Cerita ini saya ambil dari buku ZEROPRENEURS karya Santo Vibby halaman 43 – 44. Sebuah cerita berjudul “kupu – kupu cupu”. Cuma biar ga copy paste teuing, saya tulis ulang pake kata – kata saya yak.

Masih apal metamorfisis dari kupu – kupu. Dikasih deh gambarnya nihhhh.


cat : gambar diambil dari http://sandihariawan.files.wordpress.com/2010/12/daur-kupu.jpg

ga usah yang detail ya siklusnya. secara garis besar aja. telur – ulat – kepompong – kupu2.

Nah cerita ini langsung loncat ke tahap saat kepompong akan menjadi kupu – kupu.

Jadi ada seseorang yang baik hatinya menemukan sebuah kepompong. Dan sama seperti Romi Rafael, kepompong ini bisa juga menghipnotis.

mmmmmm Ga enak ya kalo pake “seseorang”, kita ibaratkan aja namanya Joni ya. Si Joni ini seperti terhipnotis untuk terus memperhatikan kepompong ini. Karena ada sesuatu yang menarik. Dia melihat ada lubang kecil di ujung kepompong tersebut. Dan yang membuat lebih menarik lagi, ternyata dari lubang kecil itu nampak sesosok calon kupu – kupu yang sedang berjuang untuk keluar dari kepompong itu.

Saking serunya, Si Joni tidak beranjak dari tempat itu. Terus saja memperhatikan. Dia ingin menjadi saksi lahirnya sebuah kupu – kupu cantik yang akan terbang menggunakan sayap cantiknya. Keadaan semakin mendebarkan ketika si calon kupu – kupu ini terus berjuang keluar dari lubang kecil itu. Dia coba, gagal. Coba lagi, gagal lagi. Terus coba dan tetap gagal.

Akhirnya, karena selalu gagal. Sang calon kupu – kupu ini pun menyerah. Dia kelelahan. Memang belum saatnya dia keluar menghadapi kerasnya dunia ini. Namun, takdir memang berkata lain. Di saat si calon kupu – kupu itu sudah benar – benar menyerah. Datanglah pertolongan. Dari siapa? tentu saja dari Joni si baik hati. Hatinya yang lembut tidak tega melihat perjuangan si calon kupu – kupu. Dia tidak tega melihat si calon kupu – kupu ini. Yang sudah ingin terbang kesana kemari penuh kebebasan. Ketimbang terkungkung di dalam kepompong.

Joni pergi sesaat untuk kembali lagi dengan sebuah gunting. Dengan penuh kasih sayang dan kehati – hatian, dia gunting sedikit di ujung kepompong itu. Kalau terlalu besar nanti malah menyakiti si calon kupu – kupu. Joni berpikir “yang penting jadi longgar lah, jadi gampang keluar tuh kupu – kupu”.

Benar saja, setelah lubang itu menjadi lebih besar berkat pertolongan Joni, maka si calon kupu – kupu ini bisa keluar dengan mudahnya. Menghirup udara segar. Dan siap terbang ke angkasa.

Namun, apa yang terjadi? Bukan kupu – kupu yang bersayap indah yang Joni lihat. Tapi kupu – kupu gendut. sangat gendut, sehingga sayapnya terlihat kecil. Setelah Joni mengamati lebih jauh, bukan kupu – kupunya yang gendut, tapi memang sayapnya yang belum terbentuk sempurna. Akhirnya sang kupu – kupu itu hanya bisa merangkak di sekitar kepompong. Di sekitar tempat dia seharusnya ditempa lebih lanjut agar menjadi kupu – kupu dengan sayap sempurna, sehingga bisa terbang dengan riang gembira. Bercengkrama dengan kupu – kupu lain. Menjemput pahala dengan menjadi penyampai pesan cinta dari bunga – bunga yang sudah puber.

Namun, itulah nasib dari kupu – kupu itu. Kupu – kupu yang mendapat julukan “KUPU – KUPU CUPU”. Sepanjang hidupnya dia hanya bisa merangkak dengan perut gendut dan sayap mungilnya. Tidak mungkin lagi dia pergi jauh. Seumur hidup hanya bisa merangkak, merangkak, dan merangkak.

Salah siapa? Apakah salah Joni yang “sok baik”? Salah sendiri dia memasang muka memelas ketika gagal menembus lubang kepompong. Coba kalau saja dia tetap tegar dengan kegagalannya. terus berproses agar “sayap”nya terbentuk.

——————————————————————————————————

ya kalau kita berdebat siapa yang salah, apakah joni atau si kupu – kupu cupu bisa sih, silahkan berpendapat masing – masing. Tapi da ga guna. Toh si kupu – kupu itu udah jadi cupu sekarang. Dan yang penting toh kita ga kenal sama kupu – kupu itu hehehe. bercanda yang ini.

Tapi mari kita ambil hikmah dari contoh di atas.

Buat yang masih kuliah dan belum diberi rezeki lulus. Sudahlah nikmati saja. Mungkin “sayap”nya memang belum sempurna.

Buat yang belum kaya, teruslah berjuang. Jangan mau kaya secara instan. Gawat loh kalau memaksakan kaya tapi secara mental belum siap.

Buat para orang tua atau dosen atau siapapun itu. Kalau memang belum saatnya lulus, janganlah diluluskan dulu. Ga usahlah ditetapkan harus lulus maksimal 6 tahun. Soalnya siswanya jadi panik, akhirnya jadi pada ngejar nilai doang. Orang tua nya juga jadi panik dan nyuruh anak – anaknya belajar pelajaran di kelas aja, jadi ga nyuruh untuk ikut himpunan atau kegiatan lainnya yang membentuk karakter (kesannya nyindir sesuatu ya? hei kampusku, yes offense. Saya lagi nyindir kamu).

Saya nih salah satunya. Berasa rada nyesel juga sih cepet lulus. maaf maaf bukannya mau sok – sokan “lo sih udah lulus”. Tapi beneran sekarang merasa “kok bisa ya saya dilulusin”. Berasa “sayap” saya yang berupa karakter untuk menghadapi hidup belum terbentuk secara sempurna.

Tapi sudahlah, daripada menyalahkan orang lain, mending saya terus belajar dan belajar. Bisa dari baca buku, diskusi, dan ikut training.

Hidup itu proses. Hidup itu proses. Saya masih berproses.

Hidup itu belajar. Hidup itu belajar. Saya masih belajar.

Saya bukan kupu – kupu cupu. Dan saya tidak akan pernah mau menjadi kupu – kupu cupu.

Kaya. Sukses. Bahagia. itu adalah tujuan akhir. Jika belum sampai sana berarti memang belum sempurna “sayap” saya.

Saya akan terus berusaha MENGUSAKAN YANG TERBAIK. Tapi tentu saja MENYIAPKAN mental untuk YANG TERBURUK.

-bcl-