Archive for January, 2013

Mudahnya mengeluh


Hal yang paling mudah dilakukan oleh manusia adalah mengeluh. Eh kedua termudah deng setelah meninggalkan solat.

Waktu kecil kita udah biasa mengeluh untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ngeluhnya gimana? Dengan cara menangis. Laper? nangis aja, nanti ibu kita pasti bawain makanan. Mau beli mainan? Nangis aja. Pasti orang tua akan mengusahakan dapet mainan itu.

Sampai akhirnya semakin lama semakin dewasa kita terbiasa untuk mengeluh. Ya cara ngeluhnya beda sih. Kalau dulu menangis, kalau sekarang meratapi nasib yang tidak sesuai harapan. Tujuannya tetep sama. Berharap ada orang yang kasihan dan memberikan apa yang kita minta. Kalau masih kecil sih iya orang tua akan kasihan dan memberikan yang kita mau. Kalau udah gede?

Apalagi jaman social media sekarang ya. Makin gampang deh yang namanya mengeluh. Ditambah lagi kata “galau” seolah – olah jadi hal yang biasa. Beuh makin gawat deh. Jadi harus makin waspada kita sama sesuatu yang kita ucapkan, dengarkan, atau yang dijadikan status. Apakah itu keluhan? Atau bukan.

Jangan mengeluh. 80% orang kepada siapa anda mengeluh tidak peduli, sedangkan 20% lainnya senang anda menghadapi masalah -Lou Holtz-

Kalau kita mengeluh sama orang lain. Pilihannya cuma 2 kok. Orang itu akan tidak peduli atau malah senang kita dapet masalah. Bukan mau suudzan atau ga percaya sama sesuatu yang namanya sahabat. Tapi pasti balik lagi ke kata – kata “hidup lo urusan lo”. Kalaupun terjadi apa – apa sama kita, teman kita mungkin hanya bisa membantu dalam hal memberi saran atau simpati.

Jadi sudahlah. Kurangi yuk itu yang namanya mengeluh. Ga ada gunanya kok ngeluh. Merugikan baik untuk diri sendiri atau orang lain.

Buat orang lain pasti “irritating” lah kalau kitanya ngeluh terus. Pilihannya bisa dia jadi ikut – ikutan ngeluh, atau dengerin tapi dalam hatinya bilang “duhhhh ini kapan sih selesai ceritanya. Manja bgt jadi orang”.

Coba deh kita inget2 lagi pas temen kita ngeluh. Malesin kan?

Tapi yang paling parah itu dampaknya buat diri sendiri. Semakin kita mengeluh maka akan semakin memupuk pemikiran – pemikiran negatif Di otak kita. Jadi terbiasa ngeluh. Trus kalau ada sesuatu yang terjadi secara refleks kita akan berpikir negatif dulu ketimbang berpikir positif. Bahaya buat mental dan mindset kita.

Terus gimana biar ga gampang ngeluh? Mmmm di tulisan berikutnya aja yaaa. Yang penting disini sama – sama menyadari aja dulu yuk kalau kita memang suka mengeluh. Introspeksi gitu bahasa kerennya. Hehee. (padahal biar besok tahu bakal nulis apa :p )

-bcl-

Advertisements

Bahagia dalam Bekerja


Mau berbagi lagi 1 video yang menunjukkan bahwa happiness at work itu sangat penting.

Kenapa?

Karena dengan bekerja secara bahagia akan meningkatkan produktivitas kerja. Jauh lebih besar ketimbang Training your time, better to-do-list, structured calendar, atau prioritizing your task. Dengan bahagia akan ada antusiasme dalam bekerja. Kalau udah antusias mah kita bakal memberikan 100 persen diri kita lah buat kerjaan.

Paling benar memang kita dari awal memilih pekerjaan yang kita senangi. Kita pilih – pilih dulu kerjaan yang sesuai bidang yang kita inginkan, baru apply ke perusahaan tersebut. Jangan deh “asal apply entar siapa yang duluan manggil”. Masa depan kok di-lotere kan seperti itu.

Tapi gimana dong kalau sudah terlanjur? Gimana caranya biar bisa bahagia?

Dalam video tersebut, Ibu Eileen mengatakan 3 hal :

1. Bahagia itu sederhana
2. Bahagia itu sudah ada di dalam darah kita
3. Mulailah dari sekarang

Lihatlah poin kedua. “Bahagia itu sudah ada di dalam darah kita”. Jadi tinggal manggil aja kok tuh si “bahagia”. tinggal mengubah mindset aja. Setiap hal itu pasti ada sisi positif dan negatifnya lah ya. Kita harus selalu mencari sisi positif dari kerjaan kita saat ini.

Contoh. Lagi dapet kerjaan banyak. Kita bisa mengeluh karena kerjaan banyak atau kita bisa berpikir banyak pelajaran yang bisa diambil. Atau itu berarti kita sangat dipercaya oleh atasan kita untuk mengerjakan banyak pekerjaan.

Gampang – gampang susah kok mengubah menjadi berpikir positif. Ibarat menggeser “saklar” otak kita. Untuk yang terbiasa berpikir positif tentu saja mudah untuk menggeser saklarnya. Namun, untuk yang belum terbiasa tentu akan sulit. Tapi tidak ada salahnya untuk dicoba. Hidup adalah proses. Lama kelamaan juga akan terbiasa berpikir positif.

Atau cara yang lebih hebat adalah dengan mengubah mindset tujuan kita dalam bekerja. Mari kita coba untuk menganggap bekerja adalah ibadah? “ah udah tau kali”. Ya secara slogan mungkin kita sering mendengarnya. Tapi apakah iya sudah kita laksanakan secara mindset? Dengan berpikir bekerja adalah ibadah, maka kita akan lebih ikhlas dalam bekerja. Mau ada atasan atau tidak, kita akan tetap bekerja dengan sebaik- baiknya. Banyak atau tidaknya kerjaan atau bonus yang diterima tidak akan terlalu dirisaukan karena kita tahu rezeki sudah ada yang mengatur. Yang paling penting, kita akan jauh dengan sesuatu yang bernama “mengeluh”, hati akan jadi lebih sehat pikiran pun lebih tenang.

Yuk mari sama – sama mencoba mengubah mindset. Baik mindset selalu berpikir positif atau mindset untuk menganggap bekerja adalah ibadah.

-bcl-

Konsep Ki Hajar, ada yang tau?


Kemarin baru saja saya mendapatkan pinjaman buku “Menuju Manusia Merdeka”. Buku yang berisi tulisan Ki Hajar Dewantara tentang konsep pendidikan.

Hal ini mengingatkan lagi tentang video dari Bapak Tendy Naim di atas. Video yang berisi cerita beliau tentang pendidikan Indonesia di acara TEDx Bandung.

Yang paling menarik perhatian saya dari video tersebut adalah ketika Bapak Tendy Naim bertanya kepada salah satu penonton “waktu (kuliah) tingkat 1 dulu kalau ditanya ‘mau kerja dimana?’ udah tau belum mau kerja dimana?”

Mungkin memang ada beberapa teman yang ketika ditanya seperti itu sudah memiliki jawaban yang mantap. Tapi saya yakin akan jauh lebih banyak yang menjawab masih belum tahu. Pendidikan formal ya hanya sebatas formalitas aja beneran. Asal masuk aja dah, nanti kerja dimana ya urusan entar aja kalau udah lulus. Jadi pendidikan bukan menunjang apa yang kita inginkan, tapi memaksakan apa yang HARUS kita lakukan.

Bapak Tendy Naim juga menggarisbawahi bagaimana pendidikan Indonesia itu sudah lupa dengan dirinya sendiri. Kalau ditanya “Siapa Bapak Pendidikan Indonesia?” Pastiii semuanya hafal kalau jawabannya adalah Ki Hajar Dewantara. Tapi apakah kita tahu sebenarnya konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara itu apa sih? Ga pada tahu kan ya? Itulah yang membuat saya sangat ingin membaca buku dari Ki Hajar Dewantara.

Buku tersebut saya cari di toko buku maupun mencari online, namun hasilnya nihil. Sampai akhirnya ada 1 teman yang memasang foto cover buku “Menuju Manusia Merdeka” di DP BBM nya. Saya langsung mengejar untuk meminjamnya. (hehehe makasih banget lohh buat Martalia Wahyu Sukmayanti).

Kalau ditanya “Siapa Bapak Pendidikan Indonesia?” Pastiii semuanya hafal kalau jawabannya adalah Ki Hajar Dewantara. Tapi apakah kita tahu sebenarnya konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara itu apa sih?

Saya sangat ingin tahu konsep pendidikan dari Ki Hajar Dewantara. Konsep yang tidak hanya diakui di skala nasional, namun sudah diakui di tingkat internasional. Jika tidak percaya silahkan tonton saja video Bapak Tendy Naim di atas. Beliau akan bercerita bagaimana beliau disadarkan oleh professor pendidikan di Inggris bahwa Ki Hajar Dewantara sudah berbicara tentang apa yang Bapak Tendy Naim bicarakan di tahun 1941.

Kenapa sih saya pengen banget tahu tentang pendidikan ala Ki Hajar Dewantara? Karena saya yakin, semua masalah yang ada saat ini jika dicari akar masalahnya pasti ujung – ujungnya adalah pendidikan. Saya ingin tahu bagaimana pendidikan yang bagus, Setidaknya saya bisa memiliki ilmu tentang pendidikan yang berguna untuk keluarga saya. Pendidikan paling utama adalah di tingkat keluarga. Mumpung saya belum menjadi suami atau ayah, ya belajar teorinya dulu deh sekarang. Biar pas nanti udah kejadian sudah tahu apa yang akan dilakukan. Setidaknya secara teori dulu. Diri sayanya sendiri sih mungkin sudah terlambat mengetahui apa yang saya inginkan. (saya juga kondisinya seperti yang Pak Tendy Naim bahas kok). Oleh karena itu, saya sangat ingin merubah mindset yang ada saat ini tentang pemilihan masa depan diri sendiri. Inget loh HIDUP LO URUSAN LO, bukan urusan orang tua lo atau pasangan lo. Jadi yang harus menentukan masa depan adalah kita sendiri, jangan minta dipilihin orang lain.

Ya itulah latar belakang saya kenapa sangat bersemangat untuk mencari tahu tentang ilmu pendidikan. Mudah – mudahan saya bisa dapet banyak hal dari bukunya Ki Hajar Dewantara. Buat yang ingin diskusi tentang pendidikan boleh loh kita diskusi 😀

Kembali lagi ah ke pertanyaan “Waktu tingkat 1 dulu udah tau mau kerja dimana?” Buat yang sudah terlanjur masuk ke 1 jurusan dan masih bingung ketika ditanyakan hal tersebut. Ya telat lebih baik daripada tidak sama sekali. Mulai deh mencari tahu tentang “jurusan gue itu prospeknya kemana ya?”, “Dari prospek itu ada yang gue minati ga ya?” Kalau ada yang minat ya kejar, kalau ga ada yang diminati ya silahkan buat keputusan sendiri, apakah mencari jurusan lain atau mencoba meminati bidang yang ada (risiko tanggung sendiri loh ya hehehe).

Jadi jangan sampai deh pas tingkat 1 ditanya gitu masih bingung, eh pas tingkat 2 masih bingung juga, tingkat 3 ga ada perkembangan. Tingkat 4 jawabannya “ah lagi sibuk TA gue, ntar aja deh gue mikirnya pas udah lulus”. Pas udah lulus, eh masih gatau juga minatnya apa. Kita merugi dong kalau begitu. Kan katanya kita merugi kalau “Hari esok tidak lebih baik dari hari ini”.

-bcl-

Sakinah Mawaddah Warahmah


Familiar sekali tentunya ya kata – kata di atas. Apalagi buat umur – umur saya gini ya. Disaat banyak sekali teman – teman yang melangkah menuju kehidupan yang baru. 

“Selamat yaaa. semoga jadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah yaaa”

Kata – kata di atas hampir jadi semacam template ucapan untuk pasangan yang baru menikah. 

Saya sempat bertanya – tanya apa sih arti sakinah mawaddah warahmah? Pentingkah saya tahu artinya? Penting dooong. Masa kita mendoakan teman tapi kita sendiri gatau apa yang menjadi doa kita.

Setelah googling dan melihat video ceramah dari Kang Ibing, Mulai agak tercerahkan tentang sakinah mawaddah warahmah ini. 

Sakinah, walaupun disebutkan pertama, tapi ini adalah hasil yang didapat jika telah tercapai dua kata setelahnya, yaitu mawaddah dan warahmah. Sakinah itu bisa diartikan sebagai rasa nyaman dan tentram dalam berkeluarga. Hmmmmm yaa (mungkin) intinya selalu inget sama yang di rumah. Bawaannya pengen pulang cepet – cepet aja kali ya. Terus kalau di rumah bahagia dan tentram selalu. Dan ini bertahan terus loh, bukan cuma di awal – awal nikah aja.

Nah, sakinah itu adalah hasil dari adanya mawaddah dan warahmah.

Apakah mawaddah itu? Mawaddah itu adalah kecintaan yang timbul karena fisik. Pria senang melihat istrinya yang cantik. Wanita pun senang melihat suaminya yang tampan. Hal ini membuktikan bahwa faktor fisik juga sangat penting loh dalam hubungan. Jadi jangan mengesampingkan faktor fisik juga. Loh ga adil dong buat yang jelek? Tenang Allah tetep maha adil kok. Dia ciptakan kriteria yang berbeda – beda untuk kadar cantik dan tampan setiap orang. 

Nah masih tentang mawaddah. Kang Ibing menyoroti adanya kekeliruan dalam mindset berpikir para wanita dan pria dewasa ini. Banyak pria dan wanita yang berdandan secantik mungkin agar terlihat tampan dan cantik. Untuk siapa? Untuk dilihat rekan kerja di kantor, teman – teman kuliah, atau masyarakat umum lainnya. Intinya bukan untuk suami atau istri di rumah. Ketika sampai di rumah? berpakaian saja sekadarnya. Wanita memakai daster saja, itupun yang itu – itu saja. Bagaimana bisa membuat para suami betah di rumah? Sedangkan saingannya adalah para teman kantor atau rekan bisnis yang berdandan gila – gilaan tadi. Yang ada suami malah betah di kantor daripada di rumah hehe.

Namun, namanya fisik ya. Pasti seiring dengan jalannya waktu akan menurun kualitasnya. Semakin tua kulit akan semakin keriput. Badan yang dulu tegap dan gagah lama – lama akan terlihat melemah. Kalau sudah begini, yang namanya mawaddah saja tidak cukup. Perlu diikat dengan sesuatu bernama rahmah (kata wa di depan rahmah adalah “dan” sehingga lebih dikenal sebagai warahmah).

Nah, dari googling dan nonton videonya kang ibing, rahmah inilah yang biasanya kita sebut sebagai kasih sayang. Suatu hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata – kata. Sesuatu yang mengikat sepasang suami-istri agar saling ingat satu sama lain. Sesuatu yang menimbulkan kesan romantis setiap mengingat pasangan. Ah, itu hanya pendapat saya saja. Saya tidak mau berpanjang lebar deh. Nampaknya belum berhak saya membicarakan tentang kasih sayang pasangan hehe.

Rahmah bisa terjadi karena saking lamanya hubungan suami-istri itu terjalin. Jadi buat kita – kita yang masih pacaran gini, jangan sok-sokan dulu deh ngomong kasih sayang. Belum teruji. Nanti kalau sudah menikah dan bisa bertahan lama baru deh bisa ngomong tentang rahmah. 

Masih ingat kata – kata kang ibing di video :

Ciri – ciri kalau pria udah rahmah sama istri, pria mah pasti takut sama istri. Bukan takut dipukulin atau apa, tapi takut kehilangan cintanya. Kang Ibing mah dimusuhin 1000 koboi juga ga takut, tapi dimusuhin anak istri kepikiran terus. 

Nah, jadi suami mah pada dasarnya memang takut istri. Takut kehilangan cintanya istri. Tapi bukan berarti saking takutnya sampai apa – apa dikendalikan istri. Itu sih yang saya tangkep dari Kang Ibing. 

Sakinah mawaddah warahmah. Udah mulai kebayang belom? Intinya memang ujung – ujungnya adalah kebahagiaan dan ketentraman dalam ber-rumah tangga. Tapi dengan kita tahu sekarang tentang makna sakinah mawaddah warahmah ini, doa kita kepada teman kita yang menikah akan semakin detail. Kita mendoakan teman kita untuk :

  1. Saling bersoleklah hanya kepada pasangan masing – masing
  2. Saling memberikan kasih sayang kepada masing – masing
  3. Semoga diberi ketentraman dan kebahagiaan dalam berumah-tangga.

—————————————————————————————————————-

Dalam tulisan ini mungkin saya belum berkompeten dalam bercerita tentang sakinah mawaddah dan warahmah itu sendiri. Tapi pesan tersembunyi dari tulisan ini adalah mari kita berpikir sejenak. Apakah kita benar – benar paham dan mengerti apa yang kita ucapkan. Atau selama ini kita hanya mengikuti “trend”. Karena orang – orang selalu bilang “semoga sakinah mawaddah warahmah” lantas kita pun mengikutinya tanpa kita tahu apa yang kita doakan.

Bukan hanya untuk pernikahan, tapi berlaku juga untuk ulang tahun, wisuda atau momen – momen lain. Agar doa yang kita salurkan benar – benar mengena dan bisa dikabulkan oleh Tuhan.

-bcl-

 

Berbeda pendapat


image

Apa yang teman – teman lihat dari gambar di atas?

Ada yang bilang kumpulan bunga tulip berwarna kuning?

Ada yang bilang kumpulan bunga tulip berwarna merah?

Atau ada yang bilang sebuah kincir angin dan kebun bunga tulip?

Kira – kira mana yang benar? Pernyataan 1, 2,  atau 3?

Sepakat ga kalau disebut bahwa ketiga pernyataan itu benar? Benar dong ketiganya. Kan apa yang disebut oleh ketiga pendapat itu memang ada di dalam gambar.

Nah contoh simple di atas menunjukkan yang namanya perbedaan pendapat itu adalah hal yang biasa. Perbedaan pendapat bisa terjadi karena perbedaan sudut pandang dalam melihat Sesuatu.

Ketiga pendapat di awal tulisan tadi tentulah benar. Karena saya tidak men-spesifik-kan objek mana yang akan dibahas, maka pendapat akan meluas seperti contoh di atas. Ada yang Tertarik dengan bunga, maka itu yang akan dibicarakan. Ada yang suka dengan kincir angin, maka itulah yang akan dibahas.

Jika saja saya spesifikkan “bagaimana pendapat teman – teman tentang bunga tulip berwarna kuning yang ada di gambar?” apakah lantas semua akan berpikiran sama?

Tentu saja perbedaan pendapat pasti ada. Ada yang berpendapat tentang bentuknya, warnanya, atau (mungkin kebetulan ada anak biologi) tentang nama latinnya. Namun perbedaan pendapat tidak akan keluar dari bunga tulip sebagai objek pembahasan. Lebih terfokus.

Seringkali dalam diskusi kita bersikukuh pendapat kita adalah benar dan pendapat teman kita tidak benar. Berhati – hatilah, siapa tahu keduanya benar hanya sudut pandang yang digunakan berbeda. Justru perbedaan pendapat jangan digunakan sebagai ajang pertarungan untuk menentukan siapa yang lebih pintar. Pendapat teman yang berbeda siapa tahu malah akan menambah pengetahuan kita terhadap objek yang didiskusikan.

Dalam diskusi, yang penting adalah bagaimana kita meluruskan topik yang dibahas. Bagaimana menyamakan persepsi tentang masalah yang dibahas agar tidak melebar topik yang dibicarakan.

Dalam diskusi harus diketahui dulu masalah yang akan dibahas apa. Masalah sudah didapat maka samakanlah persepsi peserta diskusi untuk tidak berpendapat diluar masalah yang dibahas. Karena kecenderungan manusia itu kan pengen eksis ya. Makanya terkadang ada yang berpikir asal ngomong aja dah yang penting tampil. Apalagi kalau udah pake kata – kata keren yang membingungkan peserta rapat. Padahal setelah dia selesai berbicara, tidak ada dampak bagi diskusi yang berlangsung.

Contoh paling gress deh. Tweet nya farhat abbas buat ahok. Asalnya ngomongin plat nomor tapi kok jadi bawa – bawa cina. Kan ga nyambung. Tapi ya tujuannya kan emang bukan ngomenin platnya ya. Tujuan dia mah kan buat eksis aja makanya nyerang ahok yang udah terkenal.

Mau contoh lain? Coba aja cek tweet – tweet atau pendapat kita yang membalas tweet farhat buat ahok. Pasti melebar jadi bawa2 kehidupan pribadinya farhat, ga nyambung dari yang awalnya ngomenin tweet buat ahok. hehehe.

Makanya sering loh selesai rapat berlangsung tapi pesertanya malah bilang “terus abis ini kita ngapain sih?”. Itu bisa terjadi karena waktu rapat habis oleh orang – orang seperti saya sebutkan sebelumnya. Makanya akhirnya banyak orang yang udah males duluan sama yang namanya rapat. Kalau saya pribadi rapat itu penting. Sangat penting. Karena disitulah berbagai pihak terkait bertemu dan saling mengutarakan pendapatnya. Jadi biar sama – sama paham pandangan masing – masing.

Sikap kita terhadap perbedaan pendapat juga bukan cuma guna buat rapat. Dalam setiap komunikasi pasti ada kemungkinan untuk berbeda pendapat. Nah kalau kita sadar yang namanya berbeda pendapat itu biasa, kita ga akan kelamaan berdebat panjang. Pasti akan cepat berdiskusi ke arah mencari solusi. Dalam hal apapun. Mau itu diskusi sama temen kuliah, keluarga, pasangan, atau siapapun. Kalau udah begitu Insya Allah kita akan menjadi pribadi yang semakin positif karena setiap komunikasi, setiap perbedaan pendapat akan semakin menambah sudut pandang kita dalam melihat sesuatu.

-bcl-

STMJ


Ada yang tau kepanjangan STMJ?

Susu Telor Madu Jahe. Itu versi asli

Solat Terus Maksiat Jalan. Nah itu yang mau saya tulis kali ini.

Tapi saya ga akan terlalu jauh ngomong tentang maksiatnya. Bisi sayanya juga masih begitu, ga enak juga nanti terkesan munafik.

Intinya saya mau berbicara tentang adanya jarak antara ibadah yang dilakukan dengan kegiatan sehari – hari kita.

Bapak – bapak tersangka korupsi yang suka muncul di tv itu pastilah punya agama. Dan saya juga yakin kok mereka masih menjalankan ritual agamanya. Yang muslim pasti masih solat. Yang kristen pasti tiap minggu masih ke gereja. Yakin saya mah mereka masih punya agama.

Kejauhan contohnya? Oke sekarang liat kegiatan sehari – hari kita aja deh ya. Pasti masih ada deh dari beberapa pembaca yang percaya ramalan bintang. Atau sekarang ramalan bintang udah ketinggalan jaman ya? Hehehe.

Hal kecil kaya buang sampah sembarangan, nerobos lampu merah, nyontek waktu ujian itu juga sebenarnya bertolak belakang dengan ibadah. Kalau misalnya kepergok kan alesannya paling kita dengan santai ngomong “ah yang lain juga gitu”. Bukan karena ada aturan yang membolehkan. Itu berlawanan dengan ibadah, tapi kok kita lakukan tanpa rasa bersalah>

Ada suatu jarak antara ritual ibadah yang kita lakukan dengan kegiatan sehari – hari kita. Kadang ibadah hanya dianggap sebagai ritual yang harus dilakukan. Setelah itu yaudah kembali ke kehidupan nyata. Apa ya kira – kira alasannya? Pernah saya kepikiran dan memikirkan hal ini. Dan menurut saya, untuk mengurangi (kalau tidak bisa dibilang menghilangkan) jarak antara ibadah dan kegiatan sehari – hari.

Ada suatu jarak antara ritual ibadah yang kita lakukan dengan kegiatan sehari – hari kita. Kadang ibadah hanya dianggap sebagai ritual yang harus dilakukan.

Kita memisahkan antara ibadah dengan kehidupan sehari – hari adalah karena kita tidak tahu apa yang kita ucapkan selama beribadah. Kalau kata bahasa sunda nya mah cuma “apal cangkem” aja. Cuma sebatas “pokoknya kalau sujud baca ini”, “setelah shalat membaca ini” dsb. Ga cuma yang berbahasa non-indonesia loh. Kadang yang berbahasa Indonesia pun kita hanya hafal saja. Tidak mendalami apa yang diucapkan. Sama seperti dalam pelajaran geografi. Kita cuma diberi hafalan “Indonesia itu negara yang kaya akan budaya dan alamnya”. Udah jadi kalau ada yang nanya “apa pendapat kalian tentang Indonesia?” serius pasti hampir semua orang Indonesia akan menjawab itu. Tapi pas ngomong itu, ga ada rasa merinding atau deg – degannya. Karena ya cuma sampe mulut doang ga sampe hati.

Sama seperti dalam pelajaran geografi. Kita cuma diberi hafalan “Indonesia itu negara yang kaya akan budaya dan alamnya”. Udah jadi kalau ada yang nanya “apa pendapat kalian tentang Indonesia?” serius pasti hampir semua orang Indonesia akan menjawab itu. Tapi pas ngomong itu, ga ada rasa merinding atau deg – degannya. Karena ya cuma sampe mulut doang ga sampe hati.

Kembali ke masalah ibadah dan kenyataan. Contoh sekarang buat muslim ya, teknis soalnya hehehe. Kita solat 5x sehari. Membaca Al-fatihah 17x sehari. Tapi apakah kita tau artinya? Tahukah kita apa yang kita janjikan sama Allah?

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Pemilik hari pembalasan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(yaitu) jalan orang – orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Nah. Contoh deh. Kita 17x sehari (itu baru wajib, belom kalau rajin solat sunnah) bilang “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”. Tapi kenapa masih pada galau seolah ga punya pegangan. Allah mah sayang kok sama kita. Gagal ujian, nilai jelek, ada masalah di kantor. Itu mah musibah. Dan inget tulisan saya tentang SIAP MENGHADAPI MUSIBAH? Bukan karena Allah ga sayang, justru karena Allah sayang dengan mengingatkan bahwa kita berdosa atau sedang ngasih ujian kita buat naik kelas.

“Pemilik hari pembalasan”. Nah kan, apa yang kita lakukan itu pasti dibalas sama Allah. Kok masih buang sampah sembarangan, nyontek, korupsi, dsb. Pas di dunia sih lolos. Tapi yang di kiri kita kan nyatet 😀

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah” tapi kok percaya ramalan bintang. Kok percaya ada “kaos keberuntungan” atau barang lain yang membawa keberuntungan?

Saya pernah mendengar kalau Al-Fatihah itu adalah intisari dari Al-Quran. Kalau kita telaah lagi kata per kata dan kalimat per kalimat pasti kita setuju sama hal itu. Memahami Al-Quran itu wajib. Tapi dengan semakin jarang bangetnya kita buka Al-Quran (jleb. Yes offense buat lo col), ya pelan – pelan lah. Berproses bareng – bareng aja kita. Awal – awal coba resapi dulu kalimat per kalimat di Al-Fatihah tadi. Terus kita bayangin “oh kalau lagi baca ayat ini itu artinya kita lagi berbicara ini”. Nah pas solat konsentrasi sambil bayangin kita sedang janji sama Allah. Pasti bakal beda. Dan lama – lama pasti akan tertanam dalam keseharian kita “wah kalau gue gini Allah tau”.

Eh tapi jangan solat pake Bahasa Indonesia ya. Atau pake 2 bahasa. Nanti kaya aliran sesat dulu itu. Apa ya lupa saya namanya. Ibarat ngomong bahasa Inggris sama temen aja. Pas bilang “how are you?” di dalem hati dan pikiram kita sadar kalau kita bilang “apa kabar?”. Al-Fatihah aja dulu deh.

Tulisan ini ga untuk menggurui kok. Berjuta jleb juga menohok saya pas nulis ini. Mudah – mudahan banyak ya yang tertohok. Kita berproses bareng. Kita sadari bareng – bareng masalahnya dimana biar kita tahu apa yang harus diubah. Supaya kita jadi pribadi yang lebih baik di mata orang lain ataupun di penilaian Allah.

-bcl-

Konsep Refreshing


Waktu jadi mahasiswa pengen cepet lulus. Eh pas udah lulus malah pengen jadi mahasiswa lagi.

Yang lagi s2 ngeliat temennya kerja kepikiran pengen kerja juga. Eh ternyata yang kerja malah bilang “ah enakan lo kali s2”.

Yang kerja di prusahaan A sirik sama yang kerja di perusahaan B karena gajinya gede. Eh yang kerja di perusahaan B malah pengen kerja di perusahaan A karena lebih santai.

Banyak yang bilang inilah sifat manusia yang tidak pernah bersyukur. Tapi saya lebih senang menyebut fenomena ini sebagai “konsep refreshing”.

Manusia itu pasti dikasih rasa bosan. Apalagi sama yang namanya rutinitas. Oleh karena itu manusia butuh yang namanya refreshing. Ketika rasa bosan itu sudah muncul dan membuat produktivitas menurun, itulah saatnya kita butuh refreshing.

Perusahaan – perusahaan pun menaruh perhatian dalam hal ini. Makanya mereka memberikan hal cuti kepada pekerjanya. Jumlah cuti pun berbeda – beda. Tergantung tingkat stress dari pekerjaan tersebut. Makin tinggi tingkat stressnya, makin banyak pula hak cutinya. Pernah denger kan ya ada orang yang kerjanya 2 minggu kerja, 2 minggu libur? Jangan bilang enak dulu. Itu berarti tingkat stress di kerjaannya tinggi banget.

Penentuan jumlah cuti itu ada ilmunya loh. Untuk yang lebih detailnya mungkin yang kuliah di jurusan psikologi ada ya ilmunya. Tapi jangan salah, saya yang latar belakangnya teknik pun dapet loh ilmunya. Dan yang hebat, nama mata pelajarannya adalah “safety”. Keselamatan. Ada ya semboyan “safety is number one”. Jadi jangan meremehkan deh sama yang namanya refreshing atau cuti. Gunakanlah cutimu secara bijak. Kalau udah penat banget cuti aja langsung. Jangan dikumpul2in sambil kitanya stress terus.

Yang namanya refreshing itu juga ga harus mahal lah. Refreshing itu kan me-refresh otak kita biar fresh lagi. Biar seger lagi. Untuk itu kita harus melakukan hal yang membuat kita bahagia. Inget ya yang membuat kita bahagia itu adalah melakukan pleasure atau memberi meaning.

Kalau ada yang suka jalan – jalan ya refreshing lah dengan jalan – jalan. Jangan gara – gara ada yang bilang “eh nonton film anu bisa bikin fresh loh” trus ikut nonton. Jadinya malah ga menikmati. Jadi untuk refreshing tanya lagi ke diri sendiri hal – hal pleasure apa yang membuat kita happy.

Tapiiii ingett. Walaupun refreshing itu hal yang manusiawi, tapi tetep ya namanya refreshing. Cuma sesekali aja. Jangan manja deh. Stress dikit ngeluh butuh jalan – jalan. Kerjaan banyak dikit bawaan pengen belanja – belanja. Ayolahhh hidup kan kudu semangat juga. Inget refreshing itu sekali – kali aja.

Walaupun refreshing itu hal yang manusiawi, tapi tetep ya namanya refreshing. Cuma sesekali aja. Jangan manja deh. Stress dikit ngeluh butuh jalan – jalan.

Bedakan juga ya sama “senin syndrome” hehe. Kalau udah senin bawaannya stress trus bilang “aduh aku butuh refreshing”. Itu mah mending tanya lagi sama diri sendiri apakah kerjaan yang sekarang memang sesuai apa yang kalian mau? Apa udah sesuai dengan bidang yang disukai? Kalau bukan ya jangan nyalahin kerjaannya yang banyak. Itu mah ya kitanya we yang nyari kerjanya “asal diterima” hehehe.

Rutinitas memang membosankan. Tapi itulah yang utama. Yang namanya refreshing sekali – kali. Makanya kenapa hari kerja itu ada 5 sedangkan hari libur ada 2 dalam 1 minggu karena kita harus lebih banyak kerja daripada libur. Percaya deh, kalaupun dikasih libur terus paling senengnya di 2 hari awal. Seterusnya mah bingung mau ngapain. Malah bosen jadinya. Bawaannya pengen cepet masuk kerja atau kuliah aja hehehe. Bukan ga bersyukur dikasih libur. Tapi memang itulah konsep dari refreshing.

Ini pendapat saya tentang konsep refreshing. Saya terbuka untuk diskusi untuk memperdalam pengetahuan saya 🙂

-bcl-

%d bloggers like this: