Tulisan kali ini membahas tentang musibah. Mmmm mau berbagi pendapat tentang bagaimana menyikapi musibah. Tentunya sekali lagi ini mah pendapat pribadi saya. Kalau ada yang kurang berkenan mari berdiskusi.

Dalam sebuah ceramah alm. kang ibing yang saya download via youtube, beliau mengatakan “musibah itu terjadi karena 2 alasan. Yang pertama musibah terjadi sebagai ujian dari Tuhan. Yang kedua musibah terjadi karena kesalahan kita sendiri. Misal lagi jalan terus kesandung. Salah kita sendiri kenapa ga hati2”.

kalau pengen tau tentang musibah tentu saja kita harus tau dlu apa dan kenapa musibah itu ada. Waduh kalau ngomongin definisi musibah bisa panjang nih nyari kata2 tepat yang diterima semua orang. Ya saya asumsikan pada paham lah ya musibah itu apa. Dan pasti pernah merasakan yang namanya musibah.

Musibah pasti bakal menimpa semua orang. Makanya ga usah panjang – panjang bahas definisi ya. Tulisan ini mau fokus ke arah bagaimana sikap kita dalam menghadapi musibah.

Seperti udah dibaca di atas tadi. Musibah terjadi karena 2 alasan. Yang pertama nih, sebagai ujian keimanan kita sama Tuhan. Ibarat anak sekolah kalau mau naik dari smp ke sma kan ada ujiannya dulu. Kalau lulus ya naik, kalau ga lulus ya belajar lagi untuk ujian berikutnya (kita kesampingkan dulu ya permasalahan ujian nasional harus dihapuskan atau tidak. Bukan itu topiknya hehe).

Karena namanya kita hidup itu kan untuk beribadah kepada Tuhan. Masuk akal dong kalau Tuhan pengen “ngetes” makhluk-Nya apakah benar – benar taat atau tidak. Dan karena Tuhan yang bikin pasti “soal” ujiannya ga perlu diperdebatkan deh. Sudah sesuai dengan porsi kemampuan setiap orang. Jadi ga usah dibahas deh ujiannya sesuai apa engga. Tinggal dijalani dengan sabar dan usaha sungguh2 biar lulus ujian.

Nah yang kedua nih. Musibah datang karena kita sendiri. Kalau jalan kesandung ya salah sendiri ga hati – hati apalagi kalau jalannya sambil liat hp. Itu musibah yang kecil. Yang sakitnya ga seberapa. Gimana kalau yang skalanya lebih besar. Misalnya kecelakaan trus masuk rumah sakit. Nah coba inget2 dulu dalam waktu dekat pernah berbuat dosa ga? Atau di cek lagi hartanya dapet dari cara yang halal ga? Kalau udah halal, udah dibersihin belum hartanya dengan berzakat? Kok sampai2 hartanya diambil sama Tuhan dengan cara diberi celaka.

Seringnya kita kalau kena musibah itu langsung lari ke hal teknisnya. “wah kemaren gue nabrak gara2 ngantuk nih. Gara2nya ngerjain tugas kuliah nih”. Yak, ngantuk dan banyak tugas biasanya yang dijadikan kambing hitam. Ya itu memang benar sih. Secara langsung itu yang menyebabkan kecelakaan. Tapi tidak banyak yang lantas introspeksi apakah selama ini dia berbuat dosa atau tidak. Celaka bisa karena itu peringatan Tuhan “hei kamu sudah berbuat dosa tapi ga nyadar”. Tuhan itu baik selalu mengingatkan, lah kalau ga diingatkan bikin dosa terus. Nanti timbangan dosanya lebih berat daripada timbangan pahala.

Saya rangkum lagi nih dari penjelasan tentang 2 alasan adanya musibah tadi. Jadi sebenarnya adanya musibah itu alasannya positif loh dua2nya. Ketika dapat musibah, sikap kita yang harus dilakukan adalah sabar dan introspeksi kira2 apakah pernah melakukan dosa? Atau yaaa apa pernah kita ninggalin ibadah? Kalau iya, berterimakasih sama Tuhan sudah diingatkan. Kalau ternyata dirasa tidak ada dosa yang dilakukan ya tidak ada salahnya tetap minta ampun takutnya ada dosa yang tidak kita sengaja. Dan setelah itu anggap saja itu sebagai ujian peningkatan iman kita. Artinya apa? Allah sudah merasa kita siap untuk naik ke tingkatan berikutnya. Hadapi dengan senyum dan antusias🙂. Tetap happy di segala suasana. Siap?

-bcl-