Saya suka Indonesia. Saya suka budayanya. Saya suka seninya.

Salah satu bentuk karya seni adalah lagu.

Dan ini salah satu lagu yang saya sukai. Lagu dari Sunan Kalijaga.

Saya memang belum membaca sejarah tentang Sunan Kalijaga, bahkan saya pun tidak tahu asal muasal Sunan Kalijaga menciptakan lagu ini.

Tapi sejak pertama mendengar saya merasakan kedamaian setiap mendengar lagu ini.

Ten2Five menyanyikan kembali lagu ini dengan cara mereka. Dengan tidak menghilangkan rasa damai yang muncul dari lagu ini, Ten2Five telah berhasil memberi rasa “masa kini” pada lagu ini.

Mudah – mudahan teman – teman juga merasakan kedamaian ini.

Lir-ilir, Lir-ilir (Bangunlah, bangunlah)
Tandure wus sumilir (Tanaman sudah bersemi)
Tak ijo royo-royo (Demikian menghijau)
Tak sengguh temanten anyar (Bagaikan pengantin baru)

Cah angon, cah angon (Anak gembala, anak gembala)
Penekno Blimbing kuwi (Panjatlah (pohon) belimbing itu)
Lunyu-lunyu penekno (Biar licin dan susah tetaplah kau panjat)
Kanggo mbasuh dodotiro (untuk membasuh pakaianmu)

Dodotiro, dodotiro (Pakaianmu, pakaianmu)
Kumitir bedah ing pinggir (terkoyak-koyak dibagian samping)
Dondomono, Jlumatono (Jahitlah, Benahilah!!)
Kanggo sebo mengko sore (untuk menghadap nanti sore)

Mumpung padhang rembulane (Mumpung bulan bersinar terang)
Mumpung jembar kalangane (mumpung banyak waktu luang)
Yo surako surak iyo!!! (Bersoraklah dengan sorakan Iya!!!)