Dalam suatu pengajiannya yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri via youtube, Cak Nun bercerita tentang “Lebih mulia mana? Peci atau Sandal??”

Peci aka kopiah adalah sebuah benda yang biasanya menjadi identitas seorang muslim. Sedangkan sandal adalah sesuatu yang digunakan salah satunya untuk pergi ke masjid menunaikan ibadah shalat. Fungsi lainnya tergantung kreativitas setiap orang, terkadang dijadikan ganjal pintu, nimpukin ayam tetangga, atau bahkan terkadang sandal dianggap sebagai senjata pembunuh masal…bagi para kecoa.

Orang memakai peci biasanya menunjukkan bahwa dia ada seorang muslim. Malah terkadang orang – orang akan memiliki persepsi bahwa orang yang berpeci biasanya rajin beribadah. Apalagi jika ditunjang dengan jenggot yang menghangatkan dagunya.

Orang yang memakai sandal adalah…mmm ya biasa aja.

Namun Cak Nun mengatakan bahwa sandal jauuuuh lebih mulia ketimbang peci. Kenapa? Karena peci tidak memberikan kontribusi apa – apa. Hujan ya tetap kehujanan. Panas ya tetap kepanasan.

Sedangkan sandal melindungi kita dari rasa sakit dan kotoran ketika kita hendak ke masjid.

Jika kita berwudu di rumah. Lalu kita pergi ke masjid untuk shalat menggunakan peci namun tidak menggunakan sandal, tentu kita akan berwudu kembali karena kaki kita kotor. Sedangkan kalau kita pakai sandal tapi tidak menggunakan peci apakah kita akan wudu kembali? Tentu saja tergantung, apakah kita buang angin atau tidak :p. Kalau tidak ya tentu saja kita tidak perlu lagi untuk berwudu.

Contoh di atas menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak dilihat dari hal – hal yang membuat kita terlihat “wah” tapi dari sebanyak apa kontribusi yang kita lakukan.

Saya jadi teringat dengan tukang jamu gendong yang biasa saya konsumsi jamu buatannya. Ketika itu saya iseng bertanya

Saya : “Bu, ini jamunya dari apa aja sih bu?”

Ibu Jamu : “oh macem – macem mas, ini ada sambiloto, bratawali, jahe, ….”

Saya : “Oh ini ada terus ya bu bahan – bahannya di pasar?”

Ibu Jamu : “ini mah saya ngirim dari jawa mas. Saya ada lahan disana yang ditanemin tanaman – tanaman rempah”

Saya : “Wah nanem sendiri bu di tanah sendiri? Hebat banget bu”

Ibu Jamu : “Iya mas Alhamdulillah. Ada juga sih tanah di cikalong. Ditanem rempah juga. Buat jaga – jaga aja siapa tau yang dari jawa telat ngirim”

Dalam hati saya salut sama ibu ini. Beliau sudah melaksanakan kemandirian dalam menjalankan usahanya. Beliau tidak tergantung kepada pasar. Dia tidak peduli harga rempah berfluktuasi atau bergantung ada tidaknya bahan tersebut di pasar.

Kebayang ya ketika harga sambiloto mahal masa dia ngeramu jamu tanpa sambiloto. Atau ketika bratawali lagi ga ada barangnya di pasar karena sedang tidak ada yang panen lah masa dia mau libur.

Pembicaraan berlanjut

Ibu Jamu : “Iya mas sebenernya bisa aja saya tinggal di rumah atau balik ke jawa sekalian, Cuma ga enak saya sama langganan disini suka nanyain jamu saya terus. Katanya badannya enak klo udah minum jamu dari saya”

Wow…semakin salut saya sama ibu ini. Beliau berjualan jamu yang sangat terjangkau bagi kantong saya. 3 ribu per gelas. Dan dia menjajakan jamunya dengan cara berjalan kaki sambil menggendong jamunya. Yang mana pasti berat dan sangat melelahkan. Tapi demi kepuasan pelanggan dia tetap lakukan itu setiap hari. Sebuah kontribusi yang bisa dia berikan kepada orang lain. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain membuat sehat para pelanggannya, beliau juga secara tidak langsung turut melestarikan salah satu budaya Bangsa Indonesia sehingga sampai saat ini saya masih bisa bertemu dengan Tukang Jamu Gendong. A woman who sold a beverage made from various herbs by carrying them in her back.

Menjadi pelecut semangat juga bagi saya untuk terus memberikan kontribusi melalui apapun yang saya bisa lakukan dengan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki. Karena puncak dari tujuan hidup setiap manusia adalah seberapa besar kontribusi yang diberikan untuk orang lain, bukan seberapa banyak yang bisa didapatkan untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Semoga Ibu dan semua Tukang Jamu Gendong selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah Swt. Amiiin

-bcl-