin membaca buku dari Ki Hajar Dewantara.

Buku tersebut saya cari di toko buku maupun mencari online, namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya ada 1 teman yang memasang foto cover buku “Menuju Manusia Merdeka” di DP BBM nya. Saya langsung mengejar untuk meminjamnya. (hehehe makasih banget lohh buat Martalia Wahyu Sukmayanti).

Kalau ditanya “Siapa Bapak Pendidikan Indonesia?” Pastiii semuanya hafal kalau jawabannya adalah Ki Hajar Dewantara. Tapi apakah kita tahu sebenarnya konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara itu apa sih?

Saya sangat ingin tahu konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Konsep yang tidak hanya diakui di skala nasional, namun sudah diakui di tingkat internasional. Jika tidak percaya silahkan tonton saja video Bapak Tendy Naim di atas. Beliau akan bercerita bagaimana beliau disadarkan oleh professor pendidikan di Inggris bahwa Ki Hajar Dewantara sudah berbicara tentang apa yang Bapak Tendy Naim bicarakan di tahun 1941.

Kenapa sih saya pengen banget tahu tentang pendidikan ala Ki Hajar Dewantara? Karena saya yakin, semua masalah yang ada saat ini jika dicari akar masalahnya pasti ujung – ujungnya adalah pendidikan. Saya ingin tahu bagaimana pendidikan yang bagus, Setidaknya saya bisa memiliki ilmu tentang pendidikan yang berguna untuk keluarga saya. Pendidikan paling utama adalah di tingkat keluarga. Mumpung saya belum menjadi suami atau ayah, ya belajar teorinya dulu deh sekarang. Biar pas nanti udah kejadian sudah tahu apa yang akan dilakukan. Setidaknya secara teori dulu. Diri sayanya sendiri sih mungkin sudah terlambat mengetahui apa yang saya inginkan. (saya juga kondisinya seperti yang Pak Tendy Naim bahas kok). Oleh karena itu, saya sangat ingin merubah mindset yang ada saat ini tentang pemilihan masa depan diri sendiri. Inget loh HIDUP LO URUSAN LO, bukan urusan orang tua lo atau pasangan lo. Jadi yang harus menentukan masa depan adalah kita sendiri, jangan minta dipilihin orang lain.

Ya itulah latar belakang saya kenapa sangat bersemangat untuk mencari tahu tentang ilmu pendidikan. Mudah – mudahan saya bisa dapet banyak hal dari bukunya Ki Hajar Dewantara. Buat yang ingin diskusi tentang pendidikan boleh loh kita diskusi :D

Kembali lagi ah ke pertanyaan “Waktu tingkat 1 dulu udah tau mau kerja dimana?” Buat yang sudah terlanjur masuk ke 1 jurusan dan masih bingung ketika ditanyakan hal tersebut. Ya telat lebih baik daripada tidak sama sekali. Mulai deh mencari tahu tentang “jurusan gue itu prospeknya kemana ya?”, “Dari prospek itu ada yang gue minati ga ya?” Kalau ada yang minat ya kejar, kalau ga ada yang diminati ya silahkan buat keputusan sendiri, apakah mencari jurusan lain atau mencoba meminati bidang yang ada (risiko tanggung sendiri loh ya hehehe).

Jadi jangan sampai deh pas tingkat 1 ditanya gitu masih bingung, eh pas tingkat 2 masih bingung juga, tingkat 3 ga ada perkembangan. Tingkat 4 jawabannya “ah lagi sibuk TA gue, ntar aja deh gue mikirnya pas udah lulus”. Pas udah lulus, eh masih gatau juga minatnya apa. Kita merugi dong kalau begitu. Kan katanya kita merugi kalau “Hari esok tidak lebih baik dari hari ini”.

-bcl-