Bismillahirrahmanirrahim…

Cerita kali ini akan bercerita sedikit tentang manusia luar biasa yang pernah hidup di muka bumi ini. Saking luar biasanya, Nabi Muhammad SAW pun menyebut nama beliau ketika ada ditanyakan “siapakah yang paling engkau cintai di antara manusia yang pria”.

Beliau adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Manusia kedua yang memeluk Islam setelah Nabi Muhammad SAW.

Pada masa awal – awal Islam diperkenalkan, banyak tantangan dan hambatan dari orang – orang yang menganggap Islam adalah ancaman. Hal tersebut berlaku pula bagi para budak yang memeluk Islam. Mereka mendapatkan siksaan dari tuannya yang marah karena ke-Islam-an mereka. 

Abu Bakar Ash-Shiddiq yang berasal dari keluarga mampu memiliki inisiatif untuk memerdekakan para budak tersebut.

Kisah yang paling terkenal tentu saja saat Abu Bakar Ash-Shiddiq memerdekakan Bilal dari tuannya yaitu Umayah Ibn Khalaf dengan cara menukar Bilal dengan budak Abu Bakar Ash-Shiddiq yang lebih kuat daripada Bilal.

Namun, selain Bilal ada beberapa budak lain yang dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di antaranya adalah Amir Ibn Fahirah, Ummu Ubais, Zanirah, Hayy, dan Nahdiah beserta putrinya, 

Tindakan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang memerdekakan banyak budak tersebut disayangkan oleh ayah beliau. yaitu Abu Quhafah. Abu Quhafah mempertanyakan keputusan anaknya. Kenapa dia tidak memilih memerdekakan budak yang lebih kuat dan dijadikan penjaga olehnya. 

Dan, jawaban Abu Bakar adalah “Ayah, aku melakukan ini semata – mata karena Allah.”. Jawab Abu Bakar dengan lembut.

(disadur dari buku “Kisah Hidup Abu Bakar Ash-Shiddiq” karya Dr. Musthafa Murad).

—————————————————————————————————————————————————

Ada satu point menarik yang saya rasa bisa kita gunakan dalam kehidupan kita saat ini.

Dalam kisah di atas dapat dilihat bahwa Abu Bakar berbeda pendapat dengan ayahnya. dengan kata lain, Abu Bakar “tidak nurut” apa kata ayahnya. Ayahnya memintanya untuk membeli budak yang lebih kuat untuk menjaganya. Namun pilihan dia adalah membebaskan budak muslim yang disiksa oleh tuannya. Lalu pilihan mana yang terjadi? Tentu saja pilihan Abu Bakar, karena beliau lah yang menentukan arah hidupnya sendiri.

Jika mau dimirip – miripkan, kejadian tersebut akan kita alami. Saat kapan? Salah satunya adalah saat kita menentukan masa depan kita. Pada saat menentukan kuliah, akan ada perbedaan pendapat. dalam kasus saya dahulu, Ibu saya meminta saya untuk mendaftar ke fakultas kedokteran agar dapat menjadi dokter. Namun saya coba jelaskan kepada Ibu saya bahwa saya orangnya takut melihat darah, jika dipaksakan bukannya menjadi dokter yang baik, namun mungkin saja saya akan berhenti di tengah jalan. Saya mengatakan bahwa minat saya di bidang teknik. Pilihan mana yang terjadi? Tentu saja pilihan saya karena saya-lah yang menentukan arah hidup saya sendiri.

Keadaan lain adalah ketika kita selesai kuliah. Ada di antara kita yang menghadapi dilema “aku pengen kerja di perusahaan pangan, tapi orang tuaku memintaku untuk kerja di bank”. atau “aku ingin mencoba usaha, namun orang tua ku memaksaku untuk bekerja”.

Abu Bakar pun dulu tidak ada yang menjamin bahwa Islam adalah agama yang paling tepat. yang menjamin beliau untuk memutuskan percaya kepada Islam adalah keyakinannya terhadap Nabi Muhammad bahwa Nabi Muhammad selalu berkata jujur. Nabi Muhammad pun tidak memaksa beliau untuk masuk Islam. Abu Bakar sendiri yang memutuskan untuk memercayai Nabi Muhammad.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengajak rekan – rekan untuk membangkang kepada orang tua. Bukan pula dimaksudkan untuk mengesankan bahwa pilihan orang tua selalu lebih salah ketimbang pilihan kita. 

Maksud dari tulisan ini adalah mengajak rekan – rekan untuk menentukan terlebih dahulu untuk masa depan kita sendiri akan seperti apa. Cari informasi yang banyak. Curhat sama diri sendiri yang banyak inginnya seperti apa. Setelah ketemu, yakinkan kepada diri sendiri itu adalah yang terbaik untuk kita. Insha Allah selama niatnya positif Allah akan membantu. Selain itu, perlu juga disampaikan kepada orang tua dan meminta izin untuk mengejar masa depan seperti yang kita inginkan. Insha Allah orang tua akan mengerti karena pada dasarnya bukan menjadi dokter yang orang tua kita inginkan, bukan kaya raya yang orang tua kita inginkan. Orang tua kita hanya ingin kita bisa hidup bahagia. Insha Allah.

Agar kelak, di masa depan tidak ada perkataan yang menyalahkan orang lain jika hidup kita tidak sesuai. Tapi yang ada adalah rasa syukur karena kita telah memilh jalan yang kita inginkan. amin.

-bcl-