Archive for December, 2012

Melankolisasi Masalah


Hidup itu kadang – kadang bahagia, kadang – kadang sedih. Kadang – kadang ceria, kadang – kadang muram. Hal yang biasa lah itu. Hidup itu dinamis. Setiap orang pernah bahagia, pernah pula sedih. Kalau dipikir – pikir kegunaannya sama lah, sama – sama digunakan untuk mengeluarkan emosi yang sedang dirasakan oleh diri. Bahagia mengeluarkan emosi dalam diri dengan bibir tersenyum, raut muka terlihat antusias, bahkan kalau bahagianya berlebih bisa aja sampe loncat – loncat atau tertawa lepas. Sedih juga sama, itu gunanya untuk mengeluarkan emosi. Cuma caranya dengan lebih banyak diam, raut muka terlihat murung, dan bahkan sampai menangis tersedu – sedu.

Tapi, misal nih. Misal loh ya. Pada disuruh milih. “Oy, maunya sedih apa bahagia?”. Sangat yakin pasti bakal milih bahagia. Iyalah, kalau bisa bahagia ngapain sedih. Bahagia biasanya identik dengan kesenangan (bukan identik lagi ya. Sinonimnya itu mah. Hahaha. Maafkeun bahasa saya ya). Tapi kalau sedih biasanya identik dengan rasa sakit.

Pertanyaan berikutnya kan pasti “lah ya emang bisa milih?”. Jawaban saya “ya bisa lah. Hidup lo urusan lo ini”. Bisa loh kita seneng terus. Sedih itu bisa terjadi karena pas sedih kita sombong. Loh kok sombong? Iyalah pas sedih malah sombong nulis status di FB kalo lagi sedih. Ditambah dengan memutar lagu slow yang menyayat hati. Kalau boleh meminjam kata2 Rachman TK06 (kalau ga salah sih dia yang ngomong, tapi salah juga gapapa deng toh kayanya pada gatau ini dia siapa hehee), ini yang saya bilang dengan “me-melankolisasi masalah”.

Saya pernah membaca sebuah buku, disitu tertulis (saya lupa kata – kata pastinya, tapi pada intinya adalah sbb : ) “yang seru dari hidup itu adalah kita bisa merubah hidup kita hanya dengan merubah mindset”.

Yak betul . mindset. Sekali lagi mindset. Yak semuanya tergantung bagaimana kita men-set mind kita. Kalau udah begini saya jadi inget sama kata – kata terkenalnya barney stinson di serial TV How I  Met Your Mother

“WHEN I GET SAD, I STOP BEING SAD AND BE AWESOME INSTEAD”

Itu masalah mindset. Pas sedih ya jangan sedih. Paksa aja diri untuk bisa jadi bahagia.

Ya ngomong mah gampang. Ngomong aja gampang apalagi nulis doang. Nulis aja gampang apalagi ngetik doang. Ngetik aja gampang apalagi…  oke oke oke ngerti2. Heup cukup.

Boleh ya saya berbagi sedikit saran untuk bisa sedikit merubah mindset agar otak dan perasaan kita bisa lebih terbiasa untuk berpikir senang ketimbang sedih.

Saran nya sederhana aja sih. Hati – hati dengan apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan.

 

Yap, hati – hati terhadap apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan. Biasakanlah untuk mendengarkan lagu – lagu yang sifatnya ceria ketimbang lagu2 galau yang menyayat hati. Biasakanlah untuk menonton tayangan – tayangan menghibur dan membuat kita tertawa ketimbang film – film sedih yang membuat kita menangis.

“tapi, asik loh kalo lagi sedih dengerin lagu – lagu galau atau nonton film – film sedih. Setelahnya jadi lega aja gitu”. Ada yang bilang gitu. Banyak sih. Ketika kita sedih, dan malah kita sambut rasa sedih itu dengan lagu – lagu galau, maka sedihnya akan keenakan. Ntar dia bakal datang lagi dan lagi. Sedih itu datangnya dari perasaan. Ketika pancaindra kita menyambut ya kesenengan dah sedihnya.

Tapiii, misalnya si sedih itu datang dari perasaan. Pancaindra usahakan nolak. Pas lagi sedih nonton komedi gitu, ntar kan kita ketawa. Nah si sedih ini kan pundung ya ga diperhatiin, akhirnya pergi deh dia. Gajadi sedih deh akhirnya. Hehehe. Di handphone saya, saya menyimpan lagu – lagu the panasdalam, rekaman – rekaman komedi warkop DKI, dongeng – dongeng kang ibing. Ketika di kantor kerjaan menumpuk dan bikin stress, saya akan mendengarkan hal – hal yang membuat saya tertawa tersebut. Kerjaan tetep sih banyak. Tapi kerjaan tidak akan terasa terlalu berat karena perasaan dan otak kita akan fresh karena terbawa suasana ceria.

Kata – kata penutup, saya percaya sama yang namanya bahagia itu sederhana. Ya balik lagi tergantung mindset. Saran di atas Cuma saran sederhana aja sih. Cuma silahkan dicoba, rasakan perubahannya sebelum dan sesudahnya. Berbagi cerita aja, di suatu pelatihan pernah ditayangkan sebuah video. 2 orang wanita yang kembar identik, yang memiliki karakter dan selera yang nyaris sama diberi 2 perlakuan berbeda selama 1 hari. Orang pertama, kita sebut saja kembar 1, diberikan lagu – lagu bernuansa ceria. Diberikan tontonan film – film komedi. Sedangkan kembar 2 diberikan lagu – lagu bernuansa sedih, yang lirik – liriknya pun sedih, dan ditambah dengan tontonan – tontonan film – film sedih. Sore harinya, mereka dibawah ke pusat perbelanjaan. Maka, terlihat perbedaan dari 2 orang kembar identik itu. Kembar 1 jalan – jalan di pusat perbelanjaan tersebut dengan langkah yang ringan dan penuh semangat dan sangat ceria. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. Dia penuh semangat pergi dari 1 toko ke toko lain dan mencoba berbagai barang. Sedangkan kembar 2, terlihat sangat tidak bersemangat dalam berbelanja. Mukanya juga sangat tidak antusias. Inget ya point nya adalah mengenai keceriaan dan kesedihan. Ntar ada yang komen “wah mendingan dengerin lagu sedih dong, lebih hemat”. Please ya liat konteks nya hehehe. Intinya adalah, sebegitu besarnya loh pengaruh apa yang kita lihat, dengar, rasakan. Jadi sekali lagi hati – hatilah.

Bahagia itu sederhana. Tergantung pilihan tiap orang mau membiasakan bahagia atau tidak, toh “Hidup lo urusan lo” ini kan.

-bcl-

hidup adalah pilihan. trus?


Hidup adalah pilihan. Frase yang sudah sangat “biasa” didengar di kehidupan saat ini. Sejenak, jika didalami maka frase itu akan menghasilkan sebuah konsekuensi logis. Hidup adalah pilihan. Jadi, jika ingin hidup lebih baik maka harus memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan. Logis. Sangat logis.

Pilihan – pilihan hidup akan terus berdatangan. Mulai dari hal – hal kecil seperti “makan apa ya malam ini?” sampai ke hal – hal besar seperti “karir seperti apa yang akan saya tempuh?”. Jika tidak memiliki kemampuan menentukan pilihan yang cepat dan tepat, pilihan – pilihan itu akan terus berdatangan dan bukan tidak mungkin akan menghantui pikiran karena sulitnya kita menentukan pilihan.

Sayangnya, menentukan pilihan tidak semudah itu. Jika kita salah memilih makanan, maka kita akan sakit perut misalnya. Apalagi jika kita salah menentukan karir? Kita akan terus terombang – ambing dengan pertanyaan “untuk apa saya hidup?”, “apa yang saya sedang lakukan saat ini?”.

Sesuatu yang unik adalah, semakin meningkat kualitas hidup, maka pilihan – pilihan akan semakin banyak terhampar di hadapan. Kembali ke hal yang sederhana, Seseorang punya uang 50.000, tentu pilihan makanan dia akan semakin banyak jika dibandingkan dengan seseorang yang memiliki uang 10.000. Naik ke hal yang lebih tinggi lagi, seseorang dengan ijazah S1 tentu saja pilihan pekerjaannya akan semakin banyak dibandingkan seseorang dengan ijazah SMA.

Dari contoh di atas bisa disimpulkan bahwa untuk “mempermudah” hidup ada 2 cara. Kurangi pilihan dengan menurunkan kualitas hidup, atau belajar untuk terus mengembangkan diri agar sebanyak apapun pilihan yang tersedia, tidak akan membebani pikiran karena sudah tau mana pilihan yang tepat.

Pilihan pertama jelas sangat tidak disarankan. Itu hanya opsi untuk para pecundang yang tidak ada semangat untuk hidup. Pilihan kedua lah yang harus dipilih. Lebih sulit? Jelas. Lebih melelahkan? Jelas. Jika boleh berbagi saran, berikut adalah hal – hal yang jika dilakukan Insya Allah bisa meningkatkan kemampuan kita dalam menentukan pilihan.

1.     Kenal diri

Tidak banyak orang yang mengetahui “mau nya gue itu apa sih?”. Karena sudah dibiasakan untuk “disuapi”. Mari ditelaah pendidikan formal di negeri ini. Tempat dimana kita habiskan kira – kira sepertiga waktu kita setiap hari untuk mencari ilmu. Apakah pernah pendidikan formal itu pelajarannya menyesuaikan keinginan dari murid? No. Biasanya sudah ada jadwal pelajaran sehari – hari yang dibuat oleh guru – guru. Muridnya? Ya tinggal mengikuti saja.

Pelajaran yang dipelajari apakah murid yang memilih? Tidak juga. Pelajaran sudah ditentukan oleh kurikulum. Muridnya? Ya tinggal mengikuti saja.

Apakah saya menyuruh untuk memboikot pendidikan formal? Ya ndak lah. Lagian kalau saya suruh pun pasti tidak ada yang mau mengikuti. Maksudnya sadarkah bahwa pendidikan formal melemahkan dari segi inisiatif? Hal itulah yang membuat banyak orang sulit dalam menentukan pilihan. Dia tidak tahu apa yang dia inginkan/butuhkan karena sudah terbiasa “disediakan” oleh orang lain.

Mulai sekarang, cobalah sering – sering curhat kepada diri sendiri. Curhat di social media tidak dilarang, Cuma luangkanlah waktu sejenak untuk curhat kepada diri sendiri. Ketika akan tidur, matikan ponsel, laptop, tv, atau apapun yang dirasa akan mengganggu konsentrasi. Pejamkan mata, mulailah menanyakan hal – hal sederhana seperti :

“Hai apa kabar diriku?”

“Apa sih sebenarnya hal yang membuat kamu senang?”

“mmmm klo boleh nanya, cita – cita kamu apa sih? 10 – 20 tahun dari sekarang kamu pengen menjadi seperti apa sih?”

Dan pertanyaan – pertanyaan lain yang sifatnya curhat kepada diri sendiri. Cepat atau lambat pasti akan diketahui apa sih keinginanmu. Dan itu bisa jadi patokan dalam menentukan pilihan – pilihan dalam hidup

2.     Perluas wawasan

Menyambung dari point no 1, Sangat perlu untuk terus memperluas wawasan. Memperluas wawasan bisa dengan membaca buku dan diskusi. Dengan kata lain memperluas wawasan adalah dengan mendengarkan pendapat – pendapat dari pikiran orang lain. Kedua hal itu saat ini sudah mulai tidak popular di kalangan sebagian orang. Padahal dengan menambah wawasan, pemikiran kita akan berkembang dan membuat kita lebih cepat dalam menentukan pilihan karena kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk

Alasan – alasan yang biasanya muncul ketika saya menyarankan untuk membaca buku adalah “ah males baca buku, tebel”.  Sampai “lo nyaranin buku apa dulu? Klo bagus boleh lah dicoba. Klo jelek males gue”

Sedikit sharing tentang “buku apa yang bagus?”, bagus atau jelek adalah relatif. Bisa jadi menurut saya buku A bagus, tapi menurut B kurang bagus. Menurut saya, buku yang bagus adalah buku yang menyelesaikan masalah atau setidaknya memberikan opsi bagi masalah yang dihadapi seseorang. Jadi, punya masalah apa? Pergi ke toko buku, cari buku tentang masalahmu, Mulailah membaca.

Saya punya masalah dalam menentukan karir antara menjadi pengusaha atau menjadi motivator. Silahkan datang ke toko buku, pilih buku biografi seorang pengusaha dan seorang motivator. Baca buku tersebut, kelak anda akan mendapatkan pencerahan tentang kebimbangan anda.

Jadi ketika ada yang bertanya kepada saya “lo nyaranin buku apa?”.

Akan saya jawab “masalah lo apa?” (trus kita berantem)

Mengenai diskusi, saya senang berdiskusi. Saya sangat terbuka jika ada yang ingin berdiskusi tentang apapun.

Intinya, sering baca buku, sering diskusi. Perluas wawasan. Perluas pemikiran. Tentukan pilihan dengan mudah.

3.     Hilangkan kata “terserah”

Saya sangat benci kata ini. “Terserah”.  Karena dengan kata itu seolah kita melepas diri terhadap masalah tanpa menyelesaikannya tapi malah melimpahkan ke orang lain.

“Terserah” juga membuat kita tidak berpikir. Kalau ditanya, ga usah mikir, jawab aja “terserah”. Habis perkara.

“Terserah” sudah menjadi semacam kata refleks saat ini. Ketika ditanya sebuah pilihan biasanya kata “terserah” akan muncul pertama kali di pikiran kita secara refleks. Padahal kata itu tidak akan menambah kualitas diri kita, baik dari sisi mental maupun wawasan.

Maka saya mau mengajak kepada siapa saja yang membaca blog saya ini. Yuk ah kita kurangi malah kalau bisa hilangkan kata “terserah”. Ketika ditanya suatu pilihan apapun itu, sesulit apapun itu jangan gunakan kata “terserah”. Jika kita tidak tahu pilihan mana yang akan dipilih lebih baik diam dulu sejenak. Berpikir matang – matang mengenai pilihan itu. Lalu tentukan salah satu. Lebih sulit memang. Lebih mudah mengatakan “terserah” dan selesai. Masalah berpindah ke teman kita. Tapi percayalah itu akan melemahkan.

Dengan menghilangkan kata “terserah” kita akan terbiasa berpikir. Sehingga kata “terserah” tidak akan menjadi refleks kita lagi. Ketika menghadapi pilihan refleks kita adalah berpikir mana pilihan yang tepat.  Hal itu akan membuat kita semakin baik dalam membuat keputusan.

Yok mulai sekarang kita kurangi kata “terserah!!”. Mulai kapan? Ya terserah aja mau mulai kapan. Eh jangan deng. Mulai sekarang ya. Yuk Ah Bismillah.

Ya 3 itu saja dulu saran – saran dari saya. Kalau ada saran tambahan silahkan komen saja. Kalau mau diskusi silahkan hubungi saya saja. Mau email silahkan di satriyadi9@gmail.com.

Akhir tulisan saya mau kirim – kirim salam ah biar kaya di radio2. Nitip salam buat semua temen  – temen Tekim07, kamarana euy? Meni lupa sama sayah the :p.

Sama spesialnya buat pacar saya aja. Eh bukan pacar deng. Calon istri aja ah bilangnya, ya ga neng? Hehe.

Wassalam

-bcl-

%d bloggers like this: