Masih tentang Ki Hadjar Dewantara.

Kalau kita ucap nama Ki Hadjar Dewantara. Apa sih yang paling pertama biasanya tercetus? Yang pertama pasti “Oh beliau kan Bapak Pendidikan Indonesia”. Mungkin itu ya. Setelah itu, mungkin yang kepikiran berikutnya adalah ajaran beliau. Pasti sekarang masih pada apal juga kan konsep pendidikan beliau sbb :

Ing Ngarso Sung Tulodo : Di depan memberi teladan
Ing Madyo Mangun Karso : Di tengah memberi semangat
Tut Wuri Handayani : Di belakang memberi dorongan

Sangat menyeluruh ya kalau kita resapi lagi. Bagaimana posisi setiap orang sebagai pendidik. Ga cuma guru, tapi juga orang tua, presiden, rektor, ketua himpunan, ketua RT, bahkan teman dengan teman pun bisa diterapkan. Makanya kita pun bisa ada di posisi pendidik loh. Bukan hanya ketika kita udah punya anak aja.

Ketika kita ada di “depan”, kita diharapkan untuk tetap berbuat baik setiap saat untuk menjadi contoh yang baik buat yang lain. Ketika posisi kita ada di “tengah” kita dituntut untuk terus memberi semangat. Dan ketika kita ada di “belakang” Kita harus terus memberikan dorongan – dorongan agar orang lain bisa mencapai tujuannya.

Dalam tulisan ini, saya mau menggarisbawahi kalimat terakhir. Kalimat yang paling populer dibanding kalimat sebelumnya. “TUT WURI HANDAYANI”. Kenapa ini saya bilang lebih terkenal ketimbang dua tulisan sebelumnya? Mari kita lihat gambar di bawah ini :

tut-wuri-handayani-warna

Yak, inget lambang itu? lambang yang menghiasi hidup kita semenjak SD sampai SMU. Saya juga masih ingat, lambang ini ada di depan topi sekolah kita. Anak sekarang masih pada dapet ga ya topi – topi itu. Yang biasanya males dipake karena ga keren ahahhaa. Dan yang penting, Kata – kata yang tertulis disitu bukanlah “Ing Ngarso Sung Tulodo”. Bukan pula “Ing Madyo Mangun Karso”. Tapi yang tertulis di lambang itu adalah “Tut Wuri Handayani”. Dengan kata lain, tanpa mengecilkan 2 kalimat yang lain, dinas pendidikan menaruh perhatian lebih kepada kata – kata tersebut.

Setelah saya membaca buku Ki Hadjar Dewantara, semakin jelas mengapa kata Tut Wuri Handayani yang seolah – olah lebih dimunculkan. Saya ulang lagi ya arti katanya.

TUT WURI HANDAYANI : DI BELAKANG MEMBERI DORONGAN.

Di belakang. Kenapa sih yang lebih diutamakan posisi Kita (sebagai pendidik-red) malah yang ada di belakang. Bukan saat ada di depan atau di tengah? Karena jawabannya jelas. Yang namanya pendidik mah tugasnya hanya mendorong apa yang diinginkan oleh si orang yang dididik.

Jadi yang namanya pendidik itu bukan lah orang yang menunjukkan jalan “eh kamu ke situ”, “kamu bagusnya masuk jurusan itu aja”, atau “kamu ga cocok deh kerja di air”. dan sebagainya. Yang menentukan arah hidup kita tentulah kita sendiri. Bukan pendidik kita. Bukan guru kita atau bahkan bukan orang tua kita. Sekali lagi, bukan mau ngajarin durhaka ya. Tapi jangan sampai kita ikut – ikut aja apa yang disuruh sama orang tua, padahal belum tentu itu adalah yang kita mau. HIDUP LO URUSAN LO

Sekali lagi, dari saya membaca tulisan Ki Hadjar Dewantara saya diingatkan untuk menentukan sendiri kemana arah hidup saya. Masa depan seperti apa yang saya inginkan. Ingin menjadi apa saya di masa depan. Mungkin ini sulit bagi saya. Karena seperti kita tahu, pendidikan formal ketika saya kecil dulu tidak mengajarkan hal ini. Sistem pendidikan formal malah memprogram diri saya untuk melakukan apa yang disuruh dan melarang apa yang tidak disuruh. Dan saya adalah produk dari pendidikan formal tersebut.

Tapi apakah saya lantas menyerah? mengeluh? menyalahkan sistem pendidikan terus menerus. Tentu itu adalah sebuah pilihan, tapi saya tidak akan memilih pilihan tersebut. Saatnya bagi saya mencari tahu apa yang saya inginkan. Terus belajar menambah wawasan, menambah inspirasi – inspirasi. Sampai saat ini, menjadi petani modern masihlah menjadi tujuan hidup saya. Saatnya saya mencari tahu bagaimana caranya menjadi petani modern. Bismillah

-bcl-