Mmm kemarin sempat rame juga ya ketika MUI mengharamkan memberi sedekah ke pengemis. Tulisan ini gamau ngebahas itu kok. Saya serahkan sepenuhnua kepada yang expert yaitu bapak – bapak MUI. Mereka pasti udah mengkaji sampai dalam makanya keluar keputusan tersebut.

Tulisan ini mau membahas tentang temannya pengemis, yaitu pengamen. Inspirasi bisa datang dari mana saja. Tak terkecuali para seniman jalanan tersebut.

Mengenai pengamen, banyak banget ya macem – macemnya. Ada yang bermodalkan bernyanyi diiringi tepuk tangan saja, ada yang bermodalkan tutup botol yang dipaku ke batang kayu. Sampai yang bermodalkan gitar dan drum, bahkan terkadang saya lihat yang memakai biola.

Cara mengamennya pun bermacam – macam. Ada yang sekadarnya doang. Nyanyinya asal – asalan trus sodorin tangan. Ada yang memang benar – benar niat bernyanyi untuk menghibur penumpang.

Nah, bermacam – macamnya pengamen itu lah yang memberikan saya inspirasi tulisan ini. Kira – kira nih ya. Secara logika aja, pengamen yang bernyanyi asal – asalan lalu menyodorkan tangan Dibandingkan dengan yang ngamennya lebih niat banyak mana ya dapat duitnya?

Coba bayangkan kita sebagai penumpang bis atau angkot. Lalu ada pengamen yang datang mencari rezeki. Pengamennya ada 2 tipe :

1. Dua orang membawa gitar. Yang satu membawa gitar sementara yang 1 lagi bernyanyi dengan malas – malasan. Yang bermain gitar pun nampak asal “genjreng aja”.

2. Dua orang datang. Yang satu bermain gitar, yang 1 lagi membawa biola. Yang bermain gitar menyapa penumpang dengan nada yang ramah terlebih dahulu sebelum dia memetik gitar dan mulai bernyanyi.

Kira – kira yang mana ya yang kemungkinan besar kita kasih? Secara logika yang kedua ya. Kalau untuk pengamen pertama mungkin akan kita kasih cuma karena kasihan. Itu juga kalau di saku kita ada uang 500 rupiah. Kalau adanya lembaran 2rb aja, mungkin kita udah mikir – mikir lagi mau ngasih. Sedangkan yang kedua, mungkin kita akan memberi dengan lebih ikhlas. Kalau di saku ada uang 500 atau 2rb pun mungkin kita akan beri yang 2rb rupiah. Lalu apa intinya?

Oke kita tinggalkan kedua pengamen tersebut. Bukan mau membahas sikap mereka kok. Ya kalau banyak pengamen seperti yang nomor 1 ya dimaklumi saja. Toh mungkin mereka memang tidak mendapatkan ilmu bagaimana “cara menjual” yang baik. Buat mereka asal dapet duit dah.

Coba kita tarik kisah di atas ke kehidupan pribadi kita. Setiap saat kita diberi pilihan kok. Mau menjadi seperti pengamen 1 atau 2?

Dalam bekerja misalnya, kita bebas mau milih bekerja ala kadarnya seperti pengamen 1, atau bekerja dengan penuh keniatan layaknya pengamen 2?

Bebas silahkan pilih mau seperti apa. Ya risiko tanggung masing – masing. Kalau bekerja layaknya pengamen 1 ya jangan ngarep rejeki nya pengamen 2 doong.

Buat temen – temen pengusaha mungkin ga usah dijelaskan lagi juga langsung setuju. Kalau kita tidak kerja keras, kalau kita tidak “menjual” dengan ramah tentu saja pembeli lama – lama akan kapok beli dan rejekinya sama deh nanti kaya pengamen 1.

Tapi buat yang teman – teman karyawan seperti saya mungkin akan menyangkal dengan “ah mau kerja gimana juga toh tetep ajalah gajinya segitu juga dibayarnya.

Eh jangan salah. Allah itu maha melihat dan maha tahu. Kerja itu ibadah. Nah kalau kita ibadah dengan penuh niat, penuh keikhlasan pastilah sama Allah dicatat. Untuk sekarang mungkin gajinya sama. Tapi kalau kitanya sabar dan terus bekerja dengan ikhlas dan niat pasti Allah tunjukkan jalan ke arah rezeki yang lebih baik. Bisa promosi jabatan, dikasih rezeki di kantor lain, atau malah ditunjukkan ide bisnis sehingga menjadi pengusaha. Rezeki Allah akan datang dengan cara yang tidak disangka – sangka.

Jadi apapun pekerjaan sekarang. Lakukan dengan ikhlas dan niat. Karena dengan ikhlas dan niat kerjaan kita akan lebih bagus daripada yang lain. Dari niat akan muncul antusiasme. Nah antusiasme inilah yang muaranya adalah “great work”. Antusiasme akan merangsang diri untuk ga cepet capek, berpikir lebih jernih, kreativitas akan muncul. Masa kalau udah begitu hasil kerja kita ga akan bagus sih.😀

Biar niat dan antusiasme itu muncul, paling gampang sih ya dengan melakukan apa yang kita sukai. Nah makanya buat yang belum dapet kerja mending bener – bener diliat dulu, minat ga sama kerjaan yang dilamar. Kalau engga mending pikir – pikir lagi deh. Lamarlah pekerjaan yang memang benar – benar kita senangi. Karena dengan itu akan muncul niat dan antusiasme yang bermuara pada “great work”.

Nah sekarang gimana buat yang udah “terjebak”? Yang ga betah di kerjaannya. Bisa karena emang ga suka sama kerjaannya, bisa karena boss nya yang ga enak, rekan kerja yang opportunis, atau gabungan ketiganya (gila kasian banget yak kalau ada yang dapet paket combo gitu).

Yang saya percayai, dalam hal apapun pasti ada sisi positif dan ada sisi negatif. Ga mungkin ga ada positifnya. Masih inget tulisan saya yang judulnya bahagia adalah Bahagia bisa muncul karena pleasure atau meaning. Nah cari pleasure di kerjaan. Hal yang menyenangkan dari kerjaan sekarang. Cari. Pasti ada. Nah kalau dengan pleasure masih kurang semangat. “ya ada sih senengnya. Tapi jauh lebih banyak ngeselinnya. Tetep aja jadi bikin males”. Kalau udah begitu carilah MEANING. kerjaan yang kita lakukan pasti lah ada meaning nya buat perusahaan.

Yang ada di bagian sales bisa bilang “kalau ga ada gue ga akan bisa tuh produk kejual”

Yang di bagian operation bisa bilang “yang beli boleh banyak, tapi klo ga ada gue ya tetep aja gabisa dapet duit. Lah wong barangnya ga ada”

Atau yang di bagian distribusi “barang ada. Tapi yang nganter ke konsumen siapa? Kalo ga ada gue tetep aaa bisnis ini ga jalan”.

Temukan hal – hal itu. Tekankan bahwa hiduo kita itu ada gunanya loh. Buatlah itu jadi motivasi kita dalam bekerja.

Bahagia bisa terjadi karena pleasure dan meaning. Temukan itu. Kalau sudah bahagia di kerjaan kita akan jadi niat + antusias. Kalau udah niat + antusias muaranya adalah “great work”. Great work pasti identik sama great income. Kalau kata peribahasa sekarang mah UUD. Ujung – ujungnya duit hehe.

Waduh jauh juga ya kita bahasnya. Yang asalnya bahas pengamen malah jadi sampe kesini. Kalau sudah begini kita patut berterima kasih sama pengamen karena telah memberi inspirasi. Besok kalau ketemu sama pengamen jangan lupa buat kasih duit ya. Gapapa deh mau yang pengamen tipe 1 atau tipe 2 juga.

Dan terakhir mudah – mudahan tulisan saya ini bisa diterima. Kalau setuju mulai besok mari kita bekerja (baik karyawan maupun pengusaha) dengan penuh kebahagiaan. Tetaplah tersenyum saat berangkat kerja, saat bekerja, dan ketika bekerja.

Salam bahagia🙂

-bcl-