Setiap orang pernah mengalami yang namanya kegagalan. Dimana – mana kegagalan bukanlah sesuatu yang mudah untuk diterima. Walau menurut pepatah kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda, tetap saja saat kita menghadapi kegagalan kita akan merasa sedih, kecewa, dan menyesal.

Namun, hidup juga tidak akan indah jika kita terus menerus mendapatkan keberhasilan. Seperti telah saya tuliskan dalam tulisan sebelumnya, sebuah game akan terasa lebih seru jika kemungkinan kita kalahnya cenderung besar. Sehingga ketika kita mendapatkan kemenangan, perasaan senangnya akan lebih besar ketimbang sebuah game yang kemungkinan kita menangnya lebih besar.  Jika kita bermain game yang tingkat kemungkinan menangnya tinggi, atau bahkan sudah dipastikan kita akan menang, mungkin hanya akan dimainkan sekali atau dua kali dan setelah itu bosan. Oleh karena itu, kegagalan adalah keniscayaan. Yang perlu kita persiapkan adalah bagaimana kita menyikapi kegagalan.

“Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali ketika kita jatuh”- Confucius

Siap menghadapi kegagalan memang sesuatu yang tidak bisa didapatkan dengan mudah. Diperlukan pengalaman – pengalaman gagal secara nyata yang akan membentuk kita sehingga ke depannya akan lebih siap dalam menghadapi kegagalan.

Saya pribadi cukup banyak mengalami kegagalan dalam hidup saya (lha sering gagal kok bangga ya hehehe..). Dan kegagalan – kegagalan itu membentuk mindset saya untuk lebih siap dalam menghadapi kegagalan.

Salah satu kegagalan yang saya terima adalah saat saya sedang dalam proses melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Layaknya seorang anak SMA jurusan IPA yang tinggal di Bandung, ITB adalah menjadi tujuan favorit saya untuk melanjutkan kuliah. Hasil dari diskusi dan membaca informasi saya menetapkan diri untuk menjadikan Teknik Kimia ITB sebagai tujuan saya. Cukup berat karena Teknik Kimia ITB saat itu adalah jurusan yang digadang – gadang sebagai pemilik passing grade tertinggi di ITB, bersaing dengan Teknik Elektro dan Teknik Informatika. Semakin berat karena saya tidak menonjol secara akademik. Bahkan sangat jarang saya masuk ranking 20 besar di SMA.

Dan benar saja. 3 kali percobaan saya butuhkan untuk dapat diterima di Teknik Kimia ITB.

Saya adalah angkatan 45. Maksudnya angkatan dimana untuk dapat masuk ke ITB ada sebuah jalur yang bernama USM (Ujian Saringan Masuk) ITB dengan syarat sumbangan minimal 45 juta. Saat itu ada 2 USM yaitu USM daerah dan USM terpusat. 2 kali saya ikut USM dan 2 kali pula saya gagal. Tentu saat itu sangat berat saya menerima kegagalan karena terus dibayangi rasa takut bahwa saya tidak bisa kuliah di tempat favorit saya. Saat gagal di USM pertama, saya masih sedikit santai karena toh ada USM kedua.

Namun, kegagalan di USM kedua benar – benar cobaan berat bagi saya. Pertama, karena saya membuka pengumuman kegagalan tersebut di depan Guru les saya. Terbayang bagaimana saya mengecewakan beliau. Kedua, waktu pengumuman tersebut sangat berdekatan dengan waktu ujian final yaitu SPMB yang menjadi kesempatan terakhir saya untuk dapat bersekolah di ITB. Ketiga, bahkan keluarga saya pun mulai meragukan kapabilitas saya dengan mengatakan “udah pilihannya ganti aja sama yang lebih rendah. Teknik Kimia kayanya terlalu berat buat kamu”.

Jujur saja saya sempat down, dan bahkan terpikir untuk mengganti kampus pilihan. “Yang penting saya dapet tempat kuliah deh” menjadi alasan. Namun, pada akhirnya saya tetap memilih Teknik Kima ITB sebagai pilihan pertama saya. Dan benar saja, Tuhan akan bersama dengan orang yang yakin kepada-Nya. Saya berhasil lolos ke Teknik Kimia ITB pada kesempatan ketiga. Yaitu saat SPMB. Dan saya gagal menjadi angkatan 45. Karena peserta yang lulus SPMB bebas menentukan jumlah sumbangan yang akan diberikan. Alias mengisi 0 rupiah pun diperbolehan.

Kegagalan tersebut ditambah kegagalan – kegagalan selama berkuliah di Teknik Kimia ITB membentuk saya untuk lebih siap dalam menghadapi kegagalan.

Setiap menghadapi kegagalan, ada 2 hal yang selalu saya coba tanamkan dalam diri saya :

  1. Tuhan sengaja memberikan saya kegagalan. Karena saya memang belum saatnya menerima keberhasilan tersebut dan akan ada waktu yang lebih tepat bagi saya untuk menerima keberhasilan.
  2. Saat gagal, silahkan bersedih, kecewa, marah, dan luapan emosi lainnya namun cukup 5 menit saja. Setelah itu berpikir apa yang perlu dikerjakan berikutnya. Karena apapun yang kita lakukan kegagalan sudah terjadi. Tidak perlu kita ratapi karena toh hasilnya pun tidak akan berubah.

Dan itu saya praktekkan ketika berusaha mendapatkan beasiswa LPDP.

Banyak selentingan beredar bahwa seleksi LPDP adalah formalitas jika kamu adalah alumni dari universitas favorit dan sudah memiliki LoA (Letter of Acceptance) dari universitas tujuan. Dua syarat yang saya pegang ketika saya apply beasiswa LPDP pertama kali. Hasilnya? Saya gagal.

Kegagalan pertama tersebut masih saya anggap kebetulan. Lalu saya apply untuk yang kedua. Dan kembali GAGAL. Sempat kecewa + malu juga karena 2 kegagalan itu. Beasiswa LPDP yang digadang2 cukup mudah didapat malah saya gagal. 2 kali pula.

Namun cukup 5 menit saya sedih. Setelah itu saya berpikir tidak ada gunanya juga berlarut – larut dalam kegagalan. Yang perlu saya pikirkan adalah apa langkah selanjutnya. Saya memutuskan akan terus berusaha pada kesempatan ketiga dengan memperbaiki Essay saya yang saya prediksikan menjadi penyebab dua kegagalan sebelumnya.

Untuk semakin menguatkan semangat saya, saya juga berpikir positif kepada Tuhan. Mungkin memang Tuhan sengaja membuat saya gagal, karena selang waktu antara pengumuman kelulusan dan masa awal kuliah di Luar negeri sana sangat mepet. Saya yang belum berpengalaman sama sekali dalam mengurus visa dan sebagainya malah mungkin akan keteteran dan akan bermasalah jika diluluskan pada kesempatan ini. Sehingga mungkin Tuhan sedang berkata “Aku sudah menyiapkan waktu yang tepat untukmu. Sabar ya”.

Saya coba untuk yang ketiga kalinya. Kali ini tanpa LoA. Dan Alhamdulillah akhirnya saya berhasil. Dan benar saja. Tuhan menyiapkan segalanya tepat pada saatnya. Selain kelapangan waktu karena saya diberikan waktu hampir 1 tahun untuk menyiapkan keberangkatan. Saya juga diberi bonus. Saya dimasukkan ke dalam PK-23. Akan saya ceritakan tentang PK-23 ini pada tulisan saya berikutnya. Yang jelas, PK-23 adalah PK terbaik dan sebuah keluarga baru bagi saya. Sebuah keluarga yang sangat sangat luar biasa.

Terima kasih Tuhan atas semua anugrah yang diberikan.

For me. It takes 3 attempts to go to ITB. So does LPDP – Agung Satriyadi Wibowo

Salam,

bcl