Masih tentang buku Ki Hadjar Dewantara. Mohon maaf jika para pembaca muak tentang tulisan saya yang beberapa terakhir ini menulis tentang pendidikan dan buku Ki Hadjar Dewantara. Tidak ada tujuan sombong seolah – olah hanya saya yang baca buku ini, namun murni hanya ingin berbagi ilmu yang didapat.

Tim penulis buku Ki Hadjar Dewantara “Menuju Manusia Merdeka” membagi buku tersebut ke dalam 3 bagian besar sebagai berikut :

Bagian pertama adalah tentang pendidikan dan kebudayaaan. Di bagian ini dijelaskan tentang pendidikan dan kebudayaan secara umum. Apa itu pendidikan, apa itu kebudayaan, apa itu watak, bagaimana hubungan pendidikan dan kebudayaan dengan agama, dan sebagainya.

Bagian kedua adalah tentang pendidikan keluarga. Di bagian ini dijelaskan bagaimana pentingnya peran pendidikan dalam keluarga karena pendidikan paling pertama itu didapat dari keluarga. Sehingga, penting sekali bagi orang tua untuk menjadi pendidik yang baik.

Bagian terakhir menceritakan tentang pendidikan anak – anak. Bagaimana sih pendidikan bagi anak yang seharusnya jika dilihat dari kodrat anak tersebut.

Nah di bagian terakhir ini yang mau saya bagi dalam tulisan ini. Mungkin ga akan terlalu detail saya ngasihnya, karena takut salah nangkep dari buku tersebut. Lagipula karena saya belum pernah punya anak, jadi kesannya omdo kalau saya bicara terlalu detail. Jadi mau berbagi secara umum nya aja dulu tentang pendidikan anak.

Kalau ngomongin anak – anak, banyak yang bilang cape ya ngurusin anak – anak itu. Energinya ga abis – abis. Karena itu adalah salah satu kodrat dari anak – anak. Anak – anak akan selalu bergerak. Jika ada anak yang diam, maka itu adalah salah satu tanda ada yang bermasalah dengan jiwa atau badannya. Ingat ya, pada masa anak – anak itu jiwa dan badannya seolah – olah masih bersatu. Belum ter-filter oleh pikiran karena pikirannya belum berkembang.

Kodrat kedua yang dimiliki oleh seorang anak adalah mereka selalu bermain. Dalam masa anak – anak bermain adalah kegiatan sehari – harinya. Anak – anak tidak akan berhenti untuk bermain. Mereka akan bermain jika mereka sudah lelah, namun itu pun sangat jarang terjadi karena seperti disebutkan di atas bahwa energi mereka sangat berlebih. Jika mereka sedikit lelah, mereka akan mengganti permainannya dengan permainan yang lebih ringan, tapi mereka tetap bermain.

Bermainnya anak tapi bukan tidak ada gunanya. Justru dengan bermain itulah anak – anak belajar. Belajar tentang kehidupan yang akan dijalaninya di masa depan. Hmmmm kalau udah gini jadi inget kang ZAINI ALIF ya hehehe. Oleh karena itu, sudah sepantasnya dalam masa anak – anak itu sering – seringlah diajak bermain.

Ahli pendidikan anak yang juga pencetus pembuatan kindergarten (taman kanak – kanak), Frobel, merumuskan syarat – syarat permainan atau alat – alat permainan yang diciptakan untuk anak – anak. Syaratnya adalah sebagai berikut :

1. Harus menyenangkan anak – anak (Kegembiraan adalah pupuk alami bagi pertumbuhan jiwa)
2. Harus memberi kesempatan kepada anak – anak untuk berfantasi. Jadi permainan itu jangan dibuat agar anak – anak menjadi meniru sesuatu.
3. Permainan dibuat jangan terlalu mudah, jadi ada rasa gembira dari anak – anak ketika menyelesaikan permainannya. Tapi tentu saja jangan terlalu sulit juga, karena akan membuat anak – anak kurang PD jika tidak bisa menyelesaikan permainannya.
4. Permainan yang dibuat usahakan ada hubungannya dengan kesenian, misalnya mewarnai atau memberikan bentuk – bentuk yang indah. Rasa keindahan itu akan mengarah kepada keluhuran budi.
5. Permainan tersebut harus mengandung isi yang mendidik anak ke arah ketertiban, seperti menggambar, berbaris, menyanyi. Sebab ketertiban akan menjadi pokok sikap kemanusiaan dan kemasyarakatan yang berguna bagi anak – anak ketika dewasa nanti.

Kodrat berikutnya dari anak – anak adalah rasa ingin tahunya yang besar. Segala rangsangan yang masuk melalui panca indranya pasti akan melahirkan rasa ingin tahu yang besar. Warna yang dilihat oleh mata, suara yang terdengar oleh telinga. Pasti akan menarik perhatian dari anak – anak. Akhirnya kalau misalnya jalan – jalan sama anak – anak pasti apa aja dipegang. Karena tertarik dengan warna atau suara yang dihasilkan. Nah saya pribadi sering melihat orang tua yang melarang ketika anak – anak ingin memegang sesuatu. Saya mikirnya waktu itu biasa aja, mungkin ya itu didorong rasa takut kalau anaknya nanti kenapa – kenapa.

Ternyata engga loh, ahli pendidikan anak lainnya, Dr. Maria Montessori (mungkin pernah denger ya ada sekolah Montessori. nah sekolah – sekolah itu adalah sekolah yang menggunakan konsep dari Dr. Maria Montessori ini) mengatakan sebagai berikut :

Andaikata anak – anak dalam latihan diri sendiri (melalui rangsangan pancaindra seperti yang disebutkan di atas) itu banyak mendapat pertolongan dari orang tua, maka persiapan untuk memperoleh kecakapan atau kepandaian serta kelancaran hidup dan penghidupannya akan terganggu atau terhambat. Mungkin jika keadaan itu berlangsung terus menerus, anak – anak bisa menjadi tidak mampu berbuat sesuatu yang lebih sulit.

Hmmmmm ternyata sulit juga ya mendidik anak – anak. Ya saya gatau sih beneran sulit atau tidak karena belum punya anak hihi. Tapi yang jelas mendidik anak adalah hal yang riskan. Riskan jika kita tidak mendidik dengan tepat. Sebenarnya semua orang tua pasti memiliki insting untuk mengajarkan hal – hal baik kepada anaknya. Namun insting – insting itu biasanya berdasarkan pengalaman yang dialami oleh orang tua. Akan lebih baik lagi jika kita mencari tahu ilmu tentang anak – anak agar kita lebih terbayang apa yang harus dilakukan.

-bcl-