Percayalah tulisan di bawah ini benar – benar ditulis dengan niat untuk berbagi tamparan.
Tidak ada niat untuk “sok keren” karena menemukan kata – kata yang bagus.
Bukan juga hanya berniat sok sempurna dan berkata dalam hati: “nih elo – elo itu harus mikir kaya gini”.
Saya sangat tertohok begitu membaca tulisan – tulisan di bawah ini.

Sekali lagi, Niat saya untuk share benar – benar untuk berbagi tamparan. Agar kita sama – sama introspeksi diri. Benarkah kita seperti yang tertulis di bawah ini. Mari kita mulai :

———————————————————————————————————-

Tuhan, harap maklumi kami,
manusia – manusia yang begitu banyak kegiatan. Kami benar – benar sibuk,
sehingga kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk-Mu.

Tuhan, kami sangat sibuk. Jangankan berjamaah, bahkan munfarid pun kami tunda – tunda.
Jangankan rawatib, zikir, berdoa, tahajud, bahkan kewajiban-Mu yang lima waktu saja sudah sangat memberatkan kami.

Tuhan, maafkan kami, kebutuhan kami di dunia ini masih sangatlah banyak, sehingga kami sangat kesulitan menyisihkan sebagian harta untuk bekal kami di alam abadi-Mu. Jangankan sedekah, bahkan mengeluarkan zakat yang wajib saja sering kali terlupa.

Tuhan, urusan – urusan dunia kami masih amatlah banyak.
Jadwal kami masih amatlah padat. Kami amat kesulitan menyempatkan waktu untuk mencari bekal menghadap-Mu. Kami masih belum bisa meluangkan waktu untuk khusyuk dalam rukuk, sujud, menangis, mengiba, berdoa, dan mendekatkan jiwa sedekat mungkin dengan-Mu. TUHAN, TOLONG, JANGAN DULU ENGKAU MENYURUH IZRAIL UNTUK MENGAMBIL NYAWA KAMI. Karena kami masih terlalu sibuk

——————————————————————————————————–

fiuhhh. sok hapus dulu air matanya buat yang nangis. Tarik nafas yang dalam dulu buat yang terdiam karena tertohok.

Bentar, saya juga tarik napas yang dalem dulu.

Sebuah buku berjudul “Tuhan, maaf, kami sedang sibuk”. Sebuah judul buku yang kontroversial. Yang membuat saya tergerak untuk mengambil buku itu.

Dan seperti normalnya orang kalau sedang melihat buku untuk dibeli, saya pun lalu membalik buku ini dan membaca bagian belakangnya yang biasanya berisi cuplikan buku tersebut.

Dan terpampanglah tulisan di atas.

Apakah ini sebuah kebetulan? Apakah sebuah kebetulan saya datang ke toko buku itu pada hari itu?

Apakah sebuah kebetulan ketika masuk ke toko buku tersebut dan saya melihat buku ini?

Banyak sekali judul kontroversial yang dibuat oleh penulis buku, tetapi mengapa judul buku itulah yang benar – benar menarik perhatian saya? Apakah itu sebuah kebetulan?

Ataukah Tuhan memang sedang ingin mengingatkan saya? Bagaimana saya sering “sok sibuk” ketika Tuhan memanggil?

Sekali lagi, Tuhan menunjukkan rasa sayangnya pada saya melalui buku ini.

Sisanya Tuhan serahkan pada saya. Apakah saya hanya tertampar untuk sesaat? Sesaat rajin ibadah tapi beberapa minggu kemudian ilang lagi semangatnya?

Atau malah saya menghindari kasih sayang dari Tuhan ini dengan tidak berani membaca buku itu? Karena apa? Karena saya takut untuk tahu yang seharusnya saya lakukan. Apakah saya lebih memilih ingin tetap dalam ketidaktahuan karena kalau kita tidak tahu maka kita tidak berdosa?

Oh, apa yang saya pikirkan selama ini. Emangnya masuk surga itu gampang. Dan emang bisa tahan apa kalau kita masuk neraka? Astagfirullah.

Terima kasih Tuhan atas tamparannya. Insya Allah saya akan terus memperbaiki diri.

-bcl-