Katanya masa depan itu akan menghadapi 2 masalah besar, yaitu pangan dan energi. Saya bukan ahli keduanya sih, cuma ya berpendapat boleh dong ya.

Secara garis besar, baik di pangan maupun energi masalahnya sama. Kelangkaan. Jelas ya namanya, masalahnya adalah ketika pangan dan energi menjadi langka untuk didapatkan. Ketika manusia semakin bertambah banyak, tetapi sayangnya pertambahan jumlah manusia yang tidak terkendali itu tidak diimbangi dengan penambahan ketersediaan pangan dan energi yang memadai.

Kalau untuk bidang energi secara garis besar mungkin semua sudah paham. Selama ini energi masih mengandalkan bahan bakar fosil yang sejak sd kita diajarkan bahwa bahan bakar fosil itu termasuk sumber daya alam yang tidak terbarukan. Solusi untuk menggunakan energi alternatif sebenarnya ada, apalagi negara Indonesia dikaruniai alam yang luar biasa. Bahan bakar nabati banyak, panas bumi ada, matahari bersinar sepanjang tahun. Tapi untuk membuat energi alternatif itu dapat digunakan secara massal butuh komitmen dan proses yang tidak sebentar. Nah jadi inget tulisan saya tentang berproses nih hehehe. Bangsa kita buka  bangsa yang suja berproses. Konsep “kalau ada yang mudah ngapain cari yang susah, masa depan ya urusan entar lah” itu sangat dipegang teguh bangsa kita.

Tapi untuk energi saya gamau panjang lebar deh, sejujurnya pengetahuan dan minat saya bukan ke arah sana. Jadi daripada saya sok tahu jadi saya hentikan aja deh hehehe. Tulisan yang di atas secara garis besar berdasarkan logika dan kecenderungan yang saya amati.

Nahhhhh kita ngobrol – ngobrol tentang pangan aja yuuu. Kalau tadi energi kan langka karena menggunakan sumber daya alam tidak terbarukan, lah kok pangan bisa langka? Kan makanan itu sumber daya alam terbarukan.

Ya secara logika, jawabannya sederhana sih. Walaupun terbarukan, tapi kalau ga ada yang nanem tetap aja ga akan ada tuh barang. Nahhh, sekarang lahan pertanian aja makin lama makin berkurang. Tanah yang ada juga kesuburannya menurun karena pemakaian pupuk buatan. Itu baru dari sisi tanah, sekarang orang emang masih banyak yang mau jadi petani?

Bahas satu – satu yuuuk. Pertama masalah lahan. Kenapa sih lahan pertanian berkurang. Ya sekarang kita tanya diri sendiri dulu dehhh. Sekarang kalau ngumpulin duit, 2 barang pertama yang akan kepikiran dibeli? Mayoritas pasti akan menjawab rumah dan mobil. Nah fokus ke rumah. Rumah butuh tanah dong. Ya itulah. Semakin banyak sekarang lahan pertanian yang berubah menjadi perumahan. setiap manusia butuh rumah betul. Cuma ga sedikit loh orang beli rumah karena unsur gengsi “wah malu dong klo masih tinggal di rumah warisan orang tua”. Akhirnya memaksakan untuk membeli rumah (lagi). Belum lagi ada orang yang punya beberapa rumah yang akhirnya malah rumahnya dibiarkan kosong, masih mending lah kalau dikontrakkan. Sayang kan. Tanahnya jadi ga produktif gabisa dijadiin apa – apa. Coba kalau dijadikan lahan pertanian.

Semua orang pengen beli rumah, entah untuk ditinggali atau (hanya) untuk investasi saja. Permintaan banyak otomatis bisnis property terus berkembang. Banyak deh yang nyari lahan kosong dan luas untuk dijadikan perumahan. Udah deh lahannya ga produktif lagi. Iya hak setiap orang kok untuk menggunakan uangmya kemana saja termasuk investasi property. Toh bukan uang saya juga jadi gabisa ngelarang2 hehehe. Tapi ini berbagi pandangan aja. Bukankah lebih baik kalau dijadikan lahan pertanian. Kaya iya, dan bikin kenyang rakyat. Punya rumah boleh, harus malah. Tapi ya jangan berlebihan. 1 aja deh cukup. Cukup yang kita tinggali saja.

Sekarang yang lagi ngetrend berikutnya apa? Lahannya ga dijadikan rumah sih, ditanemin, tapi ditanam oleh tanaman kayu – kayuan seperti jabon, albasiah, dan lain – lain. Salah sih engga. Toh yang punya uang punya hak untuk menggunakan uangnya untuk apapun. Better lah ini. Kayunya bisa digunakan untuk meubel atau kebutuhan lainnya. Tapi saya berbagi opsi aja. Kalau ditanam kayu, yang punya jadi kaya iya tapi tidak mengenyangkan rakyat.

Intinya lahan pertanian semakin sulit berkembang karena banyak opsi – opsi penggunaan lahan yang kesannya lebih menggiurkan. Padahal dari sisi keuntungan sih sama. Cuma kalah booming aja menurut saya mah. Lahan kosong dijadikan lahan pertanian kurang digembar gemborkan ketimbang 2 hal di atas.

Berikutnya tentang kualitas lahan yang menurun karena pupuk. Kalau ngomongin ini saya jadi inget kata – kata dosen saya pak mubiar “kamu itu bercocok tanam kan buat manen C,H,O (buah kan terdiri dari C,H,O). Terus kenapa kamu mupuknya N,P,K? Akhirnya unsur C,H,O dalam tanah diambilin terus. Ga ditanam ulang. Ya lama – lama abis. Jadi ga subur lagi tanahnya”. Sudah cukup jelas ya. Udah mah makin dikit. Eh yang ada kualitasnya turun gara2 dipupuk sama pupuk non-organik.

Terakhir nih yang penting. Berapa banyak sih yang jadi petani? Bahkan yang ironis. Di kampus yang tujuannya mencetak para ahli pertanian malah menjadi pemasok tenaga kerja bank yang cukup besar. Ironis kan?

Kita itu kalau ditanya “wah makanan datang dari mana ya nanti?” pasti langsung mikir “ah kan ada petani yang nanem”. Asumsi selalu ada petani yang nanem. Padahal apa iya memang ada? Ga sedikit juga kan petani yang masih pake cara konvensional, sehingga hasilnya tidak sebanyak jika menggunakan teknologi yang baru.

Akhirnya kurang deh pasokan makanan. Lah sekarang buktinya apa – apa impor. Kenapa? Ya karena ga ada yang mau nanem. Kalau ada yang nanem hasilnya ga gitu bagus karena lahan kritis atau kurangnya teknologi.

Jadi petani itu krjaan yang berproses. Pengen singkong? Ya tanem dari bibit, kita rawat berbulan – bulan lalu panen. Proses. Tapi sekali lagi jadi inget tulisan saya tentang berproses. Ga banyak yang tahan berproses. Hampir semua (termasuk saya) pasti pengennya kalau mau singkong ya tinggal beli aja singkong goreng, atau beli maicih sekalian. Tinggal makan.

Disini saya mau berbagi pandangan aja. Jadi petani bukan pekerjaan yang ga keren dan tidak menghasilkan loh. Setidaknya hal itu yang terbuka di mindset saya ketika perjalanan ke ciwidey itu. Jujurr nih, cita – cita saya sekarang menjadi petani loh. Walaupun saya belum menjadi petani tapi saya tau saya sedang mengarah kesana. Saya sudah menemukan passion saya. Menjadi petani. Insya Allah saya bisa bermanfaat. Kaya iya, bikin kenyang rakyat juga. Insya Allah. Mohon doa dan bantuannya

-bcl-