Posts from the ‘Mindset’ Category

Indonesia masih ada


Sejak kanak – kanak, saya sudah dikenalkan dengan istilah Gotong Royong. Bagaimana disebutkan bahwa gotong royong sudah menjadi budaya khas dari Indonesia. Lebih jauh dikatakan bahwa gotong royong sudah menjadi “jiwa” bagi Indonesia.

Terjemahan langsung dari gotong royong adalah mengangkat bersama – sama, karena “gotong” itu artinya mengangkat dan “royong” itu artinya bersama – sama. Secara umum gotong royong diartikan sebagai mengerjakan sesuatu secara bersama – sama.

Kalau disuruh untuk menyebutkan contoh penerapan gotong royong dalam kehidupan masyarakat Indonesia mungkin paling mudah adalah kerja bakti. Kalau dulu sih biasanya kerja bakti itu bapak – bapak bareng – bareng bersihin got biar ga mampet, trus ibu – ibunya bareng – bareng bikin panganan yang bisa disantap rame – rame. Itu sih ilustrasi yang paling sering ditemukan tentang kerja bakti.

Gotong royong ga cuma dalam hal kerja bakti aja. Tapi setiap kegiatan yang dilakukan bersama – sama dengan rasa sukarela dari setiap pribadi yang melakukannya bisa disebut sukarela. Saya sering mendengar juga cerita dari saudara di desa bahwa jika ada acara pernikahan itu biasanya dilakukan di rumah dan persiapannya dikerjakan bareng – bareng dibantu oleh tetangga sekitar. Dan tetangga itu ga dibayar dengan uang, tapi dibayar dengan “partisipasi” gotong royong saat si tetangga itu yang bikin hajatan.

Lalu, kira – kira gotong royong masih ada ga ya sekarang? Ya tentu masih ada. foto – foto di bawah ini mungkin bisa menjadi contoh bahwa gotong royong itu masih ada.

Sumber foto: WA group #SaveJatigede

Foto di atas adalah contoh gotong royong. Bahkan dalam foto itu kegiatannya memang sedang menggotong secara bersama – sama. Barang apakah yang digotong? percaya atau tidak itu adalah rumah warga yang digotong.

Kenapa mereka menggotong rumahnya? karena wilayah tempat asal rumah mereka sudah menjadi daerah genangan dari bendungan jatigede. jadi mau gamau ya mereka rame – rame memindahkan rumah mereka satu persatu ke tempat yang lebih tinggi. Bisa dilihat ya kegembiraan mereka setelah memindahkan rumah dan betapa terasanya kekeluargaan mereka saat beristirahat sambil menyantap makan bersama – sama.

Jadi apakah (jiwa) Indonesia masih ada? Tentu saja masih ada, bahkan di tempat yang secara administratif sudah dihapus keberadaannya dari negara ini karena Desa tersebut dianggap sudah tergenang oleh Bendungan Jatigede.

-bcl-

Advertisements

Pasal Penghinaan Presiden


Sekarang lagi dibahas mengenai pengaktifan kembali Pasal Penghinaan terhadap Presiden

Pasti bakal repot, karena harus mendefinisikan “apa yang dimaksud dengan penghinaan”

Apalagi di zaman serba bebas berpendapat seperti sekarang dengan munculnya sosial media

Tapi kalau kata Amanah Buyut Resi Guru Darmasiksa mah :

“Barangsiapa yang tidak dapat menjaga Kabuyutannya maka lebih hina dari kulit musang yang dibuang ke tempat sampah”

Sedangkan Salah satu kabuyutan yang ada adalah Kabuyutan Cipaku di daerah Sumedang.

Sedangkan Kabuyutan itu akan ditenggelamkan oleh Proyek Bendungan Jatigede

Sedangkan Penggenangan Bendungan Jatigede tersebut berdasarkan PerPres yang dikeluarkan oleh Bapak Presiden

Sedangkan sebagai Presiden Indonesia, maka kabuyutan Cipaku yang terletak di negara Indonesia ini juga secara geografis menjadi “wilayah kekuasaan” Bapak yang seharusnya dijaga sesuai Amanah Buyut Resi Guru Darmasiksa tersebut.

Jadi karena tidak bisa menjaga maka…..

Udah gitu aja…..

Oh mungkin bapak belum tahu tentang Kabuyutan Cipaku, Silahkan pak di klik Link berikut. tulisan dari putra daerah kabuyutan cipaku

https://kabuyutancipaku.wordpress.com/about/

-bcl-

Situs Musyrik


Beberapa hari yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Desa Cipaku. Sebuah desa yang berada dalam area genangan (Calon) Bendungan Jatigede. Jadi kalau ntar Bendungan Jatigede selesai, maka Desa Cipaku pun selesai. Saat ini proses pembangunan Bendungan Jatigede yang rencananya sudah dimulai sejak Pak Harto masih jadi pemimpin di negeri ini sudah selesai tahap pembangunannya. Tahap berikutnya hanya tinggal proses pengairannya.

Ada banyak hal yang saya dapat dari perjalanan ke Desa Cipaku tersebut. Terima kasih sangat saya ucapkan kepada Kang Asep, putra Desa Cipaku yang juga lulusan Arsitektur ITB yang telah mengajak saya kesana.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang unggul, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengenali siapa diri kita sebenarnya. Seekor Elang, jika ingin menjadi elang yang paling unggul harus memastikan dahulu bahwa dirinya memang elang. Jangan sampai setelah ia bersusah payah belajar terbang, ternyata selalu gagal karena dirinya memang ayam yang tidak ditakdirkan untuk bisa terbang.

Saya sebagai Orang Indonesia pun ingin tahu Indonesia itu bangsa seperti apa. Namun, harus diakui literature dan sumber referensi kita untuk mengetahui negara seperti apakah Indonesia itu sangat sedikit. Untuk membangun Negara ini, biasanya kita bereferensi kepada ilmu – ilmu ala eropa atau ala amerika ketimbang ala majapahit atau ala sriwijaya.

Dari hasil sharing dengan Kang Asep sebelumnya, saya mendapatkan informasi bahwa para warga di Desa Cipaku adalah salah satu dari sedikit peradaban yang masih memegang nilai – nilai leluhur dalam kehidupan sehari – harinya. Sebagai contoh, ketika panen mereka akan membagi hasil panennya ke dalam 3 bagian : konsumsi pada saat itu, sebagai bibit untuk panen berikutnya, disimpan di dalam lumbung sebagai cadangan. Sehingga petani di daerah sana tidak pernah lagi membeli bibit. Produktivitas pertaniannya pun luar biasa, mencapai 30.000 T per tahun. Sangat aneh ketika desa ini turut ditenggelamkan dengan alasan untuk memberikan irigasi yang lebih baik untuk sawah – sawah di pantura yang sudah mulai beralih dari menanam padi menjadi menanam pabrik – pabrik.

Di Desa Cipaku terdapat 33 situs yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Penasaran dengan bentuk situs itu, saya pun diajak untuk melihat langsung bentuk situs yang dimaksud. Dan bentuknya adalah seperti ini :

IMG_20150403_143022

Bentuknya hanya sebuah batu yang diberi kain putih. Tidak ada yang special. Sebagian besar orang yang pertama melihat situs ini (termasuk saya) akan mengira situs tersebut adalah kuburan. Lebih jauh kita akan menuduh “wah musyrik! Ini pasti kuburan yang suka disembah warga sini”. Untungnya saya kesana bersama dengan orang yang tepat. Kang Asep dengan segera menjelaskan

“Ini bukan kuburan. Tidak ada jasad yang dikubur di bawah batu itu. Itu ya batu aja yang dibungkus kain putih. Situs – situs ini biasa dipake orang untuk berkontemplasi. Mendekatkan diri dengan Yang Di Atas”

Kisah selanjutnya lebih menarik

“Dulu ada tokoh Cipaku namanya Eyang Haji. Dia berkontemplasi disini dan mendapat ilham untuk pergi ke Mekkah melaksanakan ibadah haji. Beliau pergi ke sana dan bertemu dengan Ali Bin Abi Thalib (Yap salah satu sahabat nabi). Eyang Haji belajar Agama Islam kepada Ali Bin Abi Thalib dan menyebarkan Islam di Cipaku dan sekitarnya sini. Makanya ini batu Cuma satu. Prediksi saya dulu banyak batu yang seperti ini tidak hanya satu. Namun semuanya dibuang oleh Eyang Haji dan disisakan 1 saja untuk menunjukkan bahwa Tuhan itu 1. Sedangkan kain putih itu memang ajaran dari Eyang Haji namanya Aji Putih”

Percaya? Tidak Percaya? Tapi cerita itu masih ada bukti sejarahnya berupa tulisan di daun lontar yang disimpan oleh tetua tetua di Cipaku sana.

Batu berkain putih itu bukanlah Tuhan. Warga sana pun tidak menganggap itu Tuhan. Lihat saja di foto tersebut ada seseorang yang mendekati batu itu begitu saja. Tidak diwajibkan menggunakan sarung khusus seperti di Borobudur atau di Bali. Karena memang batu itu tidak diTuhankan.

Sama seperti selama ini kita Shalat menghadap Ka’bah. Bukan berarti kita menyembah Ka’bah. Ka’bah hanyalah titik fokus fisik kita. Sedangkan batin kita, tetap memfokuskan diri kepada Allah SWT.

L1200357

Sama seperti foto di atas. Foto tersebut saya ambil via google. Foto tersebut adalah tampak dalam dari sebuah masjid di kota baru parahyangan, Bandung. Arah Kiblat dari Masjid tersebut dibiarkan tanpa dinding dan ada 1 batu bulat bertuliskan Allah dalam bahasa Arab. Bukan berarti kita membahas batu tersebut. Tapi batu tersebut membantu kita fokus untuk dapat lebih intim berdoa kepada Allah SWT.

Situs tersebut adalah tempat berkontemplasi. Tempat bersemedi. Semedi bukan berarti negatif. Itu maksudnya ketika seseorang membutuhkan solusi tentang permasalahan yang dihadapi, maka orang tersebut dapat pergi ke situs tersebut. Bukan untuk berharap sekonyong – konyong mendapatkan solusi gaib, namun dengan pergi ke tempat tersebut dia bisa fokus terhadapa permasalahan yang dia hadapi, sehingga dia bisa berpikir dengan lebih jernih dan solusi bisa dia dapatkan kemudian. Tentu saja ditambah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. karena di tempat tersebut kita bisa benar – benar merasa hanya berdua dengan Tuhan dan kita bisa curhatkan apa saja yang ingin kita sampaikan.

Pernah kah ketika kita berada dalam suatu masalah pelik. Yang kita inginkan hanyalah pergi menyendiri ke sebuah tempat yang hanya kita sendiri yang tahu. Di sana kita bisa menenangkan diri. Melepaskan dari semua hiruk pikuk kehidupan ini dan berpasrah diri. Kalau tempat itu bagi kita saat ini (sayangnya) bernama Facebook, maka Warga Jatigede masih memiliki sebuah tempat yang namanya situs tersebut. ada 33 lagi.

Apakah situs – situs itu akan tenggelam? Menurut informasi, Juli 2015 adalah proses dimulainya penggenangan bendungan jatigede, namun kepercayaan Warga Cipaku sih kampung mereka tidak akan tenggelam. we’ll see 🙂

Cak Nun, dalam buku “Markesot Bertutur Lagi” juga menyentil fenomena tersebut sebagai berikut

“Anak – anak KPMb lebih pening lagi karena memasuki bulan Suro ini Markesot menjadi Betoro Kolo Munyeng. Dia taruh sebuah batu hitam sebesar jempol kaki di tengah ruangan, lantas dia berjalan berputar – putar mengelilinginya sambil mulutnya umik – umik.

“Apa yang dibacanya itu?” salah seorang berbisik.

Setelah didengar – dengarkan dengan saksama, ternyata Markesot membaca syahadatain sambil munyeng – munyeng itu.

“ Syahadatainnya sih bagus. Tapi tarekat cap opo!” celetuk lainnya, di tengah makin banyak tetangga yang ternyata berduyun – duyun melihat Markesot gila.

Markembloh mencoba menjelaskan, “Ini bulan baik. Markesot berlatih memusatkan semua gerakan hidupnya berpedoman hanya pada titik syahadatain. Itulah yang menyebabkan Adam bertemu Hawa lagi sesudah diusir dari Surga. Ibrahim tidak terbakar api. Yunus nongol dari mulut ikan raksasa. Musa lolos dari kejaran fasis Fir’aun. Mudah – mudahan Markesot juga lolos dari kemungkinan gendheng….”

Think about ourselves


Video yang saya share di bawah ini mungkin hanya memiliki durasi 3 menit. Namun, video ini mungkin menggambarkan akar masalah dari apa yang dialami banyak orang dewasa ini. Menarik apa yang dikatakan Jon Jandai pada video ini :

The system in the world now don’t let people have time to think about themselves

Segala hal dalam hidup seolah – olah sudah ada alurnya. Kita lahir, bertumbuh semakin besar, lalu kita sekolah, lanjut ke bangku kuliah, mencari pekerjaan, menikah, mencari pekerjaan yang lebih baik lagi, dst.

Namun, Jon Jandai telah membuktikan bahwa jika kita tidak mengikuti pusaran arus yang diciptakan oleh kehidupan saat ini dan kita melihat kembali kepada diri kita sendiri, kita akan tahu apa sebenarnya yang ingin kita lakukan. Lebih dari itu, kita juga memilii waktu untuk melakukan apa yang sebenarnya ingin kita lakukan.

Lega Calcio


Layaknya Doraemon dan Dragon Ball, Lega Calcio (liga italia – red) juga adalah salah satu acara tv yang menemani saya ketika kecil. Jika Doraemon dan rekan – rekan kartun lainnya menemani di minggu pagi, maka giliran Lega Calcio lah yang menemani saya di minggu malam.

Alessandro Del Piero, Gabriel Batistuta, George Weah, Christian Vieri, Giuseppe Signori adalah beberapa nama yang dulu familiar dengan kehidupan masa kecil saya bergantian dengan nobita dan son goku menemani hari minggu saya. Membuat Hari Minggu menjadi hari yang ditunggu – tunggu.

Namun, pamor Lega Calcio jauh menurun saat ini. Dari Liga paling populer sedunia perlahan – lahan posisinya disalip oleh Liga Inggris lalu Liga Spanyol dan bahkan tidak mungkin akan tersalip juga oleh Liga Jerman dan Liga Prancis. Penurunan pamor Lega Calcio salah satunya diakibatkan oleh gaya bermainnya yang cenderung lambat, sangat tidak atraktif jika dibandingkan dengan gaya bermain ala kick and rush nya Liga Inggris. Ditambah dengan kondisi ekonomi tim – tim Italia yang jauh tertinggal dibandingkan dengan Liga Inggris dan Spanyol, sehingga wajar jika para pemain top eropa lebih memilih bermain di Inggris dan Spanyol.

Hal tersebut diperparah dengan prestasi tim – tim Italia untuk bersaing di level Eropa. Di pentas Liga Champion tim Italia terakhir yang menjadi juara adalah Inter Milan di Tahun di tahun 2010. Untuk Liga Eropa (satu tingkat di bawah Liga Champions) bahkan lebih lama lagi, terakhir tim Italia yang juara adalah Parma di tahun 1999.

Kondisi tersebut tetap berlangsung hingga musim ini. Di LIga Champions, Italia hanya menyisakan 1 tim yaitu Juventus (dari semula 3 tim). 2 tim lainnya yaitu AS Roma tersingkir di fase grup, sedangkan Napoli malah tersingkir lebih dulu di babak kualifikasi.

Hal menggembirakan ketika melihat tim tim Italia “berkuasa” di Liga eropa. Bayangkan, dari 16 tim yang berada di babak perdelapan final, Italia mengirimkan 5 wakilnya. Mudah – mudahan saja mereka terus dapat bersaing dengan tim dari negara lain sehingga dapat memunculkan juara dari tanah Italia. Sehingga dapat menaikkan kembali pamor sepakbola Italia.

-bcl-

Kontribusi


Dalam suatu pengajiannya yang saya lihat dengan mata kepala saya sendiri via youtube, Cak Nun bercerita tentang “Lebih mulia mana? Peci atau Sandal??”

Peci aka kopiah adalah sebuah benda yang biasanya menjadi identitas seorang muslim. Sedangkan sandal adalah sesuatu yang digunakan salah satunya untuk pergi ke masjid menunaikan ibadah shalat. Fungsi lainnya tergantung kreativitas setiap orang, terkadang dijadikan ganjal pintu, nimpukin ayam tetangga, atau bahkan terkadang sandal dianggap sebagai senjata pembunuh masal…bagi para kecoa.

Orang memakai peci biasanya menunjukkan bahwa dia ada seorang muslim. Malah terkadang orang – orang akan memiliki persepsi bahwa orang yang berpeci biasanya rajin beribadah. Apalagi jika ditunjang dengan jenggot yang menghangatkan dagunya.

Orang yang memakai sandal adalah…mmm ya biasa aja.

Namun Cak Nun mengatakan bahwa sandal jauuuuh lebih mulia ketimbang peci. Kenapa? Karena peci tidak memberikan kontribusi apa – apa. Hujan ya tetap kehujanan. Panas ya tetap kepanasan.

Sedangkan sandal melindungi kita dari rasa sakit dan kotoran ketika kita hendak ke masjid.

Jika kita berwudu di rumah. Lalu kita pergi ke masjid untuk shalat menggunakan peci namun tidak menggunakan sandal, tentu kita akan berwudu kembali karena kaki kita kotor. Sedangkan kalau kita pakai sandal tapi tidak menggunakan peci apakah kita akan wudu kembali? Tentu saja tergantung, apakah kita buang angin atau tidak :p. Kalau tidak ya tentu saja kita tidak perlu lagi untuk berwudu.

Contoh di atas menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang tidak dilihat dari hal – hal yang membuat kita terlihat “wah” tapi dari sebanyak apa kontribusi yang kita lakukan.

Saya jadi teringat dengan tukang jamu gendong yang biasa saya konsumsi jamu buatannya. Ketika itu saya iseng bertanya

Saya : “Bu, ini jamunya dari apa aja sih bu?”

Ibu Jamu : “oh macem – macem mas, ini ada sambiloto, bratawali, jahe, ….”

Saya : “Oh ini ada terus ya bu bahan – bahannya di pasar?”

Ibu Jamu : “ini mah saya ngirim dari jawa mas. Saya ada lahan disana yang ditanemin tanaman – tanaman rempah”

Saya : “Wah nanem sendiri bu di tanah sendiri? Hebat banget bu”

Ibu Jamu : “Iya mas Alhamdulillah. Ada juga sih tanah di cikalong. Ditanem rempah juga. Buat jaga – jaga aja siapa tau yang dari jawa telat ngirim”

Dalam hati saya salut sama ibu ini. Beliau sudah melaksanakan kemandirian dalam menjalankan usahanya. Beliau tidak tergantung kepada pasar. Dia tidak peduli harga rempah berfluktuasi atau bergantung ada tidaknya bahan tersebut di pasar.

Kebayang ya ketika harga sambiloto mahal masa dia ngeramu jamu tanpa sambiloto. Atau ketika bratawali lagi ga ada barangnya di pasar karena sedang tidak ada yang panen lah masa dia mau libur.

Pembicaraan berlanjut

Ibu Jamu : “Iya mas sebenernya bisa aja saya tinggal di rumah atau balik ke jawa sekalian, Cuma ga enak saya sama langganan disini suka nanyain jamu saya terus. Katanya badannya enak klo udah minum jamu dari saya”

Wow…semakin salut saya sama ibu ini. Beliau berjualan jamu yang sangat terjangkau bagi kantong saya. 3 ribu per gelas. Dan dia menjajakan jamunya dengan cara berjalan kaki sambil menggendong jamunya. Yang mana pasti berat dan sangat melelahkan. Tapi demi kepuasan pelanggan dia tetap lakukan itu setiap hari. Sebuah kontribusi yang bisa dia berikan kepada orang lain. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Selain membuat sehat para pelanggannya, beliau juga secara tidak langsung turut melestarikan salah satu budaya Bangsa Indonesia sehingga sampai saat ini saya masih bisa bertemu dengan Tukang Jamu Gendong. A woman who sold a beverage made from various herbs by carrying them in her back.

Menjadi pelecut semangat juga bagi saya untuk terus memberikan kontribusi melalui apapun yang saya bisa lakukan dengan ilmu dan pengetahuan yang saya miliki. Karena puncak dari tujuan hidup setiap manusia adalah seberapa besar kontribusi yang diberikan untuk orang lain, bukan seberapa banyak yang bisa didapatkan untuk memenuhi kepuasan pribadi.

Semoga Ibu dan semua Tukang Jamu Gendong selalu diberikan kesehatan dan keberkahan oleh Allah Swt. Amiiin

-bcl-

Kabayan Jadi Presiden


Jadi saya sama istri saya pernah nonton pertunjukan seni dari mbah Sudjiwo Tejo di Taman Ismail Marzuki. Nah setelah selesai pertunjukan, saya mampir ke salah satu stand yang ada di luar ruangan pentas tersebut. Ternyata stand itu menjual rekaman – rekaman (legal) pertunjukan – pertunjukan yang sebelumnya pernah dipentaskan juga di Taman Ismail Marzuki. Iseng saya membeli 1 DVD. Judulnya “Kabayan Jadi Presiden”.

Jadi cerita dari “Kabayan Jadi Presiden” itu seru loh. Seperti kita ketahui yang namanya Kabayan itu kan tokoh yang sederhana, lucu, dan merakyat. Sebelum pentas dimulai, Mas Butet Kertaredjasa yang merupakan tim kreatif bersama Mas Djaduk Ferianto dan Mas Agus Noor bercerita kalau tokoh Kabayan itu tidak hanya milik orang sunda. Di Madura ada juga tokoh kabayan dengan nama Cak Sakera, di daerah lain juga ada dengan nama yang berbeda – beda.

Nah dalam “Kabayan Jadi Presiden” ini dikisahkan tetap Kabayan dengan kesederhanaannya, kelucuannya, keluguaanya, dan kejujurannya gelisah dengan kondisi Indonesia. Kabayan mulai sering berbicara tentang kegelisahannya kepada Nyi Iteung istrinya sampai – sampai Nyi Iteung merasa kesal dengan kabayan dan menyarankan untuk tidak perlu lah ikut politik. Lebih baik menikmati keindahan dan kenyamanan desanya yang Nyi Iteung sebut sebagai “Sepotong Surga yang masih bisa kita jaga”.

Namun kabayan tetap tidak bergeming, dia tetap terus saja membahas politik. Dikisahkan juga di pentas ini karena sifatnya yang merakyat, kabayan disenangi oleh rakyat Indonesia.  Terbukti pada bursa calon presiden yang saat itu akan dilakukan nama kabayan ternyata menjulang berada di posisi teratas. Hal tersebut membuat gelisah PARTAI CAKCAK BODAS. Sebuah partai yang memiliki keinginan yang besar dan tidak tertahankan untuk bisa berkuasa di negeri itu. Oh Iya, Jabatan tertinggi dari partai cakcak bodas adalah Pembina partai yang diperankan oleh Meriam Bellina. Jadi pemimpin tertinggi di partai cakcak bodas adalah seorang wanita. Ini mah info aja.

Setelah berdiskusi panjang lebar pada rapat partai yang  dihadiri oleh Pembina Partai, Ketua Partai, Seksjen partai, dan para anggota partai lainnya memutuskan sebuah strategi jitu “Kita ajukan saja si kabayan sebagai presiden. Tapi nanti yang atur pemerintahan adalah kita. Kita pengaruhi kabayan agar mengikuti saja apa yang kita perintah. Yaaa semacam presiden boneka lah dia”. Strategi disetujui. Disepakati pula bahwa yang bertugas melobi kabayan adalah seksjen partai yang diperankan oleh Joe Project Pop.

Sang Seksjen partai lalu bertandang ke rumah kabayan. Dia lobi sini dan lobi sana si kabayan. Dia janjikan bahwa dengan mengajukan diri sebagai presiden melalui partainya maka tidak akan ada yang bisa menghalangi kemenangan dia.

Kabayan awalnya bingung. Menurut istrinya Nyi Iteung lebih baik dia tolak. Dia bahkan sempat meminta petunjuk kepada kabayan – kabayan sebelumnya. Kabayan yang diperankan oleh Kang Tisna Sanjaya meminta petunjuk kepada Kabayan Didi Petet dan Kabayan Oni SOS. Setelah berpikir panjang. Akhirnya dia setuju.

Sesuai dugaan…Kabayan menang secara mutlak. Jadi lah dia jadi presiden…

Eh tapi ga sampe situ ceritanya..Setelah dia jadi presiden mulai lah partai cakcak bodas mempengaruhi kabayan sang presiden. Namun berbeda dengan presiden boneka yang lain (itu juga kalo ada), Kabayan tidak terpengaruh dengan partai cakcak bodas. Dia hanya tunduk kepada konstitusi dan kehendak rakyat. Setiap ada program yang diajukan dengan tujuan yang tidak jelas dan tidak logis akan dia tolak. Entah itu berasal dari partai pengusungnya ataupun partai lain akan dia tolak. Yang dia pentingkan adalah kebutuhan rakyat.

Partai Cakcak bodas yang kesal karena dia dikhianati oleh bonekanya sendiri menjadi murka dan melakukan IMPEACHMENT. Kabayan dijatuhkan dari jabatan presiden oleh partainya sendiri. Kabayan dilengserkan dari jabatannya sebagai presiden sebelum dia menyelesaikan masa baktinya selama 5 tahun. Eh ga dijelaskan sih klo di negeri kabayan sana berapa lama jadi presiden. Ya anggaplah sama dengan Negara Indonesia.

Ya gitu deh pokoknya cerita dari Kabayan Jadi Presiden….

-bcl-

%d bloggers like this: