Notes ini juga diikutsertakan dalam lomba essay Panggung Rakyat. Semoga dapat menginspirasi.

————————————————————————————————————————————————-

Energi dan pangan adalah 2 hal utama yang dibutuhkan oleh manusia saat ini. Namun, 2 hal itu pula yang semakin sulit didapatkan di Negara Indonesia ini. Energi, yang sampai saat ini masih didominasi oleh bahan bakar minyak, semakin mahal dan langka untuk didapatkan. Persebaran yang tidak merata seolah – olah dimaklumi karena kita adalah negara kepulauan, sehingga sangat sulit dan mahal dalam hal pendistribusiannya. Bahan bakar minyak dengan mudah mampu didapatkan di kota besar, namun semakin jauh dari kota besar akan semakin sulit didapatkan. Hal itulah yang akan terus terjadi jika kita tidak mulai melirik potensi – potensi yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia.

Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam yang sangat berlimpah. Garis pantai sepanjang ±81.000 km, daratan seluas ±191 juta hektar, dan teritori laut seluas ±473 hektar menjadikan Indonesia adalah negara dengan kekayaan alam nomor 1 di dunia. Letak Indonesia yang berada di daerah tropis membuat negara ini mendapatkan sinar matahari dan curah hujan yang cukup sepanjang tahun. Tempat yang nyaman bagi makhluk hidup untuk berkembang biak di negara ini. Jangan heran jika keanekaragaman flora dan fauna negara ini pun sangat beragam. Tuhan sangat baik pada negara ini.

Lalu, kenapa masalah energi dan pangan dapat muncul di negeri ini? Mungkin negara ini sedang mengalami sebuah fenomena yang disebut paradoks keberlimpahan. Paradoks keberlimpahan adalah keadaan dimana suatu negara yang dianugerahi kekayaan alam hebat seringkali tak mampu mendayagunakan keberlimpahan itu untuk menjadikannya negara bangsa yang adidaya dan makmur sejahtera. Pembangunan dan kemajuannya malah tertinggal. Kekayaan alam berbeda dengan sumber daya alam. Sumber daya alam adalah kekayaan alam yang termanfaatkan atau terdayagunakan dengan baik. Kekayaan alam akan tetap menjadi kekayaan alam jika tidak ada yang mengolahnya.

Sedikit contoh tentang berlimpahnya kekayaan alam di Indonesia. Dewasa ini pengembangan biofuel semakin marak. Brazil, negara dengan kekayaan alam nomor 2 di dunia, adalah contoh negara yang berhasil dalam mengembangkan biofuel. Negara Indonesia sangat mungkin untuk bisa seperti Brazil. Indonesia kaya akan tumbuhan penghasil sumber biodiesel (bahan bakar pengganti solar) maupun bioethanol (bahan bakar pengganti bensin). Indonesia memiliki singkong, tebu, sorgum manis, nipah, sagu, ubi jalar, dan banyak jenis tanaman lain sebagai sumber bioethanol. Jarak, kelapa sawit, kelapa, kemiri sunan, kapas, kasumba, dan banyak lagi jenis tanaman yang merupakan sumber biodiesel. Namun, minyak – minyak nabati itu akan tetap ada pada tempatnya jika tidak ada yang mengambil. Kekayaan alam tidak akan berubah menjadi sumber daya alam dengan sendirinya jika tidak ada yang mengusahakan.

Masalah energi memang bukanlah masalah yang sederhana. Pengadaan energi sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah. Pengembangan biodiesel dan bioethanol memang tidak akan menyelesaikan masalah energi dalam waktu dekat. Masih dibutuhkan penelitian – penelitian lebih lanjut agar biodiesel ­­dan bioethanol ini dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti bahan bakar minyak. Namun, tidak ada salahnya pemuda – pemuda bangsa mengenal hasil – hasil alamnya sendiri agar tergerak keinginannya untuk memajukan negaranya dengan hasil alam yang ada di negaranya pula.

Tidak hanya energi, ketersediaan pangan pun seharusnya bukan menjadi masalah yang besar di negara ini. Sebagai contoh, Indonesia termasuk ke dalam 3 besar negara penghasil kakao di dunia. Namun, mengapa coklat yang terkenal adalah yang berasal dari Swiss. Semakin ironis ketika kenyataan mengatakan bahwa Swiss tidak memiliki tanaman kakao. Banyak lagi contoh tanaman yang sebenarnya memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk pangan. Mengapa kita terus memuja produk pangan rasa jeruk mandarin atau apel washington padahal tanaman itu tidak ada di negara ini? Mengapa tanaman yang ada di Indonesia seperti kesemek dan aren diacuhkan dan tidak dikembangkan? Ketika bangsa ini mulai senang makan mie instan yang bahan bakunya adalah gandum, mengapa tidak mencoba membuat mie instant yang berasal dari tepung singkong.

Bukan hanya itu saja potensi tanaman negara ini sebagai bahan pangan. Pewarna dan perasa alami makanan juga bisa didapatkan dari tanaman asli Indonesia. Survey membuktikan bahwa rasa yang paling disukai oleh masyarakat dunia adalah rasa vanilla. Tahukah bahwa perasa vanilla alami itu dapat dibuat dari tanaman cengkeh? Target produksi cengkeh Indonesia tahun 2011 adalah 80.000 ton. Sangat cukup untuk dikembangkan menjadi industri perasa vanilla. Tapi perasa vanilla itu akan tetap berada di dalam cengkeh sampai ada tangan – tangan kreatif yang mengambilnya.

Seperti telah disebutkan di atas, minyak – minyak nabati itu akan tetap berada di tempatnya sampai ada yang mengambil. Perasa vanilla itu akan terus berada di dalam cengkeh sampai ada yang mengambil. Apakah kita sendiri yang akan mengambilnya? Atau apakah kita akan menunggu sarjana – sarjana asal Jepang dan Amerika Serikat yang mengambil potensi – potensi itu? Tuhan sangat baik pada negara ini. Tuhan telah memberikan segalanya pada negara ini. Negara ini hanya perlu mengambil apa yang telah disediakan. Negara ini hanya perlu memikirkan bagaimana mengubah kekayaan alam menjadi sumber daya alam.

Bagaimana pemuda Indonesia? Siapkah kita memanfaatkan apa yang telah disediakan oleh Sang Pencipta? Semua itu ada dekat dengan kita. Semua itu ada di sekitar kita. Hal yang dibutuhkan adalah kearifan, kecerdikan, keuletan, kepintaran, dan budi pekerti. Negara ini adalah milik kita. Tidak ada orang lain lagi yang akan memikirkan kemajuan negara ini jika bukan kita.

 

Note : Sumber – sumber dari tulisan ini didapatkan dari kuliah Teknologi Kemurgi dan Industri Pangan oleh Dr. Tatang H. Soerawidjaja serta Pengembangan Produk Pangan oleh Dr. Yazid Bindar.