Pernah dicurhatin sama orang? Sering lah ya.

Curhatnya juga macem – macem. Ada yang tentang kerjaan, percintaan, keluarga, hobi, dan lain – lain. Tapi biasanya, orang curhat kepada orang lain tentang konfliknya dengan manusia lain. Bisa dengan anggota keluarga, dengan pasangan, teman, ataupun sahabat.

Curhat itu dibutuhkan juga sih. Ada yang bilang curhat itu membuat hati kita “plong” karena sudah berbagi cerita sehingga masalah tidak dipendam sendiri. Bener. Namun, yang lebih penting dari curhat adalah kita mendapatkan pandangan lain tentang masalah yang kita hadapi. Oleh karena itu, sangat penting memilih teman curhat. Dan ketika kita sedang “dicurhatin” juga harus tau bahwa peran kita adalah penting.

Berdasarkan fungsi curhat yang dijelaskan di atas. Ada 2 tujuan seseorang untuk curhat. Pertama dia ingin didengarkan. Untuk tipe pertama ini dia tidak begitu butuh solusi untuk masalahnya. Bisa karena sebenarnya dia sudah memiliki solusi yang menurut dia benar, atau karena dia memang tidak mau menyelesaikan masalahnya. Dia hanya butuh didengar, dia hanya butuh meluapkan emosinya. Tipe kedua adalah orang yang curhat karena memang ingin mendapatkan solusi permasalahannya.

Lalu, bagaimana caranya untuk membedakan kedua tipe tersebut? Ya gampang, langsung aja tanya “ini kamu dalam rangka cerita aja atau butuh saya ngasih solusi?”. hahaha ga seru ya? ya memang gitu aja. kalau ada yang gampang ngapain kok susah – susah. Kalau sudah tahu tipe yang mana kan enak. Kita sebagai yang dicurhatin tau harus ngapain.

Tapi ya memang ga semuanya jujur sih. Ada yang bilang “ya gue butuh solusi dari lo. siapa tau lo ada ide”. eh nyatanya pas kita kasih solusi, dia akan banyak menggunakan kata “tapi ga gitu…” atau “iya gue tau, tapi..”. Pokoknya kata – kata semacam itu deh. Biasanya sih dia sebenarnya cari pembenaran saja. Dia sedang ingin diberikan kata – kata “iya lo udah bener sih, dianya aja yang salah”. Ini pendapat saya saja loh yaaa. Memang tidak semuanya seperti itu.

Nah sebagai yang dicurhatin, selain harus tau tipe manakah si orang yang curhat sama kita, kita juga harus bisa bersikap netral. Walau yang curhat sama kita adalah orang yang tidak disukai, jangan underestimate duluan. Belom apa – apa udah bilang “ya lo lah yang salah” sambil masang muka ketus. hehehe. Tapi liat ceritanya. telaah benar – benar. dan beri solusi yang sesuai cerita. Jangan juga karena dia temen deket jadi walaupun dia salah tetap dibilangnya “engga kamu udah bener kok” gara – gara ga enak.

Nah masalah netral ini juga berat sih. Kecenderungan manusia itu kan merasa benar. Jadi kalau cerita pasti dia akan selalu membenarkan apa yang dia lakukan. Walaupun kata awalnya “gue tau sih gue salah”, tapi lihatlah keseluruhan kalimat atau ceritanya. Pasti ujung – ujungnya akan terkesan dia lah yang benar. Nah yang kudu ati – ati disini sih. Kita akan terbawa suasana dan berkata dia benar. Padahal kita hanya mendapatkan cerita dari satu sisi saja. Jadi kudu hati – hati dalam memberi solusi. Kalau bisa, misal yang konflik adalah 2 orang yang kalian kenal, dan kalau misalnya mereka dikonfrontasi malah akan semakin runyam, cobalah kamu juga bertanya kepada lawan konfliknya si pen-curhat (agak bingung sih bacanya, tapi ngerti kan ya hehe).

Menurut saya sih 2 sikap itu aja yang harus dipikirkan kalau kita sebagai orang yang dicurhatin. Tau si pencurhat itu tipe yang mana, dan netral. Sisanya, kalau teknis cara bicaranya harus bagaimana ya itu mah pake gaya masing – masing lah. Yang penting jangan terbawa suasana selalu membenarkan si pencurhat. Namanya kalau cerita dari pandangan dia ya pasti dia yang positif. Tapi harus lebih hati – hati dalam melihat konfliknya. Inget sekali lagi, posisi orang yang dicurhatin itu penting loh. Kita bisa membantu menyelesaikan masalah orang lain. Pahala tuh.

Itu kalau di posisi yang di-curhatin. Kalau posisi yang dicurhatin gimana?

Ya udah ketauan lah. sebelum curhat mending introspeksi dulu “mmmm salah gue apa ya?”. Kalau udah gitu pasti kita akan lebih bijaksana kalau curhat. Kita ga akan membenarkan diri kita. Dan kita akan benar – benar mencari solusi bukan pembenaran.

Note : cerita ini saya tujukan untuk diri pribadi agar tetap ingat untuk selalu introspeksi. Jika tulisan saya ini bermanfaat Alhamdulillah, jika tidak bermanfaat mohon masukannya

-bcl-