Hidup itu kadang – kadang bahagia, kadang – kadang sedih. Kadang – kadang ceria, kadang – kadang muram. Hal yang biasa lah itu. Hidup itu dinamis. Setiap orang pernah bahagia, pernah pula sedih. Kalau dipikir – pikir kegunaannya sama lah, sama – sama digunakan untuk mengeluarkan emosi yang sedang dirasakan oleh diri. Bahagia mengeluarkan emosi dalam diri dengan bibir tersenyum, raut muka terlihat antusias, bahkan kalau bahagianya berlebih bisa aja sampe loncat – loncat atau tertawa lepas. Sedih juga sama, itu gunanya untuk mengeluarkan emosi. Cuma caranya dengan lebih banyak diam, raut muka terlihat murung, dan bahkan sampai menangis tersedu – sedu.

Tapi, misal nih. Misal loh ya. Pada disuruh milih. “Oy, maunya sedih apa bahagia?”. Sangat yakin pasti bakal milih bahagia. Iyalah, kalau bisa bahagia ngapain sedih. Bahagia biasanya identik dengan kesenangan (bukan identik lagi ya. Sinonimnya itu mah. Hahaha. Maafkeun bahasa saya ya). Tapi kalau sedih biasanya identik dengan rasa sakit.

Pertanyaan berikutnya kan pasti “lah ya emang bisa milih?”. Jawaban saya “ya bisa lah. Hidup lo urusan lo ini”. Bisa loh kita seneng terus. Sedih itu bisa terjadi karena pas sedih kita sombong. Loh kok sombong? Iyalah pas sedih malah sombong nulis status di FB kalo lagi sedih. Ditambah dengan memutar lagu slow yang menyayat hati. Kalau boleh meminjam kata2 Rachman TK06 (kalau ga salah sih dia yang ngomong, tapi salah juga gapapa deng toh kayanya pada gatau ini dia siapa hehee), ini yang saya bilang dengan “me-melankolisasi masalah”.

Saya pernah membaca sebuah buku, disitu tertulis (saya lupa kata – kata pastinya, tapi pada intinya adalah sbb : ) “yang seru dari hidup itu adalah kita bisa merubah hidup kita hanya dengan merubah mindset”.

Yak betul . mindset. Sekali lagi mindset. Yak semuanya tergantung bagaimana kita men-set mind kita. Kalau udah begini saya jadi inget sama kata – kata terkenalnya barney stinson di serial TV How I  Met Your Mother

“WHEN I GET SAD, I STOP BEING SAD AND BE AWESOME INSTEAD”

Itu masalah mindset. Pas sedih ya jangan sedih. Paksa aja diri untuk bisa jadi bahagia.

Ya ngomong mah gampang. Ngomong aja gampang apalagi nulis doang. Nulis aja gampang apalagi ngetik doang. Ngetik aja gampang apalagi…  oke oke oke ngerti2. Heup cukup.

Boleh ya saya berbagi sedikit saran untuk bisa sedikit merubah mindset agar otak dan perasaan kita bisa lebih terbiasa untuk berpikir senang ketimbang sedih.

Saran nya sederhana aja sih. Hati – hati dengan apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan.

 

Yap, hati – hati terhadap apa yang kamu lihat, dengar, dan rasakan. Biasakanlah untuk mendengarkan lagu – lagu yang sifatnya ceria ketimbang lagu2 galau yang menyayat hati. Biasakanlah untuk menonton tayangan – tayangan menghibur dan membuat kita tertawa ketimbang film – film sedih yang membuat kita menangis.

“tapi, asik loh kalo lagi sedih dengerin lagu – lagu galau atau nonton film – film sedih. Setelahnya jadi lega aja gitu”. Ada yang bilang gitu. Banyak sih. Ketika kita sedih, dan malah kita sambut rasa sedih itu dengan lagu – lagu galau, maka sedihnya akan keenakan. Ntar dia bakal datang lagi dan lagi. Sedih itu datangnya dari perasaan. Ketika pancaindra kita menyambut ya kesenengan dah sedihnya.

Tapiii, misalnya si sedih itu datang dari perasaan. Pancaindra usahakan nolak. Pas lagi sedih nonton komedi gitu, ntar kan kita ketawa. Nah si sedih ini kan pundung ya ga diperhatiin, akhirnya pergi deh dia. Gajadi sedih deh akhirnya. Hehehe. Di handphone saya, saya menyimpan lagu – lagu the panasdalam, rekaman – rekaman komedi warkop DKI, dongeng – dongeng kang ibing. Ketika di kantor kerjaan menumpuk dan bikin stress, saya akan mendengarkan hal – hal yang membuat saya tertawa tersebut. Kerjaan tetep sih banyak. Tapi kerjaan tidak akan terasa terlalu berat karena perasaan dan otak kita akan fresh karena terbawa suasana ceria.

Kata – kata penutup, saya percaya sama yang namanya bahagia itu sederhana. Ya balik lagi tergantung mindset. Saran di atas Cuma saran sederhana aja sih. Cuma silahkan dicoba, rasakan perubahannya sebelum dan sesudahnya. Berbagi cerita aja, di suatu pelatihan pernah ditayangkan sebuah video. 2 orang wanita yang kembar identik, yang memiliki karakter dan selera yang nyaris sama diberi 2 perlakuan berbeda selama 1 hari. Orang pertama, kita sebut saja kembar 1, diberikan lagu – lagu bernuansa ceria. Diberikan tontonan film – film komedi. Sedangkan kembar 2 diberikan lagu – lagu bernuansa sedih, yang lirik – liriknya pun sedih, dan ditambah dengan tontonan – tontonan film – film sedih. Sore harinya, mereka dibawah ke pusat perbelanjaan. Maka, terlihat perbedaan dari 2 orang kembar identik itu. Kembar 1 jalan – jalan di pusat perbelanjaan tersebut dengan langkah yang ringan dan penuh semangat dan sangat ceria. Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. Dia penuh semangat pergi dari 1 toko ke toko lain dan mencoba berbagai barang. Sedangkan kembar 2, terlihat sangat tidak bersemangat dalam berbelanja. Mukanya juga sangat tidak antusias. Inget ya point nya adalah mengenai keceriaan dan kesedihan. Ntar ada yang komen “wah mendingan dengerin lagu sedih dong, lebih hemat”. Please ya liat konteks nya hehehe. Intinya adalah, sebegitu besarnya loh pengaruh apa yang kita lihat, dengar, rasakan. Jadi sekali lagi hati – hatilah.

Bahagia itu sederhana. Tergantung pilihan tiap orang mau membiasakan bahagia atau tidak, toh “Hidup lo urusan lo” ini kan.

-bcl-