Sekarang lagi ramai masalah impor komoditas – komoditas pertanian. Kalau menurut status facebook rekan saya yang dapat dipercaya, berikut adalah komoditas yang diimpor tersebut :

kedelai impor..
minyak impor..
beras impor..
garam impor..
bawang impor..
daging sapi impor..
cabai impor..

itu baru komoditas – komoditas yang di”ramai”kan oleh media sih. Pasti masih banyak lagi sebenarnya komoditas yang diimpor oleh negara kita ini.

Miris? iya lah. dari semenjak sekolah dasar kita sudah dijejali stigma “Indonesia adalah negara agraris”. Lah tapi kok impor produk – produk pertanian?

Untuk masalah ini, saya teringat dengan ilmu yang diberikan oleh salah satu dosen favorit saya, Bapak Mubiar Purwasasmita. Untuk informasi awal, salah satu tugas akhir di jurusan saya ada yang dinamakan Rancang Pabrik. Disini kita benar – benar merancang pabrik. Mulai dari produk apa yang akan dibuat, bahan bakunya apa, supply nya dari mana, peralatannya apa, berapa suhu dan tekanan operasi dari masing – masing alat, pasarnya kira – kira kemana dan seberapa besar, dan lain – lain. Pokoknya benar – benar merancang pabrik. Dibuat menjadi suatu laporan yang nanti dipresentasikan + dibuat hardcopy-nya seperti skripsi.

Beliau memberikan saya dan kelompok saya sebuah ilmu yang bisa digunakan tidak hanya untuk membuat pabrik, namun untuk semua aspek kehidupan

“Bapak yakin, masalah peralatan, kondisi operasi, dan sebagainya kalian pasti sudah bisa. Sudah banyak buku referensi yang bisa kalian baca untuk menghasilkan sebuah pabrik. Namun, saya akan menekankan pada bagian penyediaan bahan baku”

Disitu tentu bertanya – tanya lah kita. Bukankah biasanya yang dibahas adalah mengenai design peralatan dan prosesnya. Kenapa ini justru yang dibahas adalah ketersediaan bahan baku. Lalu beliau melanjutkan.

“Secanggih apapun pabrik kalian, kalau ga ada bahan bakunya mau apa? Oleh karena itu, kita harus memastikan bahan baku selalu tersedia. Dengan apa? dengan membuat sendiri bahan baku kita. Jangan sampai tergantung dengan orang lain. Kalau orang lain stop produksi bahan baku kamu, terus kamu mau apa?”

Hal yang (setidaknya oleh saya) tidak terpikirkan sebelumnya. Bahan baku pabrik rancangan kelompok saya waktu itu adalah getah karet. Oleh karena itu, beliau meminta kita bukan hanya men-design pabrik pengolahan karetnya saja, tapi design juga kebun karetnya agar bisa men-supply pabrik kita sepanjang tahun. Design mulai dari jarak tanam, luas lahan yang dibutuhkan, dan waktu tanam agar pemanenannya bisa dilakukan secara kontinyu, bukan serentak di suatu waktu namun tidak ada stock pada waktu berikutnya.

Men-design kebun karet tentu butuh lahan berhektar – hektar untuk pabrik yang saya buat. Pada saat itu hingga saat ini tentu saja terkesan mustahil saya memiliki lahan karet berhektar – hektar. Namun saya tetap menangkap maksud dari dosen saya tersebut.

Usahakan sebisa mungkin jangan pernah tergantung terhadap orang lain. Siapkan bahan baku secara mandiri.

Kembali ke topik Negara Indonesia yang agraris namun impor bahan pertanian dengan skala besar.

Jadi salah siapa? Ya kalau ada kesalahan, pasti yang salah adalah pemimpin. Bisa presiden, bisa juga menteri pertanian sebagai pemilik kebijakan pertanian. Sudah diberikan negara seluas ini tapi tidak bisa memanfaatkannya. Mungkin memang tidak kompeten di bidangnya.

Tapi sudahlah, mudah – mudahan Allah akan segera memberikan menteri pertanian yang memang memiliki pemahaman dan kemampuan yang bisa memanfaatkan wilayah Indonesia ini untuk kemakmuran rakyatnya.

Sebenarnya kenapa sih Indonesia impor barang – barang tersebut?

Tentu jawabannya karena produktivitas pertanian yang kurang dibandingkan dengan tingkat konsumsi.

alur pemikiran linear saya adalah seperti ini :

  • produksi kurang karena lahan kurang
  • lahan kurang karena lahan yang ada tidak digunakan untuk pertanian

hal di atas menjadi logis ketika profesi petani bukanlah profesi favorit di negara ini.

menjadi logis pula ketika investasi properti adalah investasi menjanjikan di negeri ini.

lahan yang ada disulap menjadi perumahan yang nilainya akan naik dua digit per tahun. Lumayan, investasi di awal. Ga ngapa – ngapain. tapi dapet duit.

Bukan berarti perumahan itu hal yang negatif. Kita juga pasti butuh rumah untuk tempat tinggal. Yang saya sayangkan adalah, ada orang yang sudah memiliki rumah, tetap membeli rumah, bukan untuk ditinggali, tapi hanya sebagai investasi.

Itu menguntungkan sih, namun akan lebih baik jika uang tersebut kita investasikan ke lahan pertanian, lahan tersebut ditanami tanaman pangan. Kalau tidak bisa mengolahnya, biarlah kita sewa petani penggarap untuk mengolah lahan tersebut. Pembayarannya bisa bagi hasil pada saat panen.

Jika investasi di rumah tapi tidak ditinggali. Kita memang akan kaya. Uang kita akan bertambah tapi yaudah, kita doang yang menikmati

Jika di-investasikan di lahan pertanian. Kita dapat untung, tapi masyarakat juga bisa kenyang dengan mengkonsumsi hasil dari lahan kita.

Pemikiran di atas memang tidak akan berdampak masif terhadap ketergantungan impor barang – barang pertanian negara kita. Namun, diharapkan mindset kita bisa sedikit berubah. Agar kelak, nanti yang menjadi menteri pertanian atau bahkan presiden memiliki semangat untuk mengembangkan dunia pertanian Indonesia.

Karena negara kita adalah negara agraris. maka ke-agrarian-nya lah yang perlu difokuskan. pertaniannya lah yang harus dikembangkan.

Seperti kata Cak Nun :

Kalau mau merajut kembali nusantara, harus diperjelas dulu melalui penelitian yang objektif, diskusi para expert, maupun diskusi publik untuk merumuskan apakah Bangsa Indonesia ini bangsa yang besar atau bangsa yang kerdil, karena kebangkitan bangsa besar berbeda dengan bangsa kerdil. Apakah bangsa ayam atau bangsa burung, jangan sampai sudah jelas ayam kok mau terbang – terbang
Bukan masalah kerdil atau besarnya, masalah ayam atau burungnya. Yang penting kita tahu dimana kekuatan kita. Jika kita memang ayam, ga usah kita belajar dan mengembangkan sayap kita agar bisa terbang. Jika kita bangsa Agraris, ya pertanianlah yang harus dikembangkan. Bukan yang lain. Agar apa? Agar kita tidak memiliki ketergantungan kepada pihak lain, untuk hal – hal yang seharusnya bisa kita penuhi sendiri.

-bcl-