Archive for February, 2013

Ntar ya Tuhan, lagi sibuk euy


Percayalah tulisan di bawah ini benar – benar ditulis dengan niat untuk berbagi tamparan.
Tidak ada niat untuk “sok keren” karena menemukan kata – kata yang bagus.
Bukan juga hanya berniat sok sempurna dan berkata dalam hati: “nih elo – elo itu harus mikir kaya gini”.
Saya sangat tertohok begitu membaca tulisan – tulisan di bawah ini.

Sekali lagi, Niat saya untuk share benar – benar untuk berbagi tamparan. Agar kita sama – sama introspeksi diri. Benarkah kita seperti yang tertulis di bawah ini. Mari kita mulai :

———————————————————————————————————-

Tuhan, harap maklumi kami,
manusia – manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar – benar sibuk,
sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda – tunda.
Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan – urusan dunia kami masih amatlah banyak.
Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. TUHAN, TOLONG, JANGAN DULU ENGKAU MENYURUH IZRAIL UNTUK MENGAMBIL NYAWA KAMI. Karena kami masih terlalu sibuk

——————————————————————————————————–

fiuhhh. sok hapus dulu air matanya buat yang nangis. Tarik nafas yang dalam dulu buat yang terdiam karena tertohok.

Bentar, saya juga tarik napas yang dalem dulu.

Sebuah buku berjudul “Tuhan, maaf, kami sedang sibuk”. Sebuah judul buku yang kontroversial. Yang membuat saya tergerak untuk mengambil buku itu.

Dan seperti normalnya orang kalau sedang melihat buku untuk dibeli, saya pun lalu membalik buku ini dan membaca bagian belakangnya yang biasanya berisi cuplikan buku tersebut.

Dan terpampanglah tulisan di atas.

Apakah ini sebuah kebetulan? Apakah sebuah kebetulan saya datang ke toko buku itu pada hari itu?

Apakah sebuah kebetulan ketika masuk ke toko buku tersebut dan saya melihat buku ini?

Banyak sekali judul kontroversial yang dibuat oleh penulis buku, tetapi mengapa judul buku itulah yang benar – benar menarik perhatian saya? Apakah itu sebuah kebetulan?

Ataukah Tuhan memang sedang ingin mengingatkan saya? Bagaimana saya sering “sok sibuk” ketika Tuhan memanggil?

Sekali lagi, Tuhan menunjukkan rasa sayangnya pada saya melalui buku ini.

Sisanya Tuhan serahkan pada saya. Apakah saya hanya tertampar untuk sesaat? Sesaat rajin ibadah tapi beberapa minggu kemudian ilang lagi semangatnya?

Atau malah saya menghindari kasih sayang dari Tuhan ini dengan tidak berani membaca buku itu? Karena apa? Karena saya takut untuk tahu yang seharusnya saya lakukan. Apakah saya lebih memilih ingin tetap dalam ketidaktahuan karena kalau kita tidak tahu maka kita tidak berdosa?

Oh, apa yang saya pikirkan selama ini. Emangnya masuk surga itu gampang. Dan emang bisa tahan apa kalau kita masuk neraka? Astagfirullah.

Terima kasih Tuhan atas tamparannya. Insya Allah saya akan terus memperbaiki diri.

-bcl-

Advertisements

Ten2Five – Lir ilir


Saya suka Indonesia. Saya suka budayanya. Saya suka seninya.

Salah satu bentuk karya seni adalah lagu.

Dan ini salah satu lagu yang saya sukai. Lagu dari Sunan Kalijaga.

Saya memang belum membaca sejarah tentang Sunan Kalijaga, bahkan saya pun tidak tahu asal muasal Sunan Kalijaga menciptakan lagu ini.

Tapi sejak pertama mendengar saya merasakan kedamaian setiap mendengar lagu ini.

Ten2Five menyanyikan kembali lagu ini dengan cara mereka. Dengan tidak menghilangkan rasa damai yang muncul dari lagu ini, Ten2Five telah berhasil memberi rasa “masa kini” pada lagu ini.

Mudah – mudahan teman – teman juga merasakan kedamaian ini.

Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)

Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)

Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)

Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)
Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)

Kupu – Kupu Cupu


Cerita ini saya ambil dari buku ZEROPRENEURS karya Santo Vibby halaman 43 – 44. Sebuah cerita berjudul “kupu – kupu cupu”. Cuma biar ga copy paste teuing, saya tulis ulang pake kata – kata saya yak.

Masih apal metamorfisis dari kupu – kupu. Dikasih deh gambarnya nihhhh.


cat : gambar diambil dari http://sandihariawan.files.wordpress.com/2010/12/daur-kupu.jpg

ga usah yang detail ya siklusnya. secara garis besar aja. telur – ulat – kepompong – kupu2.

Nah cerita ini langsung loncat ke tahap saat kepompong akan menjadi kupu – kupu.

Jadi ada seseorang yang baik hatinya menemukan sebuah kepompong. Dan sama seperti Romi Rafael, kepompong ini bisa juga menghipnotis.

mmmmmm Ga enak ya kalo pake “seseorang”, kita ibaratkan aja namanya Joni ya. Si Joni ini seperti terhipnotis untuk terus memperhatikan kepompong ini. Karena ada sesuatu yang menarik. Dia melihat ada lubang kecil di ujung kepompong tersebut. Dan yang membuat lebih menarik lagi, ternyata dari lubang kecil itu nampak sesosok calon kupu – kupu yang sedang berjuang untuk keluar dari kepompong itu.

Saking serunya, Si Joni tidak beranjak dari tempat itu. Terus saja memperhatikan. Dia ingin menjadi saksi lahirnya sebuah kupu – kupu cantik yang akan terbang menggunakan sayap cantiknya. Keadaan semakin mendebarkan ketika si calon kupu – kupu ini terus berjuang keluar dari lubang kecil itu. Dia coba, gagal. Coba lagi, gagal lagi. Terus coba dan tetap gagal.

Akhirnya, karena selalu gagal. Sang calon kupu – kupu ini pun menyerah. Dia kelelahan. Memang belum saatnya dia keluar menghadapi kerasnya dunia ini. Namun, takdir memang berkata lain. Di saat si calon kupu – kupu itu sudah benar – benar menyerah. Datanglah pertolongan. Dari siapa? tentu saja dari Joni si baik hati. Hatinya yang lembut tidak tega melihat perjuangan si calon kupu – kupu. Dia tidak tega melihat si calon kupu – kupu ini. Yang sudah ingin terbang kesana kemari penuh kebebasan. Ketimbang terkungkung di dalam kepompong.

Joni pergi sesaat untuk kembali lagi dengan sebuah gunting. Dengan penuh kasih sayang dan kehati – hatian, dia gunting sedikit di ujung kepompong itu. Kalau terlalu besar nanti malah menyakiti si calon kupu – kupu. Joni berpikir “yang penting jadi longgar lah, jadi gampang keluar tuh kupu – kupu”.

Benar saja, setelah lubang itu menjadi lebih besar berkat pertolongan Joni, maka si calon kupu – kupu ini bisa keluar dengan mudahnya. Menghirup udara segar. Dan siap terbang ke angkasa.

Namun, apa yang terjadi? Bukan kupu – kupu yang bersayap indah yang Joni lihat. Tapi kupu – kupu gendut. sangat gendut, sehingga sayapnya terlihat kecil. Setelah Joni mengamati lebih jauh, bukan kupu – kupunya yang gendut, tapi memang sayapnya yang belum terbentuk sempurna. Akhirnya sang kupu – kupu itu hanya bisa merangkak di sekitar kepompong. Di sekitar tempat dia seharusnya ditempa lebih lanjut agar menjadi kupu – kupu dengan sayap sempurna, sehingga bisa terbang dengan riang gembira. Bercengkrama dengan kupu – kupu lain. Menjemput pahala dengan menjadi penyampai pesan cinta dari bunga – bunga yang sudah puber.

Namun, itulah nasib dari kupu – kupu itu. Kupu – kupu yang mendapat julukan “KUPU – KUPU CUPU”. Sepanjang hidupnya dia hanya bisa merangkak dengan perut gendut dan sayap mungilnya. Tidak mungkin lagi dia pergi jauh. Seumur hidup hanya bisa merangkak, merangkak, dan merangkak.

Salah siapa? Apakah salah Joni yang “sok baik”? Salah sendiri dia memasang muka memelas ketika gagal menembus lubang kepompong. Coba kalau saja dia tetap tegar dengan kegagalannya. terus berproses agar “sayap”nya terbentuk.

——————————————————————————————————

ya kalau kita berdebat siapa yang salah, apakah joni atau si kupu – kupu cupu bisa sih, silahkan berpendapat masing – masing. Tapi da ga guna. Toh si kupu – kupu itu udah jadi cupu sekarang. Dan yang penting toh kita ga kenal sama kupu – kupu itu hehehe. bercanda yang ini.

Tapi mari kita ambil hikmah dari contoh di atas.

Buat yang masih kuliah dan belum diberi rezeki lulus. Sudahlah nikmati saja. Mungkin “sayap”nya memang belum sempurna.

Buat yang belum kaya, teruslah berjuang. Jangan mau kaya secara instan. Gawat loh kalau memaksakan kaya tapi secara mental belum siap.

Buat para orang tua atau dosen atau siapapun itu. Kalau memang belum saatnya lulus, janganlah diluluskan dulu. Ga usahlah ditetapkan harus lulus maksimal 6 tahun. Soalnya siswanya jadi panik, akhirnya jadi pada ngejar nilai doang. Orang tua nya juga jadi panik dan nyuruh anak – anaknya belajar pelajaran di kelas aja, jadi ga nyuruh untuk ikut himpunan atau kegiatan lainnya yang membentuk karakter (kesannya nyindir sesuatu ya? hei kampusku, yes offense. Saya lagi nyindir kamu).

Saya nih salah satunya. Berasa rada nyesel juga sih cepet lulus. maaf maaf bukannya mau sok – sokan “lo sih udah lulus”. Tapi beneran sekarang merasa “kok bisa ya saya dilulusin”. Berasa “sayap” saya yang berupa karakter untuk menghadapi hidup belum terbentuk secara sempurna.

Tapi sudahlah, daripada menyalahkan orang lain, mending saya terus belajar dan belajar. Bisa dari baca buku, diskusi, dan ikut training.

Hidup itu proses. Hidup itu proses. Saya masih berproses.

Hidup itu belajar. Hidup itu belajar. Saya masih belajar.

Saya bukan kupu – kupu cupu. Dan saya tidak akan pernah mau menjadi kupu – kupu cupu.

Kaya. Sukses. Bahagia. itu adalah tujuan akhir. Jika belum sampai sana berarti memang belum sempurna “sayap” saya.

Saya akan terus berusaha MENGUSAKAN YANG TERBAIK. Tapi tentu saja MENYIAPKAN mental untuk YANG TERBURUK.

-bcl-

sudah kawin, sudah melahirkan


Masih inget tulisan saya di bawah ini

https://satriyadiwibowo.wordpress.com/2013/01/13/akan-kawin/

ini adalah foto saat itu

20130112_163926[1]

Saat ini fotonya menjadi :

IMG-20130218-00512

Itu apa yang merah2? Itu adalah anak landak yang baru keluar dari perut ibunya. Anak – anak landak yang siap mengarungi kerasnya dunia. Total 4 anak landak lahir ke dunia ini. Entah tepatnya pukul berapa, yang jelas pulang kantor tadi sekitar pukul 20.00 saya lihat pemandangan yang mengharukan. Akhirnya sukses juga saya ngawinin piaraan saya. Eh bukan saya yang ngawinin. Saya yang mempertemukan mereka sehingga terjalin kisah cinta antara 2 orang tua landak. Mereka kawin. Dan mereka berhasil.

Hmmmm btw. kok cuma ada ibunya? kemana si bapak?

Dasar laki – laki. Disaat si ibu berjuang melahirkan buah hati mereka. Si bapak malah sedang berasyik masyuk dengan wanita lain

IMG-20130218-00513

ckckckkc dasar laki – laki. Apakah dia salah? Engga dong. kan saya yang nyuruh :p

Mudah – mudahan tokcer juga dengan pasangan barunya 😀

Tenang Kuasai


Waduh, 2 hari bolos nulis nih. Bukannya mau beralibi, tapi beneran di Ujung Kulon ga ada sinyal hehehe. Mohon dimaklumi.

Inspirasi bisa dari mana saja. Untuk sekarang saya mau berbagi inspirasi yang datangnya dari seorang teman sebaya saya.

Jadi saya punya teman. Teman satu angkatan waktu kuliah dulu. Teman berjuang bersama ketika kampanye. Dia mencalonkan diri menjadi kahim, saya menjadi senator. Seorang teman yang bernama Herdadi Supriyo Parbowo. Tulisan kali ini saya dedikasikan untuk dia. Salah satu teman yang mungkin paling banyak menginspirasi saya selama kuliah.

Sebagai gambaran saja mengenai Herdadi. Saya bisa bilang Herdadi ini mirip banget sama jokowi, baik postur maupun tingkah laku. Posturnya kurus-tinggi. Terus pembawannya juga santai, kalem, hidup itu seolah – olah ga ada beban aja gitu. Dari Herdadi ini juga saya tahu Jokowi pertama kali. Dia selalu bercerita bagaimana Walikotanya telah melakukan hal yang luar biasa. Jauh sebelum jokowi terkenal kaya sekarang.

Jadi, Herdadi ini mempunyai sebuah konsep yang menarik. “TENANG KUASAI”. Sebuah konsep yang dia gunakan untuk setiap aspek kehidupan dia. Konsep yang sederhana, hanya 2 kata. Tapi memang kedua hal itu yang harus kita lakukan kalau sedang menghadapi masalah.

Simpel aja. TENANG lalu KUASAI. Kenapa bukan kuasai dulu baru tenang? Selain akan terdengar aneh ya kalau konsepnya jadi KUASAI TENANG (Terdengar aneh banget kan ya hehe), tapi karena memang tahapannya itu harus TENANG dulu baru KUASAI.

Ya ngomong sih gampang ya. Tapi dikira gampang apa bisa TENANG dalam setiap suasana. Susah tau!!
EH, kata siapa susah? itu mah tergantung orangnya. Buat herdadi, untuk tenang itu mungkin cenderung lebih mudah daripada kita. Karena dia sudah membiasakan diri untuk tetap tenang dalam segala suasana. (Sekali lagi kalau gabisa bayangin herdadi kaya gimana, bayangin aja jokowi. Apa pernah dia panik yang sampai membuat dia melakukan hal konyol?). Lalu bagaimana buat yang belum terbiasa untuk tenang dalam setiap suasana?

Nah bukan -bcl- kalau tidak memberikan saran di tulisannya. Namanya saran ya boleh diterima atau tidak hehe. Ini adalah saran yang saya dapat dari menelaah konsep TENANG KUASAI milik Herdadi.

Yang pertama bagaimana bisa TENANG dalam setiap suasana? Seperti disebutkan sebelumnya ya. Untuk bisa tenang di setiap suasana mau gamau harus dibiasakan. Logika saya mengenai membiasakan TENANG ini mengarah kepada “agar bisa membiasakan TENANG kita harus meningkatkan spiritual kita”. Semakin kita cinta sama dunia, semakin bakal sering panik deh kalau ada apa – apa. Dimarahin boss bakal panik karena takut dipecat. Dimarahin pacar panik karena takut diputusin, Dapet nilai jelek panik karena takut IP jelek terus susah cari kerja, dan lain – lain. Coba kita serahkan kepada Allah. Apapun yang terjadi pasti adalah yang terbaik dari Tuhan.

Untuk membangun spiritual ya kita harus kembali pada agama yang kita anut. Punya kitab suci ya dipelajari. Punya ritual ibadah, ya dilaksanakan. Pokoknya kasih makan deh spiritual kita. Yang muslim dalam sholatnya cobalah mengerti apa sih yang dibaca. Yang non-muslim pasti lah ada kegiatan ritualnya juga ya, pahami apa maksud dari kegiatan ritual yang dijalankan. Ujung – ujungnya kalau spiritual kita diberi makan terus kita bakal selalu inget sama Allah. Jadi kitanya juga bakal lebih TENANG karena menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Bukan berarti menyarankan untuk tidak berusaha ya. Berusaha mah kudu maksimal. Tapi apapun hasilnya itu adalah yang terbaik yang dikasih oleh Allah. USAHAKAN YANG TERBAIK PERSIAPKAN YANG TERBURUK.

Semakin kita cinta sama dunia, semakin bakal sering panik deh kalau ada apa – apa. Dimarahin boss bakal panik karena takut dipecat. Dimarahin pacar panik karena takut diputusin, Dapet nilai jelek panik karena takut IP jelek terus susah cari kerja

Yang kedua tentang KUASAI. Nah, kalau TENANG itu masuk ke sisi spiritual, maka KUASAI itu masuk ke sisi logis. Sisi yang pakai pemikiran logis kita. Untuk bisa menguasai masalah kita harus tau apa masalahnya. Ibarat pawang harimau. Dia akan sukses jika tahu seperti apa harimau itu. Fisik dari harimau itu seperti apa. Suara aumannya seperti apa. Senjata apa yang dimiliki harimau untuk menyerang. Baru jika dia sudah paham seluk beluk tentang harimau, dia akan tahu bagaimana cara menjinakkan harimau. Apa risiko – risiko yang bisa terjadi sehingga dia bisa lebih berhati – hati. Sama seperti itu, jika terjadi sesuatu, jika terjadi masalah. Kita harus tau dulu masalah apa sih sebenarnya yang kita hadapi. Apa sebabnya bisa terjadi, setelah itu baru bisa kita temukan pilihan – pilihan solusi yang mungkin.

Ibarat pawang harimau. Dia akan sukses jika tahu seperti apa harimau itu. Fisik dari harimau itu seperti apa. Suara aumannya seperti apa. Senjata apa yang dimiliki harimau untuk menyerang. Baru jika dia sudah paham seluk beluk tentang harimau, dia akan tahu bagaimana cara menjinakkan harimau

Setelah tahu masalah apa, kita bisa mencari solusi. Nah mendapatkan solusi yang terbaik, solusi yang benar – benar menyelesaikan tentu saja kita harus memperluas wawasan. Wawasan luas akan membuat kita berpikir lebih luas, tidak sempit. Sehingga solusi yang kita pilih adalah solusi terbaik. Bagaimana agar wawasan semakin luas? Tentu saja harus terus belajar. Belajar apa aja caranya? BACA BUKU, DISKUSI, IKUT TRAINING. Namun kembali ke awal, kita bisa berpikir jernih, menggunakan logika kita sebaiknya adalah ketika kita bisa TENANG terlebih dahulu. jadi inget alurnya. TENANG lalu KUASAI.

Luar biasa kan ya konsep TENANG KUASAI itu. Menyentuh sisi spiritual maupun sisi logis. Hebat sekali memang Herdadi, bisa menemukan konsep yang menyeluruh seperti ini. Penasaran sama Herdadi? atau jadi terpesona sama Herdadi? Aduh maaf dia udah ada yang punya. bukan cuma pacar, tapi udah jadi istri hehehe.

Special request buat Herdadi. Kalau ada yang keliru segera marahi saya her. Akan langsung saya update biar tidak terjadi informasi yang bias 😀

-bcl-

Pulau Peucang


Hari ini, saya akan pergi refreshing bersama kawan – kawan ke Pulau Peucang. Sebuah tempat wisata di daerah Ujung Kulon, Banten. Berikut adalah gambar yang saya dapat dari google :

Mari kita buktikan apakah memang Pulau Peucang itu seindah yang terlihat di gambar.

nb : mau ber-alibi. maaf ya kalau 2 hari ke depan tidak ada update tulisan. Takutnya disana ga sempet nulis gitu. hehehe. Tapi kalau masih bisa nulis Insya Allah akan diusahakan.

-bcl-

gambar diambil dari :



Buah berbuat baik


Saya sangat percaya bahwa Tuhan itu selalu hadir. Tuhan itu selalu mencatat apa – apa yang kita kerjakan. Dan Tuhan itu membalas apa yang kita lakukan. Masalah cepat atau lambat balasannya itu adalah rahasia Allah. Bukan berarti pas kita berbuat baik akan dibalas saat itu juga. Belum tentu.

Begitu juga kalau kita melakukan keburukan. Belum tentu akan langsung dibalas. Contoh deh, dalam Islam shalat 5 waktu itu wajib. Tapi ketika kita ga solat, apakah kita langsung dihukum? Kita langsung sakit gitu kalau misalnya ga shalat. Ga kan ya, ga selalu langsung dihukum. Ya, kalau langsung dibalas kaya gitu pasti semua manusia akan taat. Tapi bukan itu cara Tuhan. Tuhan menguji keimanan umat-Nya tidak dengan cara yang seperti itu. Jika kita tidak shalat pasti dicatat. Dibalasnya kapan dan dengan cara apa, itu Tuhan yang menentukan. Saya sangat percaya hal ini.

Contoh deh, dalam Islam shalat 5 waktu itu wajib. Tapi ketika kita ga solat, apakah kita langsung dihukum? Kita langsung sakit gitu kalau misalnya ga shalat. Ga kan ya, ga selalu langsung dihukum.

Sebelum melanjutkan, saya mau minta maaf kalau lanjutan dari tulisan ini terkesan menyombongkan diri. Insya Allah tidak ada tujuan kesana. Murni ingin berbagi pengalaman tentang kebesaran Tuhan. Mudah – mudahan saya selalu dijauhi dari sifat sombong yang meracuni hati saya. Amiiin.

Saya merasa hidup saya sangat enak. Saya diberi banyak sekali kenikmatan oleh Tuhan. Saya tidak bisa mengingat terlalu detail tentang masa kecil saya. Yang jelas walau hidup saya waktu kecil tidak mewah – mewah banget, tapi setidaknya saya selalu bahagia. Orang tua saya memberikan rasa bahagia itu setiap saat. Waktu jaman sekolah dasar itu masanya bermain deh. Masanya pulang sekolah itu untuk sepakbola. Pokoknya bahagia lah. Orang tua juga ga memaksa untuk ikut les ini-itu. Kalau ga salah saya mulai les itu di kelas 5 SD. itu juga les bahasa inggris yang 2x seminggu.

Dari sekolah dasar, saya melanjutkan ke “jalan sutra” di Bandung. Apa itu jalur sutra? Yaitu jalur sekolah – sekolah favorit sampai kuliah di universitas favorit juga. Saya masuk ke SMP 5 Bandung – SMU 3 Bandung – Institut Teknologi Bandung. Apakah berhenti sampai situ? ternyata tidak. Kenikmatan itu berlanjut. lulus kuliah bulan Juli, bulan September saya sudah mendapatkan pekerjaan di tempat yang secara penghasilan lumayan, dan dari sisi beban kerja tidak terlalu berat. (Untuk yang terakhir ini mungkin relatif ya, ada yang mengatakan bahwa menjadi karyawan itu adalah musibah, karena mendingan lulus kuliah langsung usaha. Saya apresiasi perbedaan pemikiran. Tapi boleh lah saya mengatakan ini adalah kenikmatan juga).

Lantas saya berpikir, kenapa sih Tuhan sangattttt baik sama saya. Timbang menimbang. Pikir memikir. Sampai akhirnya saya menyimpulkan dengan kedangkalan ilmu yang saya miliki, mungkin saja Allah sangat baik sama saya karena ketika masih kecil saya menjadi anak yang baik. (sekali lagi mohon maaf kalau kesannya jadi sombong. Tapi bukan itu tujuannya kok). Saya tadi bilang di awal kalau saya tidak bisa mengingat detail kehidupan saya ketika kecil. Tapi setahu saya, saya adalah anak baik ketika kecil dahulu. Jika disuruh orang tua melakukan sesuatu langsung saya lakukan. Dan yang paling saya ingat. Misal orang tua saya menyuruh membeli sesuatu ke warung. berapapun kembaliannya pasti saya kembalikan. Padahal orang tua sih ga nagih “mana kembaliannya”, tapi pasti saya kembalikan.

Kadang saya juga berpikir. Mencoba melogikakan balasan dari Tuhan. Bukan bermaksud menyederhanakan, tapi maksudnya untuk semakin menyakinkan saya tentang kebesaran Tuhan. Contoh deh. Saya saat ini memiliki laptop. dibelikan oleh ayah saya ketika kuliah dulu. Apakah ini rejeki ayah saya? kemudian karena rejeki ayah berlebih maka saya dibelikan laptop? Betul itu adalah jawaban yang tepat.

Tapi logika saya memunculkan alternatif jawaban lain. Bisa saja sebenarnya karena saya berbuat baik lalu Tuhan menyimpankan kebaikan – kebaikan itu. Lalu kebaikan yang saya buat itu turut memberi peran kepada kesuksesan bisnis ayah saya. Lantas karena bisnisnya sukses, ayah saya membelikan saya laptop.

Sehingga, jika saya tarik awal dan akhirnya. saya dapat laptop karena saya berbuat baik. Bukan berarti mengecilkan usaha ayah saya sendiri. Tetap saja faktor paling besar yang menyebabkan usaha ayah saya sukses adalah kerja keras ayah saya. Bandingannya mah gini lah. Karena usahanya cukup sukses, Ayah saya bisa beli mobil dan rumah, lalu saya dibelikan laptop. Jadi perbandingan antara peran kebaikan saya dan usaha ayah saya adalah antara laptop dengan rumah + mobil. Sangat kecil tapi tetap memiliki peran.

Itu contoh baiknya. Sering juga saya merasakan hal yang sebaliknya. Seringnya sih malah pas udah kerja (hehehe jadi introspeksi juga nih, pas udah kerja malah jadi lebih sering bikin dosa berarti hehe). Contoh nih, kalau ngomongin penghasilan sebenernya penghasilan saya lebih dari cukup jika dibandingkan dengan pengeluaran rutin per bulan. Tapi setelah saya melakukan beberapa hal yang tidak baik. Pasti aja penghasilan saya itu kok asa abis terus tiap bulan (ya ga sampe abis banget sih, masih bisa nabung/investasi. Tapi harusnya bisa nabung/investasi lebih dari itu). Bisa karena saya lupa untuk sedekah, atau saya melakukan hal jelek lainnya. Nah, kalau misalnya uang sering ilang, motor sering masuk bengkel, atau hal – hal lain yang masuknya ke “biaya tak terduga”, ada kemungkinan itu cara Allah mengambil rejeki kita karena melakukan hal yang dilarang olehnya.

Dari kedua contoh di atas saya benar – benar percaya Tuhan itu selalu mencatat dan membalas sesuai apa yang kita lakukan. Oleh karena itu, yuk kita banyakin deh tabungan berbuat baiknya. Biar masa depan kita lebih cemerlang gitu. Kurangi deh hal – hal yang sifatnya tidak baik. Yang sifatnya bikin dosa gitu. Biar hidup kita makin disayang sama Tuhan.

Yuk kita Sama – sama belajar. Sama – sama mengingatkan 😀

-bcl-

%d bloggers like this: