Salah satu berita yang lagi panas sekarang itu adalah tentang pemerkosaan. Di luar negeri, tepatnya di india terjadi peristiwa pemerkosaan sadis terhadap seorang wanita yang menyebabkan kematian. Di dalam negeri ada peristiwa pemerkosaan terhadap anak kelas 5 sd.

Kalau kita sebagai orang luar pasti reaksinya adalah :

“ih dimana sih otaknya tuh orang!”
“biadab! Sadis!”

Daaan kalimat – kalimat umpatan lainnya.

Kalau saya pribadi. Pendapat saya loh ya. Ya memang bener sih. Sadis pisan eta mah. Ngebayanginnya aja saya ngeri.

Tapi bukan itu pokok diskusi tulisan ini. Mengenai hasil akhirnya sepakat lah semua itu perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan. Tapi saya ingin berpendapat tentang proses kok bisa terjadinya.

Saya pribadi berpikir si tersangka tidak berniat dari awal untuk memperkosa orang. Menurut saya, mereka tidak keluar rumah dengan rencana “eh merkosa orang yu”.

Menurut saya tidak. Keinginan memperkosa mereka pasti timbul sesaat setelah melihat korban (alm.). Ketika melihat kecantikan si korban langsung terbersit pikiran jahat “wah cantik juga. Gimana kalau kita perkosa?”

Pertanyaannya. Ketika kita ada di posisi tersangka apakah kita akan berpikir hal yang sama?

Semua boleh punya jawaban masing – masing atas pertanyaan saya di atas. Tapi jawaban saya adalah tergantung, tergantung pada apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan selama ini.

Ingat ya tulisan saya terdahulu tentang pengaruh apa yang didengar, dilihat, dan dirasa. Semua itu secara tidak langsung akan masuk ke otak bawah sadar dan akan disimpan sebagai sebuah informasi. Kalau ga sering sih sama otak bawah sadar akan disimpan sebagai informasi biasa. Lah kalau terus – terusan? ingat, pendidikan terbaik adalah pengulangan, repetisi. Jika informasi masuk dengan diulang – ulang. Lama – lama informasi itu akan di”iya” kan oleh otak kita.

Misal. Kenapa sih warna rumput itu disebut warna “hijau”? Karena kita mendapat informasi bahwa warna seperti itu dinamakan “warna hijau”. Berulang – ulang informasi itu masuk. Sampai suatu ketika ada orang mengatakan “warna khas rumput itu hitam”. Otak kita pasti akan menolak. Karena warna “hijau” sudah ditanamkan melalui repetisi2 sebelumnya.

Kembali ke topik di atas. Yang berbahaya adalah ketika seseorang mendapat informasi berbahaya secara terus menerus. Terus menerus diberi informasi tentang pembunuhan, pemerkosaan, penculikan. Lama kelamaan otak bawah sadarnya akan menangkap “oh pemerkosaan dan pembunuhan adalah hal wajar”.

Kita lihat lah sekarang ini televisi kita banyak nayangin apa sih. Gosip tentang artis. Lihat ga artis2 kita sekarang kalau berpakaian kaya gimana. Namanya juga laki – laki ai disuguhin yang begitu terus mah pasti ada rasa ingin “mencicipi” lah. Muncullah dorongan seksual untuk memerkosa.

Apalagi? Berita pembunuhan udah tiap hari pasti ada aja ya. Pemerkosaan dan penculikan juga sama aja. Akhirnya muncullah di otak bawah sadar “oh merkosa sama ngebunuh mah hal lumrah”.

Serem ya? Makanya bener deh ati – ati sama apa yang dilihat, dengar, dan rasakan. Yang udah punya anak apalagi anak – anak kan masa dimana otak bawah sadarnya lagi berkembang pisan. Jadi informasi lebih cepat diterima. Bayangkan dewasanya gimana kalau dikasih informasi – informasi yang diberikan televisi kita sekarang.

Solusi? Ada beberapa teman yang akhirnya cenderung memilih menonton televisi luar negeri ketimbang dalam negeri. Ga salah kok itu. Daripada kita jadi orang yang otak bawah sadarnya ga sehat?

Nah, Buat yang ga ada tv kabel di rumah. Mulai deh biasakan baca buku. Kurangi nonton tivi nya. Buku lebih menjamim informasi – informasi yang sehat ketimbang televisi sekarang. Memang ga semua acara tivi itu jelek. Tapi sepakat kan sebagian besar isinya ancur?

Sering – sering juga diskusi. Diskusinya sama orang yang bener. Jangan diskusinya sama orang – orang yang selalu mikir negatif. Sama aja itu mah.

Imbangi lah informasi yang masuk otak kita antara hiburan dan pengetahuan. Hiburan juga pilih, jangam yang efeknya jelek. Misalnya nonton film dan lagu galau, nonton horror, nonton film sadis kaya the saw. Kurangi lah yang gitu – gitu. Biar kita punya otak bawah sadar yang enak gitu. Kan enak kalau punya otak bawah sadar yang sehat. Kalau ada apa2 pasti refleksnya mikirnya ke arah positif. Ya ga ya ga?

-bcl-