Hidup adalah pilihan. Frase yang sudah sangat “biasa” didengar di kehidupan saat ini. Sejenak, jika didalami maka frase itu akan menghasilkan sebuah konsekuensi logis. Hidup adalah pilihan. Jadi, jika ingin hidup lebih baik maka harus memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan. Logis. Sangat logis.

Pilihan – pilihan hidup akan terus berdatangan. Mulai dari hal – hal kecil seperti “makan apa ya malam ini?” sampai ke hal – hal besar seperti “karir seperti apa yang akan saya tempuh?”. Jika tidak memiliki kemampuan menentukan pilihan yang cepat dan tepat, pilihan – pilihan itu akan terus berdatangan dan bukan tidak mungkin akan menghantui pikiran karena sulitnya kita menentukan pilihan.

Sayangnya, menentukan pilihan tidak semudah itu. Jika kita salah memilih makanan, maka kita akan sakit perut misalnya. Apalagi jika kita salah menentukan karir? Kita akan terus terombang – ambing dengan pertanyaan “untuk apa saya hidup?”, “apa yang saya sedang lakukan saat ini?”.

Sesuatu yang unik adalah, semakin meningkat kualitas hidup, maka pilihan – pilihan akan semakin banyak terhampar di hadapan. Kembali ke hal yang sederhana, Seseorang punya uang 50.000, tentu pilihan makanan dia akan semakin banyak jika dibandingkan dengan seseorang yang memiliki uang 10.000. Naik ke hal yang lebih tinggi lagi, seseorang dengan ijazah S1 tentu saja pilihan pekerjaannya akan semakin banyak dibandingkan seseorang dengan ijazah SMA.

Dari contoh di atas bisa disimpulkan bahwa untuk “mempermudah” hidup ada 2 cara. Kurangi pilihan dengan menurunkan kualitas hidup, atau belajar untuk terus mengembangkan diri agar sebanyak apapun pilihan yang tersedia, tidak akan membebani pikiran karena sudah tau mana pilihan yang tepat.

Pilihan pertama jelas sangat tidak disarankan. Itu hanya opsi untuk para pecundang yang tidak ada semangat untuk hidup. Pilihan kedua lah yang harus dipilih. Lebih sulit? Jelas. Lebih melelahkan? Jelas. Jika boleh berbagi saran, berikut adalah hal – hal yang jika dilakukan Insya Allah bisa meningkatkan kemampuan kita dalam menentukan pilihan.

1.     Kenal diri

Tidak banyak orang yang mengetahui “mau nya gue itu apa sih?”. Karena sudah dibiasakan untuk “disuapi”. Mari ditelaah pendidikan formal di negeri ini. Tempat dimana kita habiskan kira – kira sepertiga waktu kita setiap hari untuk mencari ilmu. Apakah pernah pendidikan formal itu pelajarannya menyesuaikan keinginan dari murid? No. Biasanya sudah ada jadwal pelajaran sehari – hari yang dibuat oleh guru – guru. Muridnya? Ya tinggal mengikuti saja.

Pelajaran yang dipelajari apakah murid yang memilih? Tidak juga. Pelajaran sudah ditentukan oleh kurikulum. Muridnya? Ya tinggal mengikuti saja.

Apakah saya menyuruh untuk memboikot pendidikan formal? Ya ndak lah. Lagian kalau saya suruh pun pasti tidak ada yang mau mengikuti. Maksudnya sadarkah bahwa pendidikan formal melemahkan dari segi inisiatif? Hal itulah yang membuat banyak orang sulit dalam menentukan pilihan. Dia tidak tahu apa yang dia inginkan/butuhkan karena sudah terbiasa “disediakan” oleh orang lain.

Mulai sekarang, cobalah sering – sering curhat kepada diri sendiri. Curhat di social media tidak dilarang, Cuma luangkanlah waktu sejenak untuk curhat kepada diri sendiri. Ketika akan tidur, matikan ponsel, laptop, tv, atau apapun yang dirasa akan mengganggu konsentrasi. Pejamkan mata, mulailah menanyakan hal – hal sederhana seperti :

“Hai apa kabar diriku?”

“Apa sih sebenarnya hal yang membuat kamu senang?”

“mmmm klo boleh nanya, cita – cita kamu apa sih? 10 – 20 tahun dari sekarang kamu pengen menjadi seperti apa sih?”

Dan pertanyaan – pertanyaan lain yang sifatnya curhat kepada diri sendiri. Cepat atau lambat pasti akan diketahui apa sih keinginanmu. Dan itu bisa jadi patokan dalam menentukan pilihan – pilihan dalam hidup

2.     Perluas wawasan

Menyambung dari point no 1, Sangat perlu untuk terus memperluas wawasan. Memperluas wawasan bisa dengan membaca buku dan diskusi. Dengan kata lain memperluas wawasan adalah dengan mendengarkan pendapat – pendapat dari pikiran orang lain. Kedua hal itu saat ini sudah mulai tidak popular di kalangan sebagian orang. Padahal dengan menambah wawasan, pemikiran kita akan berkembang dan membuat kita lebih cepat dalam menentukan pilihan karena kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk

Alasan – alasan yang biasanya muncul ketika saya menyarankan untuk membaca buku adalah “ah males baca buku, tebel”.  Sampai “lo nyaranin buku apa dulu? Klo bagus boleh lah dicoba. Klo jelek males gue”

Sedikit sharing tentang “buku apa yang bagus?”, bagus atau jelek adalah relatif. Bisa jadi menurut saya buku A bagus, tapi menurut B kurang bagus. Menurut saya, buku yang bagus adalah buku yang menyelesaikan masalah atau setidaknya memberikan opsi bagi masalah yang dihadapi seseorang. Jadi, punya masalah apa? Pergi ke toko buku, cari buku tentang masalahmu, Mulailah membaca.

Saya punya masalah dalam menentukan karir antara menjadi pengusaha atau menjadi motivator. Silahkan datang ke toko buku, pilih buku biografi seorang pengusaha dan seorang motivator. Baca buku tersebut, kelak anda akan mendapatkan pencerahan tentang kebimbangan anda.

Jadi ketika ada yang bertanya kepada saya “lo nyaranin buku apa?”.

Akan saya jawab “masalah lo apa?” (trus kita berantem)

Mengenai diskusi, saya senang berdiskusi. Saya sangat terbuka jika ada yang ingin berdiskusi tentang apapun.

Intinya, sering baca buku, sering diskusi. Perluas wawasan. Perluas pemikiran. Tentukan pilihan dengan mudah.

3.     Hilangkan kata “terserah”

Saya sangat benci kata ini. “Terserah”.  Karena dengan kata itu seolah kita melepas diri terhadap masalah tanpa menyelesaikannya tapi malah melimpahkan ke orang lain.

“Terserah” juga membuat kita tidak berpikir. Kalau ditanya, ga usah mikir, jawab aja “terserah”. Habis perkara.

“Terserah” sudah menjadi semacam kata refleks saat ini. Ketika ditanya sebuah pilihan biasanya kata “terserah” akan muncul pertama kali di pikiran kita secara refleks. Padahal kata itu tidak akan menambah kualitas diri kita, baik dari sisi mental maupun wawasan.

Maka saya mau mengajak kepada siapa saja yang membaca blog saya ini. Yuk ah kita kurangi malah kalau bisa hilangkan kata “terserah”. Ketika ditanya suatu pilihan apapun itu, sesulit apapun itu jangan gunakan kata “terserah”. Jika kita tidak tahu pilihan mana yang akan dipilih lebih baik diam dulu sejenak. Berpikir matang – matang mengenai pilihan itu. Lalu tentukan salah satu. Lebih sulit memang. Lebih mudah mengatakan “terserah” dan selesai. Masalah berpindah ke teman kita. Tapi percayalah itu akan melemahkan.

Dengan menghilangkan kata “terserah” kita akan terbiasa berpikir. Sehingga kata “terserah” tidak akan menjadi refleks kita lagi. Ketika menghadapi pilihan refleks kita adalah berpikir mana pilihan yang tepat.  Hal itu akan membuat kita semakin baik dalam membuat keputusan.

Yok mulai sekarang kita kurangi kata “terserah!!”. Mulai kapan? Ya terserah aja mau mulai kapan. Eh jangan deng. Mulai sekarang ya. Yuk Ah Bismillah.

Ya 3 itu saja dulu saran – saran dari saya. Kalau ada saran tambahan silahkan komen saja. Kalau mau diskusi silahkan hubungi saya saja. Mau email silahkan di satriyadi9@gmail.com.

Akhir tulisan saya mau kirim – kirim salam ah biar kaya di radio2. Nitip salam buat semua temen  – temen Tekim07, kamarana euy? Meni lupa sama sayah the :p.

Sama spesialnya buat pacar saya aja. Eh bukan pacar deng. Calon istri aja ah bilangnya, ya ga neng? Hehe.

Wassalam

-bcl-