Tuntas sudah buku “menuju manusia merdeka” karya Ki Hadjar Dewantara saya baca. Buanyak banget pencerahan yang didapatkan. Pendidikan yang seharusnya itu seperti apa sudah lebih terbayang oleh saya. Yaaa kalaupun nantinya saya tidak punya kuasa untuk merubah bangsa secara masif, setidaknya bisa saya gunakan untuk mendidik anak saya kelak. Amiiin

Insya Allah akan saya share nantinya beberapa isi dari buku tersebut.

Tapi dipikir – pikir lama juga ya saya baca buku ini. Dua minggu saya butuhkan untuk menyelesaikan buku setebal 200 halaman ini. Untuk itu Mau bilang makasih dulu ah sama Martalia, orang baik yang meminjamkan buku tersebut kepada saya. Terima kasih juga atas ijin dari dia untuk nambah masa peminjaman jadi dua minggu hahaha. Btw dia udah siap menikah lohh. Jadi buat yang lagi nyari jodoh dan berminat sama lia bisa kirimkan cv nya segera. (hahahaha ampun li :p )

Untuk sekarang saya mau menulis sedikit saja tentang peran wanita dalam pendidikan anak menurut buku Ki Hajar Dewantara.

Pendidikan untuk anak – anak itu berlangsung sepanjang hidup si anak tersebut. Namun, secara garis besar pembagian cara mendidik anak itu dibagi menjadi 3 periode, biasanya di Indonesia memakai hitungan windu.

Umur 0 – 8 tahun
Umur 8 – 16 tahun
Umur 16 – 24 tahun

Di atas umur 24 tahun sudah dikatakan dewasa lah jadi ga masuk periodisasi pendidikan anak – anak.

Nah dalam buku ini diucapkan berulang – ulang bahwa masa terpenting adalah di periode pertama. Karena di periode ini segala informasi yang masuk akan membentuk watak dari si anak hingga dewasa nantinya. Makanya pendidikan di usia tersebut sangatlah riskan. Salah didik risikonya bukan hanya 1 atau 2 tahun, tapi bisa jadi seumur hidup.

Nahhh bagaimana sih cara mendidik yang baik? Mmmm untuk detailnya akan saya sampaikan di tulisan berikutnya. Sesuai cerita saya di awal tulisan bahwa saat ini saya mau berbagi ilmu tentang peran perempuan dalam pendidikan. Ntar ya heheh.

Kembali ke masa riskan anak – anak. Di masa 0 – 8 tahun anak – anak itu masih bersatu antara jiwa dan batinnya sedangkan pikirannya belum berkembang. Sehingga si pikiran itu belum bisa mem-filter apa – apa saja yang dirasakan oleh jiwa dan batin si anak.

Makanya banyak ya dari kita yang menyadari kalau anak kecil itu lebih berani daripada orang dewasa. Bukan lebih berani sebenernya. Tapi mereka lebih “ga mikir”. Beraninya mereka itu berani karena tidak tahu. Misal kalau ada anjing, bisa aja anak kecil mah malah ngedeketin. Karena pikirannya belum bisa mem-filter “wah kalau deketin anjing bisa digigit gue”.

Oleh karena itu, pada masa itu anak – anak sangat butuh pendidikan yang sifatnya menyentuh jiwa dan batinnya. Menyentuh perasaan lah gitu. Dan seperti sudah diketahui bersama, Kalau udah maen perasaan mah perempuan jagonya. Karena memang seperti itu kodratnya. Yang namanya perempuan kan lebih sabar, lebih telaten, lebih bisa membuat anak – anak nyaman lah kalau berdekatan dengan perempuan.

Maka dari itu penting sekali peran perempuan dalam mendidik anak di usia ini. Karena dengan perempuan anak – anak akan lebih nyaman melakukan hal – hal yang dia inginkan. Ditakutkan jika dididik lebih banyak oleh laki – laki, maka si anak akan melakukan sesuatu lebih karena takut dimarahi ketimbang melakukan sesuatu karena keinginannya sendiri.

Saking pentingnya, perguruan taman siswa yang didirikan Ki Hadjar menggunakan guru yang seluruhnya wanita untuk mendidik murid – murid di usia ini. Karena Ki Hadjar sudah tahu apa yang dibutuhkan anak di usia itu. Dan Ki Hadjar juga tahu, kalau sesuai kodratnya maka itu adalah “ladang pekerjaan” untuk perempuan.

Kalau contoh di atas masih dirasa kurang ngena. Simak ucapan Ki Hadjar Dewantara di bawah ini :

Maka dari itu, kita serukan saja: “hai, kaum perempuan Indonesia, masuklah ke dunia pendidikan! Di situlah kamu akan merasakan kenikmatan diri, karena kamu bekerja guna kemuliaan rakyat dan bangsa, yang selaras dengan kodratmu secara lahir maupun batin.”

Hebat ya Ki Hadjar. Saya aja merinding loh denger kata – kata di atas. Apalagi para perempuan yang baca ya.

Buat para perempuan, silahkan dipertimbangkan saran dari Ki Hadjar di atas. Garis bawahi kata – kata “selaras dengan kodratmu secara lahir maupun batin”. Ya, selaras. Memang itu kodrat wanita. Untuk mendidik. Menyiapkan generasi berikutnya.

Buat yang udah terlanjur berkarir di luar dunia pendidikan. Setidaknya lakukanlah pendidikan yang seharusnya kepada anak – anaknya. Cari tahu pendidikan yang bagus untuk anak itu seperti apa. Buku Ki Hadjar ini cukup kok untuk jadi referensi. Jangan sekali – kali melepaskan tanggung jawab mendidik anak kepada pihak sekolah. Karena tetap, pendidik utamanya adalah ibu di rumah.

Buat saya. Saya mah mulai sekarang mau nyari calon istri yang calon guru/dosen aja ahhhh.

Eh, udah dapet deng. Ya ga neng Nurul Aeni Octaviany? :p

-bcl-