namanya bingung dalam menentukan suatu keputusan itu adalah hal yang wajar ya dalam kehidupan manusia. Dengan keterbatasan ilmu yang dimiliki tentu ada keterbatasan wawasan yang menyebabkan sulitnya mengambil keputusan. Ya karena itu, serba gatahu terhadap apa yang akan dialami ke depannya. 

Hal yang paling mudah dilakukan kalau gatahu ya nanya. Cuma ya itu, bertanya itu bisa membuat kita semakin yakin atau malah semakin bingung. Karena pandangan setiap orang itu berbeda, pendapat orang pun akhirnya berbeda. Si A bilang oke, si B bilang ga oke. si C bilang “wah ambil aja”. eh si D bilang “ah yakin lo mau ambil?”. Makin banyak nanya orang, makin bervariasi jawaban. Lah terus kudu milih yang mana?

Paling bener sih emang bertanya sama Yang Maha Kuasa ya. Yang Maha Tahu. Yang Maha Bijaksana. Tuhan Yang Maha Esa. Cara meminta bermacam – macam. Secara khusus, dalam Islam ada suatu ritual khusus untuk meminta petunjuk Allah yang bernama Shalat Istikharah. Tidak perlu lah dibahas khasiat Shalat Istikharah. Ga perlu juga diragukan. Insya Allah petunjuk Allah akan diberikan melalui berbagai cara yang secara langsung maupun tidak langsung membuat kita semakin yakin. Yang penting kita memantapkan hati. Percaya kepada Allah bahwa Allah akan membantu kita.

Makanya, tulisan ini ga akan membahas kebimbangan apa yang saya alami, dan petunjuk apa yang Allah berikan yang membuat saya yakin. Itu nanti aja deh kalau masalahnya sudah benar – benar beres. Sekarang masih dalam proses. Tapi Insya Allah sudah semakin diyakinkan.

Cuma semenjak melaksanakan Shalat Istikharah saya menjadi berpikir. “Emang apa sih bedanya Shalat Istikharah dengan shalat sunnah lainnya seperti tahajud dan shalat taubat misalnya. Toh secara waktu sama saja. Bisa dilaksanakan malam hari. Tata caranya pun sama, 2 rakaat. Terus apa yang beda?

Melalui pemikiran pribadi, dengan segala keterbatasan yang dimiliki, sampailah pada kesimpulan pribadi saya. Kalau menurut saya nih. Perbedaan utamanya adalah di niatnya. Makanya niat itu diucapkan di awal. Agar kita tahu arah mana yang akan kita tuju. pikiran kita akan dibawa kemana. Harapan kita akan dibawa kemana. Agar pikiran dan harapan kita bisa fokus. Sehingga selama ritual, kita bisa berdialog dengan Tuhan dengan harapan yang jelas. 

Kalau niat ingin meminta petunjuk Allah, tentulah di awal kita niat shalat istikharah. lalu melaksanakan 2 rakaat shalat sunnah. 

Bukan sebaliknya toh. Kita Shalat dulu 2 rakaat, setelah selesai Shalat baru kita menentukan Shalat apa itu. Itulah pentingnya niat.

Sama seperti sedekah dan Zakat. Tau ya bedanya. Zakat mah wajib. sedekah tidak wajib. Ga zakat jadinya dosa. Ga sedekah jadinya ga apa – apa. Tapi kalau sedekah ya dapet bonus plus plus banget hehhe. 

Kita gabisa nih. “Gue mau nyumbang sejuta, pokoknya disitu udah include zakat gue + sisanya buat sedekah”. Kudu diperjelas, berapa buat zakat, berapa buat sedekah. Jadi kalau selama ini kita mengeluarkan sebagian harta kita, tapi belum diniatkan dengan sungguh – sungguh, hati – hati. bisa – bisa hartanya belum dicuci dengan zakat. da Zakat dan sedekah intinya bukan nominalnya. tapi niatnya. Ini menurut saya loh yaaaa.

Itu untuk kegiatan – kegiatan beragama. Hal mengenai niat ini berlaku di semua aspek kehidupan. Apa sih tujuan lo hidup? Tentukan dari sekarang. better late than never. Masa nunggu mati dulu baru bilang “nah, saya hidup itu tujuannya blablablabla”. 

Tapi kudu dari sekarang “Niat gue hidup itu untuk berperan memajukan negara Indonesia dengan mengembangkan minimal 1 aja sumber daya alamnya. gue olah lalu gue majukan produk gue”. Ini misalllll. pokoknya niatkan lah. Da Allah menciptakan kita kan bukan iseng ya. Pasti ada 1 tugas yang Allah berikan kepada kita. 

“ah gue mah apply ke semua perusahaan aja. Nanti kita lihat saja mana yang duluan manggil”. 

Gimana kira – kira kalau mendengar kata – kata di atas??

nb : mohon maaf, bukan mau menggurui. hanya berbagi pendapat. Jika ada yang kurang berkenan, mohon maaf dan mari kita berdiskusi.

Tiada hari tanpa belajar,

Salam belajar,

-bcl-