Kalau ngomongin cita – cita pasti seru ya. dan pasti namanya cita itu berubah – ubah.

Kalau jaman dulu jaman saya kecil (usia saya sekarang 24 tahun, jadi jaman dulu disini maksudnya kira – kira 15 tahun-an lalu lah) jawaban standar seorang anak kecil adalah “cita – cita aku pengen jadi dokter ooooooom”.

dan jawaban standar berikutnya adalah : “biar bisa nolong orang sakiiit”

nahhh temen – temen seumuran saya pernah ga jawab begituu? Sayapun pernah menjawab dengan jawaban standar seperti itu. padahal mah dari dulu cita – cita benerannya mah pengen jadi pemain bola. Cita – cita abadi itu mah kayanya. Sampe sekarang juga masih pengen sih. cuma yasudahlah hehehe.

jadi inget. dulu pernah waktu jaman SD, kelasnya kelas berapa saya lupa. Ada tuh tamu yang saya lupa beliau datang dari mana. Dia menanyakan pertanyaan seputar cita – cita. Tapi karena dia ga nanya ke 1 anak, tapi ke 1 kelas. Maka dia nanyanya per pekerjaan.

“Siapa yang mau jadi dokterr?” hampir seluruh anak di kelas ngacung.

Tadinya mau ngacung juga, cuma ah ntar aja biar keliatan beda (anti-mainstream).

eh pas ditunggu – tunggu kok ga ada pertanyaan “siapa yang mau jadi pemain bolaaa?”

yaudah daripada ga ngacung, saya blg dalam hati “apapun pekerjaannya, pkonya berikutnya harus ngacung”

dan pekerjaan berikutnya yang ditanyakan adalah “siapa yang mau jadi tentaraaa?”

ngacung lah saya bersama 2 orang lain. yang salah adalah 2 teman saya posturnya memang besar, sedangkan saya termasuk 3 besar pria paling kecil di kelas. yasudah diketawain lah hehehehe.

———————————————————————————————————————————————————————

itu duluuu jaman saya masih kecil. Sekarang kan udah lebih dewasa lah dari waktu itu. Masa cita – cita masih harus “apa aja deh yang dikasih”.

jujur aja dari SD sampai bahkan masa – masa SMA saya ga ada cita – cita selain menjadi pemain sepakbola. Namun nampaknya kesempatan saya kesana pun tidak ada. Mulailah saya menerima kenyataan ini heheh.

Sampai di kuliah tingkat 1. Akhirnya saya menemukan sedikit titik cerah mengenai “apa sih yang mau saya lakukan di hidup ini”. Perkataan dosen favorit tentang “ada ga fanta rasa pisang ambon” benar – benar menjadi jalan.

“Indonesia itu kaya akan sumber daya alam loh”. siapa yang tidak setuju dengan perkataan ini?

Untuk sumber daya yang ada di daratan, Indonesia itu ada di posisi kedua setelah Brazil. Tapi kalau sumber daya daratan + laut, maka ga ada yang mengalahkan potensi dari Indonesia.

tapi saya tidak mau hanya sampai di sana. Maka saya lanjutkan kalimat tersebut “Indonesia itu kaya akan sumber daya alam loh. Nah, masa saya ga bisa mengembangkan 1 aja sumber daya alam itu. Saya ubah menjadi sesuatu yang nilai gunanya lebih tinggi. lalu saya jual”.

Setelah saya menetapkan cita – cita saya. ternyata berlanjut dengan LoA – LoA yang terjadi pada hidup saya. lengkapnya silahkan buka tulisan saya sebelumnya Law of Attraction .

Indonesia itu kaya akan sumber daya alam loh. Nah, masa saya ga bisa mengembangkan 1 aja sumber daya alam itu. Saya ubah menjadi sesuatu yang nilai gunanya lebih tinggi. lalu saya jual

 

Dari kata – kata di atas ada 2 mindset yang menurut saya harus dipupuk dari diri saya ini. Yaitu :

1. mental produksi -> saya ubah menjadi sesuatu yang nilai gunanya lebih tinggi

2. mental entrepreneur -> saya jual.

Dua hal inilah yang menjadi PR besar saya. Membentuk 2 mental tersebut untuk bekal mencapai cita – cita saya.

Mental produksi bukan hanya perkara bisa tidaknya saya membuat produk dari bahan baku. Namun lebih jauh ke arah “mau cape – cape bikin produk dari bahan baku? kan lebih gampang beli jahe serbuk->kemas ulang-> jual”

Mental entrepreneur pun bukan hanya “saya beli sekian, saya jual sekian. untung deh”. tapi lebih ke arah “mau cape – cape membangun usaha?”.

2 hal yang menjadi target untuk saya pelajari. Mental entrepreneur bukan berarti harus menjadi entrepreneur. Mental produksi pun bukan berarti kita harus memiliki produk. namanya mental adalah sesuatu yang abstrak. Sesuatu yang menjadi latar belakang kita dalam melakukan sesuatu.

Saat ini saya sedang ditunjukkan jalan oleh Allah SWT untuk mempelajari 2 mental tersebut melalui JAWARA. untuk yang belum tau bisa klik blognya  : Blog JAWARA

sebuah usaha sederhana. produksi jahe merah instant. namun dari bisnis kecil ini saya Insha Allah bisa memupuk mental produksi dan mental entrepreneur yang Insha Allah akan berguna bagi saya untuk mencapai cita – cita saya, yaitu mengembangkan setidaknya 1 sumber daya alam Indonesia untuk saya olah menjadi produk yang berdaya guna lebih tinggi dan saya jual. 

Karena saya tidak tahu, (jika diibaratkan dengan film “the billionaire) JAWARA ini apakah memang menjadi “rumput laut goreng” bagi saya, atau JAWARA adalah “chestnut” bagi saya, batu loncatan sebelum saya benar – benar mendapatkan “rumput laut goreng”-nya saya. who knows

-bcl-