Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Desa Cipaku. Sebuah desa yang berada dalam area genangan (Calon) Bendungan Jatigede. Jadi kalau ntar Bendungan Jatigede selesai, maka Desa Cipaku pun selesai. Saat ini proses pembangunan Bendungan Jatigede yang rencananya sudah dimulai sejak Pak Harto masih jadi pemimpin di negeri ini sudah selesai tahap pembangunannya. Tahap berikutnya hanya tinggal proses pengairannya.

Ada banyak hal yang saya dapat dari perjalanan ke Desa Cipaku tersebut. Terima kasih sangat saya ucapkan kepada Kang Asep, putra Desa Cipaku yang juga lulusan Arsitektur ITB yang telah mengajak saya kesana.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang unggul, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali siapa diri kita sebenarnya. Seekor Elang, jika ingin menjadi elang yang paling unggul harus memastikan dahulu bahwa dirinya memang elang. Jangan sampai setelah ia bersusah payah belajar terbang, ternyata selalu gagal karena dirinya memang ayam yang tidak ditakdirkan untuk bisa terbang.

Saya sebagai Orang Indonesia pun ingin tahu Indonesia itu bangsa seperti apa. Namun, harus diakui literature dan sumber referensi kita untuk mengetahui negara seperti apakah Indonesia itu sangat sedikit. Untuk membangun Negara ini, biasanya kita bereferensi kepada ilmu – ilmu ala eropa atau ala amerika ketimbang ala majapahit atau ala sriwijaya.

Dari hasil sharing dengan Kang Asep sebelumnya, saya mendapatkan informasi bahwa para warga di Desa Cipaku adalah salah satu dari sedikit peradaban yang masih memegang nilai – nilai leluhur dalam kehidupan sehari – harinya. Sebagai contoh, ketika panen mereka akan membagi hasil panennya ke dalam 3 bagian : konsumsi pada saat itu, sebagai bibit untuk panen berikutnya, disimpan di dalam lumbung sebagai cadangan. Sehingga petani di daerah sana tidak pernah lagi membeli bibit. Produktivitas pertaniannya pun luar biasa, mencapai 30.000 T per tahun. Sangat aneh ketika desa ini turut ditenggelamkan dengan alasan untuk memberikan irigasi yang lebih baik untuk sawah – sawah di pantura yang sudah mulai beralih dari menanam padi menjadi menanam pabrik – pabrik.

Di Desa Cipaku terdapat 33 situs yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Penasaran dengan bentuk situs itu, saya pun diajak untuk melihat langsung bentuk situs yang dimaksud. Dan bentuknya adalah seperti ini :

IMG_20150403_143022

Bentuknya hanya sebuah batu yang diberi kain putih. Tidak ada yang special. Sebagian besar orang yang pertama melihat situs ini (termasuk saya) akan mengira situs tersebut adalah kuburan. Lebih jauh kita akan menuduh “wah musyrik! Ini pasti kuburan yang suka disembah warga sini”. Untungnya saya kesana bersama dengan orang yang tepat. Kang Asep dengan segera menjelaskan

“Ini bukan kuburan. Tidak ada jasad yang dikubur di bawah batu itu. Itu ya batu aja yang dibungkus kain putih. Situs – situs ini biasa dipake orang untuk berkontemplasi. Mendekatkan diri dengan Yang Di Atas”

Kisah selanjutnya lebih menarik

“Dulu ada tokoh Cipaku namanya Eyang Haji. Dia berkontemplasi disini dan mendapat ilham untuk pergi ke Mekkah melaksanakan ibadah haji. Beliau pergi ke sana dan bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib (Yap salah satu sahabat nabi). Eyang Haji belajar Agama Islam kepada Ali Bin Abi Thalib dan menyebarkan Islam di Cipaku dan sekitarnya sini. Makanya ini batu Cuma satu. Prediksi saya dulu banyak batu yang seperti ini tidak hanya satu. Namun semuanya dibuang oleh Eyang Haji dan disisakan 1 saja untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu 1. Sedangkan kain putih itu memang ajaran dari Eyang Haji namanya Aji Putih”

Percaya? Tidak Percaya? Tapi cerita itu masih ada bukti sejarahnya berupa tulisan di daun lontar yang disimpan oleh tetua tetua di Cipaku sana.

Batu berkain putih itu bukanlah Tuhan. Warga sana pun tidak menganggap itu Tuhan. Lihat saja di foto tersebut ada seseorang yang mendekati batu itu begitu saja. Tidak diwajibkan menggunakan sarung khusus seperti di Borobudur atau di Bali. Karena memang batu itu tidak diTuhankan.

Sama seperti selama ini kita Shalat menghadap Ka’bah. Bukan berarti kita menyembah Ka’bah. Ka’bah hanyalah titik fokus fisik kita. Sedangkan batin kita, tetap memfokuskan diri kepada Allah SWT.

L1200357

Sama seperti foto di atas. Foto tersebut saya ambil via google. Foto tersebut adalah tampak dalam dari sebuah masjid di kota baru parahyangan, Bandung. Arah Kiblat dari Masjid tersebut dibiarkan tanpa dinding dan ada 1 batu bulat bertuliskan Allah dalam bahasa Arab. Bukan berarti kita membahas batu tersebut. Tapi batu tersebut membantu kita fokus untuk dapat lebih intim berdoa kepada Allah SWT.

Situs tersebut adalah tempat berkontemplasi. Tempat bersemedi. Semedi bukan berarti negatif. Itu maksudnya ketika seseorang membutuhkan solusi tentang permasalahan yang dihadapi, maka orang tersebut dapat pergi ke situs tersebut. Bukan untuk berharap sekonyong – konyong mendapatkan solusi gaib, namun dengan pergi ke tempat tersebut dia bisa fokus terhadapa permasalahan yang dia hadapi, sehingga dia bisa berpikir dengan lebih jernih dan solusi bisa dia dapatkan kemudian. Tentu saja ditambah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. karena di tempat tersebut kita bisa benar – benar merasa hanya berdua dengan Tuhan dan kita bisa curhatkan apa saja yang ingin kita sampaikan.

Pernah kah ketika kita berada dalam suatu masalah pelik. Yang kita inginkan hanyalah pergi menyendiri ke sebuah tempat yang hanya kita sendiri yang tahu. Di sana kita bisa menenangkan diri. Melepaskan dari semua hiruk pikuk kehidupan ini dan berpasrah diri. Kalau tempat itu bagi kita saat ini (sayangnya) bernama Facebook, maka Warga Jatigede masih memiliki sebuah tempat yang namanya situs tersebut. ada 33 lagi.

Apakah situs – situs itu akan tenggelam? Menurut informasi, Juli 2015 adalah proses dimulainya penggenangan bendungan jatigede, namun kepercayaan Warga Cipaku sih kampung mereka tidak akan tenggelam. we’ll see🙂

Cak Nun, dalam buku “Markesot Bertutur Lagi” juga menyentil fenomena tersebut sebagai berikut

“Anak – anak KPMb lebih pening lagi karena memasuki bulan Suro ini Markesot menjadi Betoro Kolo Munyeng. Dia taruh sebuah batu hitam sebesar jempol kaki di tengah ruangan, lantas dia berjalan berputar – putar mengelilinginya sambil mulutnya umik – umik.

“Apa yang dibacanya itu?” salah seorang berbisik.

Setelah didengar – dengarkan dengan saksama, ternyata Markesot membaca syahadatain sambil munyeng – munyeng itu.

“ Syahadatainnya sih bagus. Tapi tarekat cap opo!” celetuk lainnya, di tengah makin banyak tetangga yang ternyata berduyun – duyun melihat Markesot gila.

Markembloh mencoba menjelaskan, “Ini bulan baik. Markesot berlatih memusatkan semua gerakan hidupnya berpedoman hanya pada titik syahadatain. Itulah yang menyebabkan Adam bertemu Hawa lagi sesudah diusir dari Surga. Ibrahim tidak terbakar api. Yunus nongol dari mulut ikan raksasa. Musa lolos dari kejaran fasis Fir’aun. Mudah – mudahan Markesot juga lolos dari kemungkinan gendheng….”