Semua pasti kenal sama mbah Sujiwo Tedjo. Orang yang mungkin bisa dibilang nyentrik, aneh, nyeleneh. Tapi menurut saya justru mindset yang benar banyak dimiliki oleh mbah Sujiwo Tedjo. Walau kadang nyelenehnya jauh ya, kaya waktu saat dia tampil di TEDx (Untuk melihat videonya bisa klik DISINI). Beliau menolak pemakaian helm karena kalau hidup pun negara tidak menjamin kesehatan, jadi knp ngatur2 segala tentang keselamatan. Bukan out of the box lagi ya itu mah.  Jauh pisan out of the box nya hahaha.

Mbah sujiwo tedjo itu sekarang identik dengan yang namanya Republik Jancukers. Mungkin orang yang mengerti jancuk adalah kata kasar, langsung skeptis kepada Republik Jancukers. Tapi tahukah anda kenapa mbah Sujiwo Tedjo mendirikan Republik Jancukers?

Dalam suatu video, Mbah Sujiwo Tedjo menjelaskan bahwa “jancukers adalah usaha melawan kesantunan di negeri ini yang semakin merajalela”.

Jancukers adalah usaha melawan kesantunan di negeri ini yang semakin merajalela

Loh kok santun malah dilawan? Itulah, kadang kita terpukau sama orang yang terlihat santun dari luar. Pokoknya dari luar keliatan kaya anak baik deh. Eh tapi jangan terlalu cepat menyimpulkan dulu pernyataan saya tadi. Bukan, bukan berarti mereka itu berbulu domba juga. Yang salah itu biasanya orang yang “santun” itu maunya cari aman. Kalau menjawab sesuatu itu pasti jawabannya “di tengah – tengah”. jawaban yang aman, yang ga akan dimarahin orang – orang. Tidak berani memutuskan.

Udah ngerti kan ya “santun” disini maksudnya seperti apa. Kalau mau contohnya ga usah jauh – jauh deh. Presiden kita kan santun tuh katanya. Terus liat para pejabat deh kalau lagi kena kasus, udah apal lah jawabannya pasti “kita serahkan saja pada hukum yang berlaku”. Contoh lain, lihat aja deh bintang film kita. Mau artis atau “artis” yang suka ada d tvone (politisi-red). Pastilah mereka menjawab dengan “normatif”. Kata – katanya sih bagus, bijak gitu kedengerannya. Padahal kalau ditelaah lagi jawabannya itu tidak menjawab apa – apa. Ga percaya? sering – sering deh liat tvone dan telaah jawaban dari “artis” yang ada disitu, berasa kok ga menjawabnya.

Nahhhh kalau setuju kita kudu melawan kesantunan yang semakim merajalela, dengan cara apa? Ya kita jangan jadi orang yang “santun”. Belajar yuk untuk selalu menjawab dengan jawaban yang jelas, bukan yang normatif – normatif aja.

Contoh nih yang biasa ditanya dan kita jawab dengan pertanyaan normatif. Kalau ditanya “kapan rencana nikah?” kalau masih ngejawab “di saat yang tepat”. Itu masih ga jelas. Bijak kan ya kedengerannya “wah saat yang tepat”, tapi kalau ditelaah ga menjawab apa – apa. Tetap aja kita gatau nikahnya kapan. Kalau memang belum ada rencana ya bilang aja belum ada rencana. Kalau sudah ada rencana ya jawab aja “tahun depan Insya Allah”. Kadang – kadang kita itu masih termakan gengsi. Takut kalau udah bilang iya ternyata gajadi. Turunin lah gengsinya, lagian kalau gagalnya ternyata gara – gara force majeur mah semua orang juga mengerti lahhhhh.

Itu satu contoh aja. Contoh lain nih ya. Misal ada yang nanya “eh minta pendapat lo dong, gue itu mending milih melakukan A atau B ya?”. Jawabannya kan biasanya “ya terserah lo”. Weisss kata terserah mah udah lah hapus aja dari kamus. Bijak kaga, menjawab pertanyaan kaga. Atau kalau engga jawabannya kan pasti “ya yang mana aja yang lo mau dan menurut lo itu baik”. Bijak sih, tapi ga menjawab apa – apa. Ga membantu teman kita menyelesaikan masalahnya. Masalah saran kita diterima atau tidak kan urusan nanti.

Yuk ah kita introspeksi bareng – bareng. Terkadang kita itu ingin terlihat bijaksana dengan membuat pernyataan – pernyataan yang sok bijak. Tapi pikir lagi deh. Banyak loh jawaban kita yang hanya menjawab tapi tidak menyelesaikan masalah.

Banyak loh jawaban kita yang hanya menjawab tapi tidak menyelesaikan masalah

Kalau untuk hal yang sepele sih ga terlalu masalah. Tapi kalau kita sudah berada di atas. Ketika kita menjadi yang membuat keputusan. Entah keputusan untuk bangsa ini, entah untuk perusahaan, entah untuk keluarga. Kebayang kalau pembuat keputusan hanya menjawab tapi tidak menyelesaikan masalah? Sosok pemimpinnya sih masih akan terlihat keren, tapi negara, perusahaannya, atau keluarganya tetap alan berkubang dengan masalah yang sama. Karena masalah itu tidal diselesaikan, tapi hanya ditutupi dengan kata – kata manis yang tidak berarti apa – apa. Mungkin ini yang banyak disebut “pencitraan”.

Mariii mulai sekarang dibiasakan bilang A kalau memang A, bilang B kalau memang B. Biasakan membuat jawaban yang jelas. Ya atau Tidak. Setuju atau Tidak Setuju. Yakin atau Tidak Yakin. Pokoknya yang benar – benar menjelaskan sikap kita.

Saya juga ga mau munafik lah dengan menulis ini. Saya juga masih terkadang berbicara yang cari aman. Tapi Insya Allah saya mau belajar untuk lebih mau bersikap. Teman – teman juga mau kan ya. Jadi mari saling belajar, saling membiasakan, dan saling mengingatkan. Bismillah

-bcl-