Kecewa.

Sebuah kondisi dimana semua orang pasti ingin menghindarinya. Tapi pasti semua orang pernah kecewa. Yang berbeda adalah bagaimana menyikapi kekecewaannya. Apakah dia menikmati kekecewaannya? atau malah sebaliknya, ingin segera melepaskan kekecewaan itu untuk bangkit menjadi lebih baik.

Secara logika, kecewa terjadi ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

Pengen makan bakso, eh tukang baksonya ga jualan….kecewa

Pengen masuk sekolah favorit, eh ternyata ga masuk….kecewa

Pengen TimNas Indonesia Juara Piala AFF, eh ternyata ga juara….kecewa

Pengen bisa jadi suami si A, eh si A nya nikah sama yang lain….kecewa

Banyak lah contoh – contoh kekecewaan yang lain, yang pada intinya adalah ketika harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

Terus apakah kecewa itu salah?

Sebagai seorang manusia, tentu saja hal kecewa adalah hal yang manusiawi. Manusia diciptakan memiliki nafsu. Nafsu untuk memiliki, nafsu untuk mengejar apa yang menjadi keinginannya. Masalahnya tidak setiap keinginan itu tercapai. Kecewa lantas menjadi hal yang lumrah.

Nah masalahnya adalah, mau se-kecewa apapun, hasil tidak akan berubah toh. Waktu terbuang hanya untuk mengutuk hasil yang tidak sesuai dengan yang diimpikan. Secara mental pun tidak akan menguatkan pribadi kita, malah sebaliknya akan melemahkan mental.

Apakah dengan kecewa mendalam lantas tukang bakso akan jualan? Tidak

Apakah dengan kecewa mendalam tiba – tiba sekolah favorit akan menerima? Tidak

Apakah dengan kecewa mendalam timnas akan langsung juara Piala AFF? Tidak mungkin.

Apakah dengan kecewa mendalam si A akan langsung menikahi anda? Tidak lah ya.

Itulah, kalau kecewa ya jangan lama – lama. Tidak akan merubah apapun. Dunia akan tetap berputar, Sementara kita bersedih – sedih, teman – teman kita yang lain di luar sana sedang terus mengembangkan diri. Akibatnya kita akan semakin tertinggal dengan teman – teman yang lain.

Nah sekarang bisa ga sih kalo misalnya kita kecewa ga lama – lama amat?

Bisa dooong. Kan tidak ada  yang tidak mungkin. Caranya?  ya harus dibiasakan. Intinya ada di mindset sih. Ya kembali ke mindset. Inget kan “Kita bisa merubah hidup kita hanya dengan merubah mindset”.

Kang pidi baiq pernah melontarkan ide yang namanya “pesimis positif”. Kang pidi mencontohkan, misal kita mau nembak cewe. Yakinkan diri kita kalau cewe itu bakal nolak kita. Positifnya adalah kita tetap menyatakan cinta kita. Pesimisnya ya itu kita yakin bakal ditolak. Nah, pas kita nembak ternyata beneran ditolak yaudah kita kan udah siap. Tapi kalau misalnya diterima? Yaaa seneng lah, kok bingung hehe.

Inti dari ilmunya kang pidi baiq adalah bagaimana kita menyiapkan diri kita untuk kemungkinan terburuk. Jadi ketika udah sepakat bahwa pengertian kecewa adalah “Ketika harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan”, bukan berarti biar kita ga kecewa adalah dengan merendahkan harapan kita. Ya itu solusi juga sih, tapi itu solusi yang akan menyebabkan masalah – masalah lain yang jauh lebih besar. Hidup itu dimulai dari mimpi dan harapan. Dari mimpi dan harapan akan terumuskan rencana – rencana untuk mencapai tujuan hidup kita. Tanpa mimpi dan harapan ya ga akan seru hidup kita. Kita ga akan punya tujuan yang dicapai. Akhirnya hidup Cuma buat nunggu mati. Gamau kan?

Sekali lagi, bukan merendahkan harapan, tapi menyiapkan mental untuk kemungkinan terburuk. Ini yang saya sebut “USAHAKAN YANG TERBAIK, PERSIAPKAN YANG TERBURUK”. Dalam hal apapun lakukan yang terbaik yang kita bisa. Tapi sambil menyiapkan kemungkinan untuk yang terburuk. Jadi ketika yang terburuk terjadi, sedih sih tetep sedih, kecewa tetep kecewa, tapi ga akan lama – lama sedih dan kecewanya. Me-melankolisasi masalahnya ga akan lama – lama. Kenapa? Karena Itu hanya akan melemahkan mental.

Wah balik lagi nih ke me-melankolisasi masalah. Nah, biar ga sering me-melankolisasi masalah inget harus apa? Harus hati – hati terhadap apa yang kita lihat, dengar, rasakan. Jangan sering – sering denger, lihat, rasakan yang galau – galau. Yang ceria – ceria aja. Biar kita terbiasa untuk ga sedih – sedih amat. Nanti kita akan terbiasa juga untuk senantiasa “mempersiapkan yang terburuk”.

USAHAKAN YANG TERBAIK, PERSIAPKAN YANG TERBURUK. Usahakn sekuat tenaga kita melakukan yang terbaik, persiapkan mental kita untuk yang terburuk. Kalau di bagian USAHAKAN YANG TERBAIK nya mah ga usah dibahas lah ya. Pokoknya apapun do the best, do the best, do the best. Yang sulit biasanya kan di PERSIAPKAN YANG TERBURUK nya.

Cara paling ampuh itu harus inget sama isi Surat di Al-Qur’an. Maaf saya lupa surat dan ayat berapa dan kalimat pastinya bagaimana, pokoknya yang intinya begini “Yang menurutmu baik bagimu bisa saja buruk bagimu, dan yang menurutmu buruk bagimu bisa saja adalah yang terbaik bagimu”. Yak, Tuhan lah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Kita harus kembali lagi mempercayai keberadaan Yang Maha Kuasa.

Percaya sama keberadaan Tuhan? Yakin Tuhan itu ada? Nah kalau begitu percaya dong apapun yang terjadi kepada kita adalah Yang Terbaik bagi kita yang sudah ditentukan oleh Tuhan? Cukuplah kalimat – kalimat di atas sebagai faktor pendorong. Jika kita kecewa dengan amat sangat, hingga tidak menerima keadaan kita, Itu pertanda kita tidak percaya Tuhan. Dan apa hukuman bagi orang yang tidak percaya Tuhan? Tidak perlu saya jawab. Biar dijawab oleh hati masing – masing.

Usaha maksimal, setelah itu hasilnya serahkan kepada Yang Di Atas. Sering – seringlah berdoa meminta yang terbaik. Setelah kita benar – benar sudah melakukan yang terbaik. Pasrahkan hasilnya pada Tuhan. Jika tidak sesuai tetaplah tersenyum karena itu pasti jalan yang terbaik yang diberikan Tuhan. Sedih silahkan, tapi jangan lama – lama, 1 hari cukup lah ya. Setelah itu bounce back. Siap untuk melanjutkan hidup dengan lebih baik. Kekecewaan yang kemarin hanyalah “makanan” yang akan membuat pribadi kita semakin kuat menghadapi hidup J

Sekali lagi, saya ingin berbagi prinsip hidup. Inilah prinsip hidup saya.

USAHAKAN YANG TERBAIK, PERSIAPKAN YANG TERBURUK

-bcl-