Ada yang tau kepanjangan STMJ?

Susu Telor Madu Jahe. Itu versi asli

Solat Terus Maksiat Jalan. Nah itu yang mau saya tulis kali ini.

Tapi saya ga akan terlalu jauh ngomong tentang maksiatnya. Bisi sayanya juga masih begitu, ga enak juga nanti terkesan munafik.

Intinya saya mau berbicara tentang adanya jarak antara ibadah yang dilakukan dengan kegiatan sehari – hari kita.

Bapak – bapak tersangka korupsi yang suka muncul di tv itu pastilah punya agama. Dan saya juga yakin kok mereka masih menjalankan ritual agamanya. Yang muslim pasti masih solat. Yang kristen pasti tiap minggu masih ke gereja. Yakin saya mah mereka masih punya agama.

Kejauhan contohnya? Oke sekarang liat kegiatan sehari – hari kita aja deh ya. Pasti masih ada deh dari beberapa pembaca yang percaya ramalan bintang. Atau sekarang ramalan bintang udah ketinggalan jaman ya? Hehehe.

Hal kecil kaya buang sampah sembarangan, nerobos lampu merah, nyontek waktu ujian itu juga sebenarnya bertolak belakang dengan ibadah. Kalau misalnya kepergok kan alesannya paling kita dengan santai ngomong “ah yang lain juga gitu”. Bukan karena ada aturan yang membolehkan. Itu berlawanan dengan ibadah, tapi kok kita lakukan tanpa rasa bersalah>

Ada suatu jarak antara ritual ibadah yang kita lakukan dengan kegiatan sehari – hari kita. Kadang ibadah hanya dianggap sebagai ritual yang harus dilakukan. Setelah itu yaudah kembali ke kehidupan nyata. Apa ya kira – kira alasannya? Pernah saya kepikiran dan memikirkan hal ini. Dan menurut saya, untuk mengurangi (kalau tidak bisa dibilang menghilangkan) jarak antara ibadah dan kegiatan sehari – hari.

Ada suatu jarak antara ritual ibadah yang kita lakukan dengan kegiatan sehari – hari kita. Kadang ibadah hanya dianggap sebagai ritual yang harus dilakukan.

Kita memisahkan antara ibadah dengan kehidupan sehari – hari adalah karena kita tidak tahu apa yang kita ucapkan selama beribadah. Kalau kata bahasa sunda nya mah cuma “apal cangkem” aja. Cuma sebatas “pokoknya kalau sujud baca ini”, “setelah shalat membaca ini” dsb. Ga cuma yang berbahasa non-indonesia loh. Kadang yang berbahasa Indonesia pun kita hanya hafal saja. Tidak mendalami apa yang diucapkan. Sama seperti dalam pelajaran geografi. Kita cuma diberi hafalan “Indonesia itu negara yang kaya akan budaya dan alamnya”. Udah jadi kalau ada yang nanya “apa pendapat kalian tentang Indonesia?” serius pasti hampir semua orang Indonesia akan menjawab itu. Tapi pas ngomong itu, ga ada rasa merinding atau deg – degannya. Karena ya cuma sampe mulut doang ga sampe hati.

Sama seperti dalam pelajaran geografi. Kita cuma diberi hafalan “Indonesia itu negara yang kaya akan budaya dan alamnya”. Udah jadi kalau ada yang nanya “apa pendapat kalian tentang Indonesia?” serius pasti hampir semua orang Indonesia akan menjawab itu. Tapi pas ngomong itu, ga ada rasa merinding atau deg – degannya. Karena ya cuma sampe mulut doang ga sampe hati.

Kembali ke masalah ibadah dan kenyataan. Contoh sekarang buat muslim ya, teknis soalnya hehehe. Kita solat 5x sehari. Membaca Al-fatihah 17x sehari. Tapi apakah kita tau artinya? Tahukah kita apa yang kita janjikan sama Allah?

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Pemilik hari pembalasan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.
Tunjukilah kami jalan yang lurus.
(yaitu) jalan orang – orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.

Nah. Contoh deh. Kita 17x sehari (itu baru wajib, belom kalau rajin solat sunnah) bilang “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih, Maha Penyayang”. Tapi kenapa masih pada galau seolah ga punya pegangan. Allah mah sayang kok sama kita. Gagal ujian, nilai jelek, ada masalah di kantor. Itu mah musibah. Dan inget tulisan saya tentang SIAP MENGHADAPI MUSIBAH? Bukan karena Allah ga sayang, justru karena Allah sayang dengan mengingatkan bahwa kita berdosa atau sedang ngasih ujian kita buat naik kelas.

“Pemilik hari pembalasan”. Nah kan, apa yang kita lakukan itu pasti dibalas sama Allah. Kok masih buang sampah sembarangan, nyontek, korupsi, dsb. Pas di dunia sih lolos. Tapi yang di kiri kita kan nyatet😀

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah” tapi kok percaya ramalan bintang. Kok percaya ada “kaos keberuntungan” atau barang lain yang membawa keberuntungan?

Saya pernah mendengar kalau Al-Fatihah itu adalah intisari dari Al-Quran. Kalau kita telaah lagi kata per kata dan kalimat per kalimat pasti kita setuju sama hal itu. Memahami Al-Quran itu wajib. Tapi dengan semakin jarang bangetnya kita buka Al-Quran (jleb. Yes offense buat lo col), ya pelan – pelan lah. Berproses bareng – bareng aja kita. Awal – awal coba resapi dulu kalimat per kalimat di Al-Fatihah tadi. Terus kita bayangin “oh kalau lagi baca ayat ini itu artinya kita lagi berbicara ini”. Nah pas solat konsentrasi sambil bayangin kita sedang janji sama Allah. Pasti bakal beda. Dan lama – lama pasti akan tertanam dalam keseharian kita “wah kalau gue gini Allah tau”.

Eh tapi jangan solat pake Bahasa Indonesia ya. Atau pake 2 bahasa. Nanti kaya aliran sesat dulu itu. Apa ya lupa saya namanya. Ibarat ngomong bahasa Inggris sama temen aja. Pas bilang “how are you?” di dalem hati dan pikiram kita sadar kalau kita bilang “apa kabar?”. Al-Fatihah aja dulu deh.

Tulisan ini ga untuk menggurui kok. Berjuta jleb juga menohok saya pas nulis ini. Mudah – mudahan banyak ya yang tertohok. Kita berproses bareng. Kita sadari bareng – bareng masalahnya dimana biar kita tahu apa yang harus diubah. Supaya kita jadi pribadi yang lebih baik di mata orang lain ataupun di penilaian Allah.

-bcl-