Archive for November, 2013

Bathtub Curve


Dulu waktu jaman kuliah, saya mengambil mata kuliah yang namanya manajemen proyek. Dari sekian banyak pelajaran yang saya lupa, ada 1 kurva yang saya ingat sampai sekarang. Namanya bathtub curve. 

Apa itu bathtub curve?

 

Image

Dapat dilihat di gambar di atas. Sesuai namanya Bathtub Curve adalah Kurva bak mandi. Karena bentuk kurvanya mirip bak mandi. Diawali oleh garis melengkung ke bawah. dilanjutkan garis mendatar. dan diakhiri dengan garis melengkung ke atas jadi mirip sama bak mandi atau bathtub.

Sumbu Y dari kurva itu adalah “tingkat kegagalan” sedangkan sumbu X nya adalah “waktu”. Jadi secara singkatnya kurva ini menunjukkan tingkat kegagalan dalam suatu proyek itu biasanya paling besar adalah saat di awal dan di akhir masa proyek.

kurva ini menunjukkan tingkat kegagalan dalam suatu proyek itu biasanya paling besar adalah saat di awal dan di akhir masa proyek

Masa – masa kritis. Masa – masa sulit banget itu biasanya di awal dan di akhir. Lantas kenapa saya sangat mengingat kurva ini sedangkan pelajaran lain saya lupa?

Adalah karena kurva ini bukan hanya untuk proyek. Tapi juga karena kurva ini menggambarkan tingkat kegagalan di hampir semua aspek kehidupan.

Dalam bisnis. Masa – masa paling berat adalah masa – masa start up dan masa – masa akhir yaitu nanti ketika konsumen sudah bosan dengan produk kita.

Masa – masa start up bisnis memang luar biasa tidak enak. Luar biasa susah. Terbukti dengan tingginya angka kegagaln bagi pengusaha pemula. 

Tapi itulah yang namanya bisnis teh kudu “ngereuyeuh” seperti tulisan saya sebelumnya dengan judul @JawaraJahe berkunjung ke @BalongKabayan. Dan menurut saya lagi, hal ini terjadi bukan karena faktor teknis semata. Tapi ada campur tangan Tuhan yang secara tidak langsung bilang “cik, dites dulu kamu teh beneran siap jadi pengusaha sukses?”. Jadi pasti akan ada hambatan – hambatan yang terjadi. Mulai dari modal seret, susahnya jualan, dan lain – lain.

Masalahnya adalah, jika dilihat di kurva, tidak akan ada yang bisa menentukan kapan garis itu akan menjadi datar. kapan tingkat kegagalan itu mengecil. Tidak ada yang tahu dan pasti setiap orang pun berbeda – beda.

Jadi kumaha? Ya nikmati saja prosesnya. Pokonamah “Ngereuyeuh”. Yang penting mah (menurut saya) niat kita positif da pasti dibantu ku Allah mah. Amiiin

-bcl-

 

Advertisements

@JawaraJahe berkunjung ke @BalongKabayan


LoA itu belum juga berhenti. Law of Attraction kali ini menarik saya untuk bisa berkenalan dengan se-orang yang hebat. Seseorang yang sangat sunda sekali. Namanya Asep Indra. Semakin terasa sundanya karena dia biasa dipanggil Mang Kabayan. Kenapa hebat? mari kita lanjutkan tulisannya.

Perkenalan dengan mang kabayan ini tidak lain dan tidak bukan terjadi karena dunia maya. Saya dan Mang Kabayan sama – sama berkuliah di tempat yang sama, sehingga saya dan beliau tergabung dalam sebuah milis yang sama. Beliau Arsitektur angkatan 1996, sedangkan saya Teknik Kimia Angkatan 2007. Terpaut usia 11 tahun kurang lebih. 

Jadi kenapa hebat? 

Nah, beliau ini belum bisa dibilang tua ya, walaupun masih tetep mudaan saya hehe. Nah di-umur yang masih muda itu, beliau memiliki pemikiran yang luar biasa. Saya sudah menyangka itu melihat dari email – email beliau di milis. Saya sebagai silent reader, cuma terkagum – kagum saja melihat pemikiran beliau. Sejak lama ingin berkenalan dan bertukar pikiran dengan beliau, Namun penyakit junioritas muncul dalam diri saya. Tidak berani untuk berkenalan bahkan via email. Alasan klasik “gue email, modusnya ngapain?”. 

Kira – kira pemikiran seperti apa yang membuat saya kagum? Bukanlah pemikiran yang serba canggih, namun justru pemikiran sederhana dan apa adanya ala kabayan yang biasa disebut kearifan lokal. Satu contoh aja, ini ada tulisan beliau yang dikutip di dalam blog Jakarta 45

http://jakarta45.wordpress.com/2009/05/21/kearifan-lokal-cageur-bageur-bener-singer-pinter/

Dan lagi – lagi LoA itu datang. dimulai oleh komen saya tentang buah kesemek di milis tersebut. Ternyata saya bisa berkenalan dengan Mang Kabayan. Detail nya seperti apa ga usahlah diceritain. ga penting juga. Yang penting mah buah kesemek itu enak lohh. Dari Milis berlanjut ke email – email pribadi dan akhirnya sepakatlah saya untuk berkunjung ke tempat beliau yang disebut Balong Kabayan. 

Ketika saya sampai ke tempat beliau, kekaguman saya malah semakin bertambah. pemikiran tentang kearifan lokal yang beliau sering singgung di milis ternyata bukan hanya secara teori saja. Beliau juga “Action” dengan membuat sebuah tempat bernama balong kabayan tersebut. 

Dari namanya sudah jelas. Balong itu artinya kolam ikan. Nah, di sana itu ada kolam ikan. Tapi bukan cuma kolam ikan aja. Sesuai slogannya “rekreasi, edukasi, terapi” beliau benar – benar menyulap balong kabayan menjadi tempat yang  nikmat untuk me-refresh kembali pikiran kita yang sudah penat.

Balong kabayan adalah tempat yang sangat nyunda sekali. 

kolam ikan? ada

ikannya bisa dipancing? bisa aja

saung? ada doong

untuk terapinya, di balong kabayan ada terapi ikan. Bukan hal yang baru. nah tapi disini nih Mang Kabayan memasukkan lagi unsur kearifan lokalnya. Ikannya bukan ikan gururafa yang dari Turki itu, tapi ikannya adalah ikan nilem. Ikan asli Jawa Barat. Ternyata ada juga loh produk Jawa Barat yang bisa dipake buat terapi.

Selain itu ada juga kolam renang alami yang airnya langsung dari mata air, tanpa kaporit jadi aman lahhhh buat anak – anak main. 

eh ini kenapa kesannya saya jadi promosi ya? bukan. bukan ini intinya. tadi itu maksudnya menceritakan aja kalau si Mang Kabayan itu tidak hanya secara teori, tapi beliau pun membuat produknya. Pkoknya lebih lengkapnya buka aja situsnya. http://www.balongkabayan.com/id/

Nah, selain saya menikmati balong kabayan, saya juga akhirnya bisa bertukar pikiran dengan Mang Kabayan. Sekaligus saya cerita tentang usaha saya JawaraJahe tea. Sekaligus saya mau test product nih. Kira – kira rasanya gimana menurut beliau. Alhamdulillah ternyata Jawara sudah “Kabayan’s Approved” hehehe.

Banyak sekali ilmu yang Mang Kabayan share kepada saya. Utamanya tentang bisnis. Hal  yang paling sering diucapkan oleh beliau adalah “santai we, pokokna mah Ngeureuyeuh we bisnis mah. da Balong ini juga ngeureyeuh”

Karena bahasa sunda saya masih intermediate, belum advance kaya beliau maka saya pun bertanya “ngeureuyeuh teh apa Mang?”

“ngeureuyeuh teh step by step lah”.

bukan cuma bisnis sebenernya, apapun itu intina mah kudu ngeureuyeuh. Karena semuanya butuh proses. Ga ada itu yang namanya instant. Jahe instant aja yang tinggal seduh, ternyata proses pembuatannya ga se-instant itu juga hehe.

Sangat bersyukur sekali saya bisa berkenalan dengan beliau. Bertambah lagi 1 mentor saya dalam mengarungi kehidupan ini 😀

Hidup Ngeureuyeuh!!

-bcl-

Nakata Mata Satu


Kira – kira 12 tahun yang lalu. Tepatnya pada tahun 2001. Sesosok Asia akhirnya mencicipi nikmatnya gelar scudetto. Sebuah istilah Bahasa Italy untuk klub yang menjuarai kompetisi sepakbola yang berlangsung selama kurang lebih 10 bulan. Sebelum itu, belum pernah ada seorang Asia yang mencicipi scudetto. Sampai sesosok Asia itu akhirnya menjadi orang Asia pertama yang meraih gelar scudetto. Sosok itu bernama Hidetoshi Nakata.

Dari namanya, sudah jelas dia berasal dari Asia Timur. Tepatnya dia berasal dari Jepang. Memulai karier di klub lokal Bellmare Hiratsuka pada tahun 1995. Kariernya semakin melejit ketika dia diberi kesempatan mencicipi atmosfer liga italy bersama klub bernama Perugia. Bagi pendukung setia Juventus (seperti saya) pasti masih ingat bagaimana kiprah gemilang Nakata membuat Juventus harus susah payah menaklukan Perugia yang notabene adalah klub medioker.

Yang menarik dari Nakata adalah tokoh yang telah menginspirasi dia, sehingga memantapkan diri untuk menjadi pemain sepakbola.Bukan Pele, Maradona, Platini, ataupun Beckenbauer. Tokoh yang menginspirasinya adalah Tsubasa Ozora. Pemain sepakbola legendaris asal Jepang yang fiktif.

Nakata pernah berkata bahwa komik Captain Tsubasa merupakan inspirasi terbesarnya dalam memilih sepak bola sebagai kariernya

Hal tersebut seolah – olah menegaskan bahwa apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan memang akan mempengaruhi kehidupan kita. Terutama pada usia kanak – kanak. Informasi – informasi yang masuk akan dicerna oleh alam bawah sadar menjadi informasi – informasi yang akan membentuk watak dan kepribadian, bahkan juga mempengaruhi pilihan karier pada masa depan seperti contoh Hidetoshi Nakata di atas.

Inti dari tulisan saya ini adalah…

Kita lihat tokoh – tokoh kartun yang dewasa ini bermunculan. Tidak sedikit tokoh kartun yang memiliki ciri – ciri yang sama. yaitu bermata satu. Kita lihat contoh berikut :

ImageImageImageImageImage

walaupun sebagian karakter tersebut diberi nama sebagai “monster”. namun secara visual mereka adalah makhluk – makhluk yang lucu. Karena lucu, karakter mereka banyak yang digunakan menjadi souvenir – souvenir seperti boneka atau gantungan kunci yang semakin mendekatkan mereka dengan anak – anak. Alhasil, lama kelamaan anak – anak tersebut akan beranggapan makhluk bermata satu bukanlah lagi sesuatu yang menyeramkan. Namun justru sesuatu yang lucu.

Jika hari ini kita berhadapan dengan sosok bermata satu, kita akan merasa ngeri. Namun bukan hal yang mustahil di masa depan. Anak – anak akan berhadapan dengan makhluk bermata satu dan mereka tidak akan merasa seram atau aneh. Memory – memory di masa kecil tentang plankton atau minion akan muncul kembali dan membuat mereka berpikir makhluk bermata satu bukanlah monster. Makhluk bermata satu adalah sesuatu yang lucu. Atau bahkan makhluk bermata satu adalah seseorang yang harus diikuti.

Apakah makhluk bermata satu akan muncul di masa depan? Mungkin saja, namun yang pasti. Memang akan dijanjikan seseorang yang salah satu cirinya adalah memiliki salah satu mata yang cacat. Seseorang yang akan datang ketika zaman sudah berada di ujung waktu. Seseorang yang banyak dikenal dengan nama Dajjal.

Kapan? Who knows…

-bcl-

Cita – Cita Saya


Kalau ngomongin cita – cita pasti seru ya. dan pasti namanya cita itu berubah – ubah.

Kalau jaman dulu jaman saya kecil (usia saya sekarang 24 tahun, jadi jaman dulu disini maksudnya kira – kira 15 tahun-an lalu lah) jawaban standar seorang anak kecil adalah “cita – cita aku pengen jadi dokter ooooooom”.

dan jawaban standar berikutnya adalah : “biar bisa nolong orang sakiiit”

nahhh temen – temen seumuran saya pernah ga jawab begituu? Sayapun pernah menjawab dengan jawaban standar seperti itu. padahal mah dari dulu cita – cita benerannya mah pengen jadi pemain bola. Cita – cita abadi itu mah kayanya. Sampe sekarang juga masih pengen sih. cuma yasudahlah hehehe.

jadi inget. dulu pernah waktu jaman SD, kelasnya kelas berapa saya lupa. Ada tuh tamu yang saya lupa beliau datang dari mana. Dia menanyakan pertanyaan seputar cita – cita. Tapi karena dia ga nanya ke 1 anak, tapi ke 1 kelas. Maka dia nanyanya per pekerjaan.

“Siapa yang mau jadi dokterr?” hampir seluruh anak di kelas ngacung.

Tadinya mau ngacung juga, cuma ah ntar aja biar keliatan beda (anti-mainstream).

eh pas ditunggu – tunggu kok ga ada pertanyaan “siapa yang mau jadi pemain bolaaa?”

yaudah daripada ga ngacung, saya blg dalam hati “apapun pekerjaannya, pkonya berikutnya harus ngacung”

dan pekerjaan berikutnya yang ditanyakan adalah “siapa yang mau jadi tentaraaa?”

ngacung lah saya bersama 2 orang lain. yang salah adalah 2 teman saya posturnya memang besar, sedangkan saya termasuk 3 besar pria paling kecil di kelas. yasudah diketawain lah hehehehe.

———————————————————————————————————————————————————————

itu duluuu jaman saya masih kecil. Sekarang kan udah lebih dewasa lah dari waktu itu. Masa cita – cita masih harus “apa aja deh yang dikasih”.

jujur aja dari SD sampai bahkan masa – masa SMA saya ga ada cita – cita selain menjadi pemain sepakbola. Namun nampaknya kesempatan saya kesana pun tidak ada. Mulailah saya menerima kenyataan ini heheh.

Sampai di kuliah tingkat 1. Akhirnya saya menemukan sedikit titik cerah mengenai “apa sih yang mau saya lakukan di hidup ini”. Perkataan dosen favorit tentang “ada ga fanta rasa pisang ambon” benar – benar menjadi jalan.

“Indonesia itu kaya akan sumber daya alam loh”. siapa yang tidak setuju dengan perkataan ini?

Untuk sumber daya yang ada di daratan, Indonesia itu ada di posisi kedua setelah Brazil. Tapi kalau sumber daya daratan + laut, maka ga ada yang mengalahkan potensi dari Indonesia.

tapi saya tidak mau hanya sampai di sana. Maka saya lanjutkan kalimat tersebut “Indonesia itu kaya akan sumber daya alam loh. Nah, masa saya ga bisa mengembangkan 1 aja sumber daya alam itu. Saya ubah menjadi sesuatu yang nilai gunanya lebih tinggi. lalu saya jual”.

Setelah saya menetapkan cita – cita saya. ternyata berlanjut dengan LoA – LoA yang terjadi pada hidup saya. lengkapnya silahkan buka tulisan saya sebelumnya Law of Attraction .

Indonesia itu kaya akan sumber daya alam loh. Nah, masa saya ga bisa mengembangkan 1 aja sumber daya alam itu. Saya ubah menjadi sesuatu yang nilai gunanya lebih tinggi. lalu saya jual

 

Dari kata – kata di atas ada 2 mindset yang menurut saya harus dipupuk dari diri saya ini. Yaitu :

1. mental produksi -> saya ubah menjadi sesuatu yang nilai gunanya lebih tinggi

2. mental entrepreneur -> saya jual.

Dua hal inilah yang menjadi PR besar saya. Membentuk 2 mental tersebut untuk bekal mencapai cita – cita saya.

Mental produksi bukan hanya perkara bisa tidaknya saya membuat produk dari bahan baku. Namun lebih jauh ke arah “mau cape – cape bikin produk dari bahan baku? kan lebih gampang beli jahe serbuk->kemas ulang-> jual”

Mental entrepreneur pun bukan hanya “saya beli sekian, saya jual sekian. untung deh”. tapi lebih ke arah “mau cape – cape membangun usaha?”.

2 hal yang menjadi target untuk saya pelajari. Mental entrepreneur bukan berarti harus menjadi entrepreneur. Mental produksi pun bukan berarti kita harus memiliki produk. namanya mental adalah sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang menjadi latar belakang kita dalam melakukan sesuatu.

Saat ini saya sedang ditunjukkan jalan oleh Allah SWT untuk mempelajari 2 mental tersebut melalui JAWARA. untuk yang belum tau bisa klik blognya  : Blog JAWARA

sebuah usaha sederhana. produksi jahe merah instant. namun dari bisnis kecil ini saya Insha Allah bisa memupuk mental produksi dan mental entrepreneur yang Insha Allah akan berguna bagi saya untuk mencapai cita – cita saya, yaitu mengembangkan setidaknya 1 sumber daya alam Indonesia untuk saya olah menjadi produk yang berdaya guna lebih tinggi dan saya jual. 

Karena saya tidak tahu, (jika diibaratkan dengan film “the billionaire) JAWARA ini apakah memang menjadi “rumput laut goreng” bagi saya, atau JAWARA adalah “chestnut” bagi saya, batu loncatan sebelum saya benar – benar mendapatkan “rumput laut goreng”-nya saya. who knows

-bcl-

 

%d bloggers like this: