Sambil nonton Coppa Italia antara Juventus lawan AC Milan ga ada salahnya lah ya saya sambil nulis. Tulisan kali ini diawali sama satu kalimat dari buku yang pernah saya baca. Judulnya saya lupa sih, udah lama banget. Pas jaman kuliah saya baca buku satu itu. Kalimatnya adalah begini “Satu hal yang paling harus disyukuri dari dunia ini adalah Tuhan menciptakan tekanan. Jika tidak ada tekanan, dunia tidak akan bergerak”.

Ketika air diberi tekanan, air akan bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Balok yang diberi gaya sebesar F akan bergerak searah dengan gaya tersebut dengan catatan gaya tersebut lebih besar daripada gaya gesek antara balok dengan lantai. Dimana Gaya adalah tekanan per satuan luas. Itu fenomena – fenomena fisika yang biasanya kita temui di soal – soal pas sekolah dulu.

Tapi maksud kata – kata “Satu hal yang paling harus disyukuri dari dunia ini adalah Tuhan menciptakan tekanan. Jika tidak ada tekanan, dunia tidak akan bergerak” bukan Cuma tekanan dalam hal fenomena fisika saja. Dalam berkehidupan sehari – hari pun tekananlah yang membuat kita bergerak.

Seorang ayah akan giat bekerja karena ada tekanan untuk menghidupi keluarganya. Seorang anak akan rajin belajar karena ada tuntutan harus naik kelas. Atau bahkan jika rajin belajarnya karena diiming – imingi hadiah oleh orang tuanya jika mendapat nilai bagus, itupun masih termasuk tekanan. Seorang pemuda rajin mendalami agama karena pemudi yang diincarnya menyukai pria yang soleh, itupun termasuk tekanan (saya ga berbicara tentang positif negatifnya dulu ya). Atau seperti yang sering kita lihat di televisi, banyak penjahat melakukan kejahatan karena faktor ekonomi, ya itu sudah pasti lah masuk tekanan juga. Atau, pasti banyak juga dong dari kita yang beribadah karena takut masuk neraka? Ituuu juga tekanan.

Tekanan bisa datang dari mana saja. Bisa dari aturan kitab suci, bisa dari faktor kewajiban seperti contoh ayah yang giat bekerja di atas, bisa juga dari faktor gengsi. Pernah lihat ibu – ibu yang saling berlomba – lomba memakai perhiasan agar terlihat lebih terpandang? Ya itu salah satu tekanan juga loh, gengsi dengan tetangga. Mmm kira – kira apalagi ya faktornya? Saya rasa itu aja ya faktor – faktor utamanya. Kalau ada masukan tentang faktor utama tekanan silahkan diinfokan ke saya ya. Siapa tau saya ga kepikiran gitu.

Tekanan itu bisa positif bisa negatif. Yang jelas tekanan itu membuat kita bergerak. Masalah positif atau negatif kan sebenarnya sudah ada yang mengatur. Di Indonesia ini kan ada 4 norma yang berlaku. Hayooo pelajaran PPKn masih inget atau engga hehehe. Norma agama, norma kesopanan, norma kesusilaan, norma hukum. Pegang aja deh di norma agamanya. Sering – sering baca kitab suci dan atau diskusi tentang norma agama dengan teman – teman se-agama agar kita tahu mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan. Insya Allah akan terpecahkan mana yang positif dan mana yang negative. Namanya kitab suci kan pasti mengatur tentang kehidupan ini.

Kembali ke kalimat yang menjadi awal tulisan ini “Satu hal yang paling harus disyukuri dari dunia ini adalah Tuhan menciptakan tekanan. Jika tidak ada tekanan, dunia tidak akan bergerak”. Ini kok saya ulang – ulang ya kalimatnya? Kalau dikira biar manjang – manjangin tulisan biar keliatan banyak yaaa bisa sih, tapi yang utama sih biar semakin meresap gitu. Kan sesuatu yang dilakukan terus menerus akan semakin tercerna gitu. Termasuk pengulangan penulisan biar dibaca terus (repetisi). Nah kalau penjelasan tentang repetisi ini baru utamanya untuk manjang – manjangin tulisan hehehe.

Nah tekanan itu berarti amat sangat penting. Kalau tidak ada tekanan kita ga akan bergerak. Makanya sangat penting untuk menciptakan tekanan buat diri kita sendiri. Sepakat ga nih? Sepakat dong ya kan contohnya udah banyak di atas. Nah, gimana sih caranya menciptakan tekanan?

Tekanan sudah ada sih dari luar diri. Misal dari orang tua, pasangan, calon suami atau calon istri, calon mertua, bos di kantor, dan pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung. Tapi menurut saya sih lebih baik jika kita juga menekan diri kita sendiri. Untuk apa? Ya agar kita menjadi pribadi yang semakin baik doong. Dan kalau datang dari diri kita sendiri biasanya akan lebih bersemangat gitu untuk mencapainya. Lebih ikhlas gitu, namanya juga yang bikin kita sendiri pasti sesuai banget sama apa yang kita inginkan.

Terus caranya membuat tekanan buat diri kita sendiri? Kemarin pas taun baruan sering ya orang – orang bilang tentang resolusi awal tahun. Ya sebenernya itu memberi tekanan buat diri sendiri juga. Dan memang itulah caranya menekan diri sendiri. Buatlah target apa sih yang harus kita capai. Tapi jangan cuma di awal tahun gitu. Terus evaluasinya satu tahun kemudian. Wah itu mah tekanannya kurang.

Nah intinya sih membuat tekanan buat diri sendiri. Simple aja loh, cukup membuat target buat diri sendiri. Terus apapun itu, yang bagus kan kalau ada “quality  control”nya ya. Untuk tau kualitasnya sampai mana harus sering dilakukan yang namanya evaluasi. Untuk tau sejauh apa dari target harus ditentukan target waktunya juga. Jadi buat target -> tentukan waktu selesainya harus kapan -> evaluasi berkala. Itu aja kok, terlihat malesin sih kalau dibaca, tapi lebih malesin lagi kalau dilakukan hahaha.

Atau malah dirasa tekanannya bakal masih kurang? Nah, memang ada 1 step lagi yang belum dilakukan. Ceritain ke orang targetnya apa. Loh? Malu kan kalau ga tercapai? Justru itu, menekan kan kalau ga tercapai? Makin kenceng dong usahanya? Ya itulah tujuannya. Biar targetnya tercapai. Ya oke lah mungkin ga semua orang mukanya tebal. Masih banyak juga yang rasa malunya besar. Ya minimal cerita lah sama orang tua atau pacar atau sahabat atau siapapun orang yang bisa dijadikan teman cerita. Tapi setidaknya ada yang harus tau selain kita. Biar kita nya ga santai teuing gitu mengejar targetnya. Dan bisa juga kan si partner ini diminta pendapatnya untuk evaluasi target. Lumayan dapet pendapat dari pihak luar. Malah siapa tau si partner ini punya jalan untuk membantu mencapai target. Siapa yang seneng? Trus emang kalau targetnya ga tercapai risikonya apa? Paling kita malu aja kan? Hehehe.

Ini berbagi pendapat aja ya teman – teman. Diikuti silahkan, ga diikutin ya masa sih gamau ngikutin (hehehe maksa lagi). Bercanda – bercanda. Kan sesuai quote saya sebelum tulisan ini. HIDUP LO URUSAN LO. Ini saran aja untuk menekan diri sendiri agar menjadi lebih baik lagi. Mulai aja dari hal – hal yang kecil. Ini saya menulis juga dalam rangka menekan diri loh. Saya buat target 1 hari 1 tulisan. Terus kalau ga salah saya pernah bilang – bilang kan ya di salah satu tulisan saya kalau target saya 1 hari 1 tulisan. Terus di status BBM juga saya pernah memasang “1 hari 1 tulisan”. Lumayan loh pressure nya. Di saat capek pulang kantor atau habis pulang dari rumah calon. Rasa males nulis itu tinggiiii banget. Bawaannya tuh pengen langsung istirahat aja. Tapi langsung kebayang – bayang loh “hayo lohhh dibilang omdo nanti sama orang – orang”. Akhirnya terjadi deh pemaksaan diri itu. Walau lagi ga ada ide atau inspirasi, pasti saya buka dulu tuh Microsoft word/wordpress nya. Dan mulai lah menulis.

Mau kan mulai membuat target -> tentukan waktu -> ceritakan ke teman dekat ->evaluasi berkala ?

Kalau mau berbagi cerita tentang targetnya boleh loh hubungi saya.

 

-bcl-