Teringat 1 pelajaran dari training yang pernah saya ikuti, yaitu tentang “PROAKTIF”.

Apa arti dari proaktif? Awalnya saya mengira proaktif adalah cepat tanggap. Jika ada sesuatu yang terjadi kita segera melakukan sesuatu untuk mengatasinya.

Namun ternyata bukan itu inti proaktif. Justru proaktif adalah melakukan sesuatu setelah dipikirkan matang – matang.

Proaktif adalah melakukan sesuatu setelah dipikirkan matang – matang

Ketika ada sesuatu yang terjadi, kita tidak langsung mengambil keputusan dengan tergesa – gesa. Kita akan tarik nafas. Melihat dengan jeli apa masalahnya. Memilih opsi – opsi yang ada. Memilih opsi terbaik. Dan lakukan opsi tersebut.

Mungkin akan jauh lebih terbayang ketika saya sebut lawan dari proaktif adalah reaktif, atau bahasa yang lebih sering kita dengar adalah emosional. Yap emosional. Segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan tindakan emosional suatu saat pasti akan kita sesali. Karena itu bukan berasal dari kesadaran diri karena yang “menyuruh” berbuat sesuatu adalah sistem saraf di tulang belakang kita, bukan oleh sistem saraf otak. Artinya itu dilakukan tanpa kesadaran kita. Dan ketika kita pikirkan lagi dengan otak sadar, kita akan berpikir “kok tadi gue melakukan itu ya?”

Contoooh. Walau kita tidak tahu benar atau tidak. Bersalah atau tidak. Peristiwa yang menimpa diego michiels adalah contoh nyata tindakan yang dilakukan secara reaktif. Walaupun kita tidak tahu provokasi apa yang diberikan kepada diego michiels, tapi tetap saja reaksi yang diberikan oleh diego michiels adalah reaksi yang emosional. Dan pasti diego sedang menyesali hal tersebut karena mengancam kariernya sebagai pemain sepakbola.

Emosi memang kadang – kadang tidak bisa ditahan bahkan seorang Zinedine Zidane pun harus mengakhiri karier cemerlangnya sebagai pemain sepakbola dengan antiklimaks. Karena apa? Yap karena tindakan reaktifnya dengan menanduk Marco Materazzi. Terlepas dari provokasi materazzi yang “katanya” menghina ibunya, zidane harus keluar lapangan terlebih dahulu karena tandukannya itu. Dan yang lebih miris, tim yang dibelanya, Prancis, harus kalah di final piala dunia 2006 tersebut dari Tim Italia. Disini saya ga ngebahas tindakan dia yang melindungi martabat ibunya ya. Saya fokus ke tandukannya.

Lalu bagaimana agar tidak bertindak reaktif? Kalau sudah berhubungan dengan mindset, kita berbicara sesuatu yang dinamis. Kita tidak bisa men-judge secara saklek orang itu “reaktif” atau “proaktif”. Bukan tidak mungkin orang yang biasanya bertindak “proaktif” akan bertindak “reaktif” juga sekali – kali, begitu juga sebaliknya.

Tapi walaupun begitu, kita tetap harus membiasakan diri bersikap proaktif. Caranya bagaimana? Ya seperti step ya sudah saya sebutkan sebelumnya :

masalah -> tarik nafas  -> telaah masalah -> pikirkan opsi -> pilih opsi terbaik -> lakukan.

Loh kalau begitu bakal lama dong kita membuat keputusan? Keburu Indonesia juara Piala Dunia (amiiiiin).

Yap, kalau kita lihat alurnya memang panjang ya. Ketika di awal – awal kita mulai membiasakan bersikap proaktif memang akan cukup memakan waktu. Hal yang kita putuskan akan lebih lama ketimbang biasanya. Tapi ketika kita sudah biasakan, proses proaktif tersebut akan berlangsung sangat cepat. Bahkan dalam hitungan detik.

Tapi memang membutuhkan proses. Oleh karena itu biasakan dari sekarang. Teruslah berlatih menjadi proaktif. Ingat – ingat lagi step di atas. masalah -> tarik nafas  -> telaah masalah -> pikirkan opsi -> pilih opsi terbaik -> lakukan. Dan yang penting juga, jangan ngarep sekali-dua-kali bersikap proaktif akan langsung berlangsung dengan cepat. Ingetttt hidup itu berproses🙂

Sekarang coba kita introspeksi bareng deh. Apa yang bisa kita lakukan dalam kehidupan sehari – hari untuk berlatih proaktif. Hal yang sederhana aja deh ya. Update status di social media. Ya memang ga semua update status itu adalah hal reaktif. Tapi kita bisa tahu lah status yang reaktif itu seperti apa. Kalau kita baca status orang pasti deh tau mana yang reaktif mana yang engga. Tapi kalau status sendiri? biasanya kita ga nyadar loh sedang bersikap reaktif.

Jadiiii cara melatih bersikap proaktif ya seperti itu. Kalau lagi mau update status tarik napas dulu. Sampai tenang baru berpikir “kalau update status begini reaksi orang kira – kira apa ya”. Kalau dirasa tidak akan menyinggung silahkan update.

Itu hal simplenya. Pasti banyak sekali konflik yang kita hadapi setiap hari, Jadi ingat – ingatlah step di atas ya. masalah -> tarik nafas  -> telaah masalah -> pikirkan opsi -> pilih opsi terbaik -> lakukan.

Siap? Kalau dipikir simple sih. Tapi rasakanlah perbedaannya. Mari berlatih proaktif, mari berproses. Mari kita bersama – sama menjadi generasi proaktif🙂

-bcl-